CakNun.com

Pasca Gua Sophisticated

Saya tidak tahu kenapa saya baca tulisan al-Mukarrom Cak Zakki Kangen Cium Tangan Mbah kok pelupuk mata saya basah. Ada kekuatan emosi yang sangat besar yang ada di dalam diri ini yang muncul tanpa ada kontrol. Mengalir begitu saja.

Walaupun saya tadi sudah sempat bercengkerama dengan Cak Dil beberapa saat bersama sang redaktur senior dan beberapa jamaah Padhangmbulan. Toh itu tidak bisa membendung aliran air mata yang menggenang di pelupuk mata ini.

Tidak ada sepuluh menit kami berbincang, tetapi perbincangan kami bermakna sangat dalam dan positif. Saya tadi baru keluar dari ‘gua sophisticated (istilah dari al-Mukarrom Cak Zakki), dan disambut Cak Dil, redaktur senior, Adin, dan beberapa kawan dari Padhangmbulam. Kemudian ‘ditodong’ dengan update terkini dari Cak Nun.

Saya bilang tadi di dalam gua, sempat ketemu Bu Nyai dan ngobrol, dan tak lupa membicarakan rencana Cak Nun yang akan segera keluar dari ‘gua sophisticated’. Termasuk beberapa hal yang akan kita kondisikan dengan teman-teman Progress.

Saya pun kemudian pamit, untuk meneruskan gawean saya.

“Jangan lupa gaess… setorannya,”sang redaktur senior mengingatkan sekaligus menagih. Seperti halnya setoran hapalan ayat murid pondok pesantren kepada ustadznya. Saya sebenarnya agak ‘endho’ dengan alasan sedang buntu!

“Saya hanya akan menulis 2-3 kalimat ya…” kilah saya.

“Eitsss jangan lupa gaess, beliau (Cak Nun) pernah berpesan: kalau kita sungguh-sungguh mau menulis, dari satu kalimat terakhir yang kita tulis, akan muncul lima kalimat terusannya yang diantarkan oleh malaikat!” jawab sang redaktur.

Saya pun sebenarnya akan ngintip bagaimana Majid setor tulisan ke redaktur. Tetapi kok ya belum nongol juga. Saya segera menarik keyboard dan mulai menulis seadanya, sambil mendengarkan musik bossanova dengan sangat pelan.

Di tengah saya menulis, datang WA masuk, “Pesanggrahan sudah siap, tinggal menunggu ACC tuan rumah ‘gua sophisticated’ untuk mengantar Cak Nun ke pintu keluar gua ini.”

“Alhamdulillah!” balas saya.

Saya ingkul untuk segera menyerahkan setoran ini ke redaktur senior!

Yogyakarta, Rabu, 2 Agustus 2023

Lainnya

Sandyakalaning Modernitas

Sandyakalaning Modernitas

Ketika Nadiem Makarim — di depan Istana, setelah pasti diberi amanah sebagai Menteri Pendidikan — dengan ringan menyatakan: “saya tidak tahu masa lalu, tapi saya tahu masa depan” maka sesungguhnya Ia menegaskan jati dirinya sebagai penganut gigih “modernisme” yang agenda di kepalanya adalah melanjutkan modernisasi bangsa Indonesia melalui pendidikan.

Korupsi Selama Covid

Korupsi Selama Covid

Berapa rupiah uang yang dituangkan dari kantong dana Negara untuk keperluan penanganan Covid-19?