1979

Menghisap Kelembak Menyan *)

Dari Kumpulan Puisi Nyanyian Gelandangan

Sang anak tak lagi percaya
Khotbah Ramanya makin terasa hampa
Anak-anak hanyalah warisan Bapak Ibunya
Juga anak-anak yang bingung merumuskan dirinya.
Kabarnya sang Rama memasukkan jagat semesta
Ke dalam relung meripatnya
Merasukkannya ke dalam darah
Meluncur ke segenap raga
Terbang ke angkasa jiwa
Dan bertempat tinggal di sukmanya
Diam dalam dada.
Ia menjala angin
Menjaring awan
Mewadahi tumpahan hujan
Diaduk dengan api
Menjadi minuman di prana
Tapi sang anak telah direguk oleh badai
Hari esok mereka dirampas
Masa depan mereka direbut
Pikiran mereka dikebiri
Wawasannya dikelabui
Anak-anak itu tiba-tiba merasa asing
Kepada dirinya sendiri
Kaget dan membelalakkan mata!

“Thole, kene rungokna!
Dak kandhani piye carane urip mulya
Urip sing bener”

“Inggih Rama
Urip sing bener lan keblinger!”

“Jabang bayi!
Keblinger dengkule wedusmu!
Iki serius
Rungokke: Dadia pangertenmu
Sugih tanpa banda
Ngluruk tanpa bala”

“Inggih Rama, dados pangerten kula
Pangkat tanpa tulada
Mangan kentekan sega!”

“Mm ya wis. Wong tuwa kudu sareh.
Saiki rungokke maneh:
Sekti tanpa aji
Menang tanpa ngasorake”
“Manak tanpa ari-ari
Nganggep liyan kaya wudhele dhewe!”
“Hus! Iki tenanan Le!”
“Niki nggih tenanan Rama
Ana kodok main jaipongan
Ula sawa mangkat sekolah
Para wong tuwa gagal anggone mulang
Becik lan ala dadi angel dipilah-pilah!”
“Wis, wis aja diteruske
Batinmu lethek, Le!
Pinternya cuma teriak rame-rame
Nafsu besar tenaga kere
Tak paham sepi ing pamrih
Rame ing gawe!”
“Rama! Kalau ada buah yang lethek
Pohonnya pasti ada yang lethek lagi
Siapa yang bikin anak
Kalau bukan Bapaknya
Dosa bagi Bapak yang menanamkan benih
Tanpa nurani yang jernih”
“Edan! Kok malah ngutuk!
Kamu ini, Le, malas kerja
Tidak nriman apa adanya
Tidak legalila”
“Nyak! Legalila gimana
Kalau diperlakukan semena-mena.
Zaman yang rakus, Rama.
Tak mengenal kewajaran kerja
Hidup yang penuh pencurian
Tidak mengajari nriman
Jika angin penuh perbudakan
dan penindasan, meskipun diam-diam
Nurani tak bakal rela membiarkan
Sebab kami bukan kuda tunggangan
Rama!
Waktu telah bergolak
Tidak setenang itu air telaga
Langit batinku retak
Tak bisa lagi diucapkan
Kata legalila
Maaf, Rama!
Tak mampu lagi aku menatapmu
Sebab kami berpihak ke masa depan!”

Gempa meretakkan jiwa tanah ini
Badai menggulung, hujan deras melanda
Masa silam tertimbun
Tinggal rontal-rontal rahasia

Kehidupan menuju persamaan
Betapa pun penuh kesulitan
Sarat batu kerikil di jalan
Selama kurun yang panjang

Berpuluh-puluh tahun manusia
Belum tentu berhasil menggambar
Dirinya sendiri

Tapi mereka mulai meninggalkan rumahnya
Berpaling dari berpuluh warisan nilai
Berburu dirinya sendiri
Pepohonan bergeletar
Kulit-kulitnya mengelupas
Daun-daunnya ditiup angin ke beribu arah
Bersahut-sahutan
Bergesekan, bertabrakan satu sama lain
Tanah bergolak
Air sumur mendidih
Akar-akar mengelupas dan terluka.