CakNun.com

Hasta Banda Maiyah

Anak-Putu Mbah Nun

Maiyah merupakan tangkaran atau tetarangan mbah Nun untuk mendadar menatar menetaskan manusia-manusia wajib. Manusia yang tidak kehilangan insting bertahan hidup, punya naluri pengabdian kepada Gusti Allah, juga tak kehilangan minat kekhalifahannya. Naluri ini ditingkatkan lagi oleh beliau Mbah Nun untuk tumbuh sebagai kesadaran akal dan budi pekerti yang bertanggung-jawab. Maka setiap anak putu dinaungi dengan ruang sinau bareng dan diikat dengan segitiga cinta. Mbah Nun betapa gemati terhadap benih-benih yang akan tumbuh menghadapi masa ke depan

Nilai Takwa

Islam telah menganjurkan bahwa manusia berada sepadan dalam level yang sama dan yang paling baik adalah yang paling bertakwa. Maka perubahan mendasar mulai dibangun kembali. Sejak jaman Nabi Ibrahim fondasi pengabdian kepada ilahi Robbi ditinggikan lagi. Namun lagi-lagi manusia memiliki tanggapan atas anjuran ilahiah dengan melenceng, anjuran yang hadir melalui para utusan selalu berusaha disesuaikan dengan selera diri bukan hati nurani. Aturan coba diakali, hukum dimanipulasi.

Di jaman sekarang ini, manusia berjubel bersama jutaan ambisi, jutaan kepentingan, berlapis-lapis metode sihir dan hegemoni. Di jaman ini manusia digiring untuk menjadi arang-arang hitam menuju dapur pandhean. Semua diberikan ilusi kuasa, imajinasi sebagai influencer dilengkapi dengan follower. Kasta rendah _yakni yang sejak sekian masa tak kunjung mencecap rasa kuasa_ akan berebutan memanfaatkan kesempatan menjadi raja ini. Kini tanpa sengaja kasta mulai muncul lagi, kasta post-modern mengemuka dengan memperlihatkan karakter atau pembawaan dirinya, yang apabila digolongkan bisa terdiri dari lima golongan.

Golongan terendah adalah golongan yang UWUH. Manusia yang tidak punya produk yang berguna, ia mengandalkan sektor lahiriah untuk mengais-ngais sisa-sisa dan menjumput remah-remah. Jika berkuasa menuntut jatah, cipratan. Jika tak berkuasa pun menuntut sedekah, santunan. Jika tak mendapatkan kemudahan segera membikin onar, menebar fitnah, menyulut polemik, mereka hidup di dunia problematik. Mereka tidak tumbuh, sebab lemah pada sektor pertumbuhan intelektual dan lemah pula pada sektor pertumbuhan mental. Golongan ini malah banyak pengikut sekarang. Golongan ini disemarakkan oleh orang kaya ataupun papa. Orang yang merasa berkedudukan tinggi maupun yang tanpa kedudukan. Saya menduga jenis ini adalah tipe manusia Haram.

Golongan berikutnya adalah golongan NIRUWUH. Berisi manusia yang jika ia ada, tidak menambah kebaikan, dan jika ia tidak ada pun tak ada yang mencarinya. Pada jaman sekarang adalah orang yang ikut-ikutan mengejar predikat dan posisi eksis, namun tak didukung kemampuan apapun, ia terus berpura-pura menjadi bagian mayoritas untuk terasa berkelas, namun ia sendiri seolah tak punya identitas sebab ia sibuk mengubah warna kulit, rambut, dan mata hingga lupa warna asli kulitnya. Mungkin inilah jenis manusia MUBAH.

Golongan berikutnya adalah golongan TANUWUH. Golongan manusia yang punya kehidupan yang baik, ia tak mengandalkan kepandaian fisik, namun telah memilih menggunakan kepandaian intelektual dalam arti licik dan penuh tipu daya. Ia punya kesejahteraan yang baik, punya kesempatan untuk bisa berguna bagi oranglain, namun tidak melakukannya, ia lebih menyalurkan kepada hal-hal yang memungkinkan kekuasaannya langgeng. Golongan ini lebih sedikit pesertanya daripada yang pertama meskipun secara jumlah cukup banyak. Celakanya golongan ini banyak berambisi menjadi penguasa, jika mereka berkuasa akan penuh kemunafikan. Mungkin inilah jenis manusia MAKRUH, lebih baik ia tidak ada daripada keberadaannya memicu polemik.

Golongan berikutnya yang lebih tinggi nilainya adalah NUWUH yakni golongan yang memiliki keberanian memilih tumbuh dengan menempuh cara hidup yang baik meskipun penuh perjuangan dan menganggung derita. Ia menggunakan unsur lebih kompleks dalam memerankan kehidupan, ia gunakan kepandaian kinestetik, kepandaian intelektual, dan juga kepandaian mental. Golongan ini berlatar-belakang posisi dan ekonomi yang bervariasi. Yang dari ekonomi kecil sering ia menjadi ibnu sabil dimana ia berusaha menjalankan hidup sesuai jalur yang benar, namun tak jarang kehabisan bekal, tumbang sebentar namun bangkit lagi. Sedangkan yang dari ekonomi tinggi ia dirusuhi oleh golongan rendah yang berusaha meminta remah-remah. Golongan NUWUH ini lebih sedikit pesertanya karena dianggap merepotkan diri-sendiri dan tak menguntungkan. Tiga unsur kepandaiannya sesungguhnya bisa memuslihati orang lain agar tergapai keuntungan materi yang baik, namun tak dipilihnya karena tidak sejalan dengan nurani pengabdiannya kepada Tuhan. Mungkin ini tipe manusia SUNNAH.

Golongan berikutnya yang lebih tinggi adalah golongan TUWUH yakni golongan yang telah tumbuh ibarat pohon rindang, memiliki kesadaran pengabdian kepada Tuhan, kepandaian batin, kepandaian mental, kepandaian intelektual, kepandaian kinestetik, untuk mengemban kehidupan. Ia tangguh secara fisik, kuat secara mental, cemerlang dalam kepandaian dan wawasan, tunduk secara jiwa dan raga kepada Tuhan. Golongan ini lebih sedikit lagi pesertanya. Golongan ini tidak banyak diambil oleh kebanyakan orang. Golongan ini disemarakkan oleh orang dengan jiwa abdillah dan jiwa bertanggung-jawab sebagai khalifah, tidak mudah dibeli oleh kekuasaan, dibujuk kekayaan, diimingi kemelimpahan kesenangan dunia. Golongan ini kasta tertinggi manusia, ia bisa berangkat dari jelata bisa pula dari kalangan berposisi sejahtera. Inilah mungkin yang dimaksud Mbah Nun sebagai manusia WAJIB.

Dua Golongan

Kasta tersebut di atas tadi merupakan penggolongan sangat kasap atas berlapis-lapis golongan pembawaan diri manusia. Dalam penggolongan yang lebih ringkas lagi, sesungguhnya dua golongan saja. Yakni golongan Syaithoniah dan golongan Malaikah. Golongan syaithoniah ini memiliki ciri semakin meninggalkan titah kemanusiaannya. Sementara golongan Malaikah adalah yang semakin mendekat dengan galih kemanusiaan dan berusaha tumbuh dan memendarkan nur kemanusiaannya dengan benderang.

Golongan syaithoniah berusaha terus mencari peserta baru sebanyak-banyaknya, berbagai cara digunakan untuk bikin orang-orang semakin tumpul dan dungu. Orang-orang dibuat mudah bingung dengan memakan riba. Orang-orang dibuat sempit, nestapa dan putus-asa dengan dibisiki untuk tidak berhasrat pada usaha dan betapa tidak enaknya berjumpa kesukaran. Orang-orang dibuat malas dengan dihembusi gairah konsumtif didukung berbagai kemudahan dan nina bobo yang membuainya. Orang-orang dibuat tidak peka dengan dijejali berbagai macam hiburan siang dan malam bahkan hiburan tentang musibah manusia. Orang-orang dibuat dungu dengan berbagai suplemen, makanan dan madat. Orang-orang dibuat salah orientasi dengan dicekoki berbagai model perjuangan di film, opera sabun, romansa, gaya hidup, trending, showbiz, role model yang salah kaprah. Orang-orang dilatih bersaing dan berkompetisi dengan bermacam lomba dan ilusi juara, tampil mengemuka sambil bersorak gembira di atas luka lawannya. Semua dibentuk agar nilai manusia menjadi kian rendah, menjadi semakin rendah setiap hari, hingga menjadi yang serendah-rendahnya. Semua hasutan itu akan mudah ditangani dengan kepandaian berpuasa. Anjuran Simbah:

“Berpuasa setiap hari, lebaran setiap saat”

Golongan Malaikah berusaha memendarkan cahaya benderang dalam kehidupan. Berusaha supaya semakin banyak orang tercahayai. Berusaha mempertahankan fitrah diri, mengatur disiplin dengan latihan tak henti, Melatih hati, dengan mengingat ilahi Robbi. Melatih pikiran dengan persoalan, melatih akal dengan nalar yang benar, melatih menjaga porsi, melatih kewaspadaan diri yang pintu masuknya keserakahan atau nafsu memiliki. Golongan yang mengkhalifahi setiap fasilitas dengan rasa syukur. Baik fasilitas kesusahan yang mendewasakan maupun fasilitas kegembiraan yang menghibur hati. Etos berpuasa diterapkan dalam setiap peristiwa, karena berpuasa melatih mengambil seperlunya, menghindari yang tak perlu, mendapat sesuai haknya, melakukan sesuai kewajibannya. Tidak mudah dibuai makanan meskipun lapar, tidak mudah dibuai tilam meski mengantuk. Tidak mudah dibuai. Bolehlah kiranya menyimak kembali uraian Mbah Nun tentang puasa sebagai “tarekat wajib” dalam kebudayaan.

Majlis Ilmu Manusia Wajib

Apabila hidup ini diisi oleh manusia wajib, maka bumi akan ditaburi karunia langsung dari langit, karena ekosistem khalifah bumi menjadi prioritas Kasih Sayang Allah SWT secara khusus, intim, rahim. Jika bumi diisi oleh separuh manusia wajib, maka bumi akan diisi oleh khalifah-khalifah yang mumpuni dan bisa menguatkan kesejahteraan bumi dalam jangka panjang. Jika bumi diisi oleh seperempat manusia wajib, maka atas nama Kasih Sayang Allah, bumi dititipi dengan para Auliya yang tersembunyi maupun yang tampak untuk meringankan beban dan menanggung sekian tugas yang seharusnya disangga oleh khalifah bumi. Jika bumi diisi oleh kurang dari seperdelapan manusia wajib, maka bumi akan menjadi hunian yang tidak kondusif, penuh penyakit dan najis. Pertikaian mengemuka, kedamaian hanya impian, pejuang kebaikan dianggap aneh.

Lantas bagaimana bumi kita saat ini? Tampaknya krisis manusia wajib makin hari makin melanda. Banyak yang berbondong-bondong merendahkan dirinya dan menjadi manusia mubah bahkan mungkin manusia haram. Namun demikian tak sedikit pula orang-orang dari penjuru bumi yang teranugerahi hidayah, tercerahkan petunjuk dari Gusti Allah SWT dan tumbuh menjadi pejuang yang andal. Bahwa Mbah Nun pernah menyampaikan lima tipikal manusia, yakni:

Manusia Haram: adalah tipe manusia yang sangat parah karena keberadaannya sangat tidak diinginkan, bahkan jangan sampai ia ada, karena keberadaannya hanya merugikan lingkungannya. Saya menyebutnya ‘UWUH/WUWUH’: yakni tumpukan sampah, yang cenderung tak punya benih.

Manusia Makruh: adalah tipe manusia yang keberadaannya tidak apa-apa di lingkungan sekitar, namun akan jauh lebih baik jika tidak ada. Saya menyebutnya ‘NIRUWUH’: artinya tak bisa tumbuh.

Manusia Mubah: adalah tipikal manusia yang oranglain tidak peduli apakah ia ada atau tidak ada, tidak ada manfaatnya di lingkungannya. Ada atau tidak adanya, tak mempengaruhi sedikit pun bagi orang-orang sekitarnya. Tipikal manusia seperti ini adalah manusia-manusia selfish yang hanya mementingkan dirinya sendiri tapi tak pernah mau peduli terhadap orang lain. ‘TANUWUH’: tak mau tumbuh.

Manusia Sunnah: adalah tipe manusia yang keberadaannya tidak mesti ada di lingkungan sekitar, namun jika ada akan lebih baik. Keberadaannya membawa manfaat bagi orang lain, dan kepergiannya tak mengurangi karena masih ada orang-orang yang dapat menggantikannya. Saya menyebutnya ‘NUWUH’: mulai bertumbuh.

Manusia Wajib: adalah tipe manusia yang keberadaannya wajib ada, tidak bisa tidak ada karena sangat dibutuhkan di lingkungannya. Manusia tipe ini mengandung manfaat bagi orang lain. Dan apabila dia tak ada maka orang-orang kehilangannya

sementara tak ada yang bisa menggantikannya. Saya menyebutnya ‘TUWUH’ telah tumbuh dengan rimbun.

Dhawuh Mbah Nun ini teraba mengandung gegadhangan (harapan dan do’a, gadang-gadang), agar anak cucu Maiyah berani mengambil tipe terbaik dalam titah kehidupannya. Rela memenuhi panggilan tugas sebagai manusia wajib. Manusia yang memenuhi kadar kemanusiaan yang tak mudah pudar, malah terus memendar. Manusia yang mungkin justru tak bakal diapresiasi dengan baik oleh manusia-manusia makruh, apalagi manusia haram. Mereka tidak mampu melihat kedalaman sebab kedangkalan telah menjadi ekosistem alaminya. Tapi manusia tangguh, cerdas dalam mengabdi, kreatif dalam ber-tabligh, menjunjung etos tanggung-jawab serta kejujuran, dan berani berpijak pada kebenaran yang Allah menjadi Ridhlo untuk memberi pertolongan kepada kelangsungan bumi. Inilah manusia-manusia wajib, yang jika tidak lagi ada maka bumi hanya tinggal menunggu kepunahannya saja.

Anak cucu Maiyah di deder Mbah Nun bak benih-benih yang diharapkan unggul dan tumbuh bagus melanjutkan keberlangsungan berkah Gusti Allah kepada Bumi. Anak cucu ini disiapkan untuk menghiasi bumi sebagai manusia-manusia wajib, manusia yang tidak ingin berhenti berjuang membangun kedekatan kepada Allah dan merapatkan cinta kepada Rasulullah. Betapa Simbah sangat indikatif mengupayakan hal ini sejak lama, membangun manusia yang kempel dan empan papan, menggumpal bulat dalam tekad dan pandai menempatkan diri.

Akhir-akhir ini, penurunan kadar nilai manusia di muka bumi meluntur. Yang sesungguhnya kezaliman menjadi kebanggaan, dan diselebrasi menjadi kelaziman, orang-orang ini bertambah jumlahnya yang sebagian besar dari mereka muncul dari masyarakat yang mengaku paling bermartabat. Di banyak negara barat, gerakan kegelapan yang berlindung di bawah payung pelangi ini mendapat perlindungan serta penjagaan. Mereka melakukan perayaan kemanusiaan yang telah bobol, dengan dalih hak asasi, namun selalu saja dengan dobol standar dan hipokrit. Di satu sisi mereka menuntut pengakuan dan di sisi lain menolak orang yang berbeda pendapat dengannya. Sikap culas seperti ini biasanya muncul karena bentukan, setelah sekian lama dihipnotis oleh pemahaman bodong. Hingga mereka tak lagi mampu mengingat siapa dan bagaimana menjadi lazim. Mudah bertingkah lancang mengusik cara pandang orang-orang yang berseberangan. Korban hipnosa masal ini juga terjangkit pada para buzzer yang mungkin menduga sedang menjadi pahlawan dunia akhirat. Pihak yang masih menjaga minat murni manusia, masih teguh menjaga fitrahnya, pasti akan terganggu dan terusik dengan gerakan sampah warna-warni ini. Pejuang uwuh _mereka menyebut diri mereka sebagai ‘pejuang keadilan sosial’ (social justice warrior)_ ini menjangkiti peradaban ke depan, mereka juga diberi ruang membangun dinasti ketimpangan ke ruang-ruang publik, ruang-ruang belajar dan ruang-ruang resmi pemerintahan. Para generasi murni di sana terkepung sampah dari berbagai sisi. Mereka yang bersuara lantang ditentang, yang berteriak keras ditendang. Masyarakat barat yang di kurun beberapa abad terakhir ini mendapat kesempatan untuk ‘menguasai’ bumi dengan berbagai macam jenis agitasi mulai gagap dan lupa diri. Kini tiba saat bahwa mereka telah terbukti menyingkir dari standar kemanusiaan, minggat dari moralitas dan menyerang pagar etika.

Betapa terlihat, bahwa bumi tak layak huni jika terus ditumpuki oleh sampah-sampah yang makin menjulang. Atau justru bumi akan segera diamanahkan kepada generasi baru yang lebih teguh dan bersungguh-sungguh menjalankan titah pengabdian dan berdedikasi dalam menjalankan tugas kekhalifahan.

Tawashshul sebagai Hasta-Banda

Salah satu rasa gemati Mbah Nun kepada anak cucu Maiyah adalah mengupayakan agar anak cucu maiyah dapat bertaut kepada keluarga besar dari seru sekalian alam, keluarga al mutahabbina fillah dari berbagai ‘alamiin, di-keluarga-kan anak cucu maiyah kepada ‘entitas-wajib’ yang telah dan yang masih menjalankan titahnya di bumi dengan pekerti luhur. Digandengkan dengan para Malaikat, Nabi dan Rasul, para Sholihin, para Auliyya, dst. Mbah Nun ingin anak putu Maiyah tetap bertenteram hati meski sedikit jumlahnya. Kemenyatuan pengabdian antar dimensi dan penghuni lapisan langit yang berada di seluruh alam akan menjadi aktivasi ruh, dimana ketenangan dan kedamaian terletak. Ruh yang teraktivasi melakukan proses transmit sekaligus receive. Kekuatan frekuensi menjadi saling terhubung dan saling mengabarkan. Tawashshul sebagai hasta-banda; ikatan kesungguhan, ikatan yang sungguh-sungguh, atau tangan yang saling terikat, tapi di sini bukan tangan yang bergandeng melainkan hati yang sungguh-sungguh saling terpaut. Kesungguhan yang saling terikat menjunjung etos pengabdian dan perjuangan yang sama. Sebagaimana suami-istri yang saling mengikat janji untuk mengarungi kehidupan bersama.

Dengan ketersambungan ini Insya Allah akan membuka ‘mushaf-mushaf’ yang tadinya masih tertutup di dalam dada masing-masing. Ketersambungan kepada kitabullah yang telah ditanamkan Allah SWT oleh Malaikat Jibril. Tanpa disadari, ada fenomena petunjuk yang tergema dalam hati, ada krentek lebih tajam, ada kepekaan lebih baik, ada kewaspadaan lebih cermat. Peristiwa ini merupakan tanda bahwa persambungan yang ditempuh melalui tawashshul membuahkan dampak konstruktif. Persambungan yang berlaku antar dimensi dan setiap lapisan langit adalah persambungan kasih sayang, pertautan cinta. Fisik bisa tak terhubung, pikiran bisa tak merasa tersambung, pandangan bisa terhalang selubung, namun cinta tetap membumbung saling kunjung dan terjalin begitu agung.

Ungaran, September 2023

Lainnya

Keindahan, Kelembutan Hati, dan Air Mata

Keindahan, Kelembutan Hati, dan Air Mata

Akhir-akhir ini Mbah Nun sering membahas tentang keindahan. Menurut Mbah Nun, keindahan adalah hal yang saat ini sering kita lupakan, termasuk dalam soal beragama.

Pilihan Sikap di Tahun Ajaib

Pilihan Sikap di Tahun Ajaib

Di Eropa pada tahun 1665 sampai dengan 1666 sempat terjadi wabah besar, “Great plague of London”.