CakNun.com

Gunung Berapi, Lahar Darah

Cahaya Maha Cahaya: Kumpulan Sajak, 1991

kalau aku berangkat tidur, bumi diriku senyap, hutan dan pesawahanku merunduk, angin berhembus amat perlahan, samuderaku bernyanyi tanpa suara, tapi jantungku menjelma gunung berapi yang melelehkan lahar darah

gunung berapi melelehkan lahar darah, membelah padang-padangku, menjebol jembatan dan tembok-tembokku, melumatkan desa dan perkotaanku, merenggut seluruh bangunan yang berdiri kaku

hamparan awan menjadi galaksi api seribu galaksi api yang membakar rongga dadaku, langitku terbakar menghitam, segenap cakrawalaku retak-retak terkeping-keping menjadi logam-logam beku

maka gagallah kukerjakan tidurku, terkapar kembali ke dunia semu, aku mengerang, aku mengerang, perjalanan yang ini sungguh tak bisa kukendalikan

tak adakah jalan pintas kepadamu wahai Juru Kunci Rahasia? tak kupinta selain satu: tidurku hendaklah merupakan akhir segala pintu

dalam penuh cemas cintaku, dengan kurantai sendiri pergelangan tanganku, kulangkahkan kaki memasuki ruang keabadianMu, larut menjadi cahayaMu

kalau aku berangkat tidur wahai Pecinta Agung, bumi diriku senyap, gunung berapi jantungku melelehkan lahar darah, melelehkan lahar darah, mengalir memanjang, mengalir memanjang

hanya penerimaanMu yang bisa menghentikan

1986.

Lainnya

Penyairpun Bukan

Penyairpun Bukan

Penyairpun bukan
Aku hanya tukang
Mengembarai hutan
Menggergaji kayu

54

54

50

50
57

57

Tuhanku
inilah nasib seorang hamba-Mu: seekor ulat yang lunak tubuhnya bergeletar-geletar di permukaan kulit...

71

71