CakNun.com

Doa Kaum Pinggiran

Foto: Adin (Dok Progress).

Minggu pagi-pagi ada sahabat saya ke Sardjito. “Ini saya lagi di Sardjito Mas, sebenarnya pingin masuk ketemu Njenengan tapi ini malah dapat order untuk antar orang….”

“Syukurlah Mas. Karena saya lagi bangsawan (bangsane tangi awan), juga Syukurlah Anda dapat order…”

“Saya berdoa di pintu parkir saja ya, Mas. Semoga Mbah Nun sembuh dan segera bisa menamani kami kami ini kaum pinggiran….”

“Amiiiiin.”

Mungkin maksudnya Kaum pinggiran itu, rakyat kecil, wong biasa. Rakyat ndek-ndekkan. Pol aset Karangtaruna.

Memang itulah yang dilakukan Mbah Nun puluhan tahun: Menemani rakyat di berbagai pelosok. Untuk menumbuhkah harga diri dan optimisme.

Tadi malam di alun-alun Banyumas KiaiKanjeng mewedar ilmu Mbah Nun tentang 5 tipe manusia.

  • Manusia wajib: Keberadaannya wajib ada. Sangat dibutuhkan di lingkungannya.
  • Manusia Sunnah: keberadaannya tidak mesti ada. Namun jika ada itu lebih baik.
  • Manusia Mubah: Orang tidak peduli. Apakah ada atau tidak ada. Kemanfaatan sosialnya tidak ada.
  • Manusia Makruh: Keberadaannya tidak apa-apa ada. Namun sebaiknya jangan ada.
  • Manusia Haram: Keberadaannya sangat tidak diinginkan oleh sekitarnya.

Bagi kami, juga kelompok kaum pinggiran tadi, Mbah Nun adalah manusia wajib. Tapi bagi haters — Mbah Nun mungkin mubah bahkan haram. Tidak masalah. Manusia punya pandangan sendiri terhadap orang lain. Saya — Alhamdulillah masuk manusia wajib: terutama dalam pandangan anakku tok.

Kembali ke doa di depan pintu parkir tadi. Bagaimana konteksnya dengan kemanjuran doa.

Salah satu sifat Allah yang super keren adalah Allah itu Al-Mujib, maha menjawab. Apa yang dijawab oleh Allah? Adalah doa kita, mbatin kita tentang-Nya, cinta kita kepada-Nya, komunikasi kita kepada-Nya.

Yang harus kita asah adalah ketepatan doa kita, kesungguhan kita angen-angen Allah melalui sangka baik kepada-Nya, ngudoroso kita kepada-Nya. Doa dan Amin kita di manapun berada hanya Allah yang Maha Berhak mengabulkan.

Yogyakarta, Minggu 6 Agustus 2023

Lainnya

Tadabbur Lockdown di Maiyah

Tadabbur Lockdown di Maiyah

Ada dua hal di Maiyah yang terbetik di benak saya, ketika rekan Progress meminta saya menuliskan refleksi pandemi Covid-19 untuk jamaah Maiyah.