CakNun.com

Dinamika Kreativitas Komunitas Kenduri Cinta

Bagi saya pribadi, Kenduri Cinta adalah cinta pertama saya dengan Maiyah. Dengan Cak Nun, cinta pertama saya adalah “Kado Muhammad”, yang pada Rabu (9/8) malam, beberapa nomornya dimainkan kembali oleh KiaiKanjeng di Rumah Maiyah Kadipiro. Tentu saja dengan aransemen yang baru. Album ini memang fenomenal. Saat itu masih era kaset, jauh dari teknologi digital, masterpice Cak Nun ini menggebrak belantika musik Indonesia.

Medio 2010, ada beberapa video Kenduri Cinta yang diupload di Youtube. Saya sudah lupa channel Youtubenya. Itulah pertama kali saya mengenal Kenduri Cinta. Menonton rekaman videonya, Cak Nun saat itu menyampaikan kritik tajam kepada Presiden SBY. Kritik yang sangat keras.

Saat itu belum ada buzzer sih, jadi nggak viral. Tahun-tahun itu, Media Sosial baru masuk ke Indonesia, berurutan mulai dari Facebook, Twitter (sekarang X) lalu Instagram. Pamor BlackBerry Messenger masih cukup tinggi saat itu. Hegemoninya belum tergeser oleh Whatsapp. Notifikasi Buzz Yahoo Messenger masih sangat familiar, meskipun masih kalah dengan Ping-nya BBM.

Saat itu, live reportase Maiyahan bisa disimak melalui Twitter (X). Tagar-tagar unik khas Maiyah selalu muncul dari akun-akun utama seperti @kiaikanjeng, @maiyahan, @kenduricinta dan yang lain. Kenduri Cinta sendiri selalu memiliki tagar khas dengan inisial simpul (KC) diikuti bulan edisi gelaran Maiyahan. Misalnya bulan ini Agustus, maka tagar yang digunakan adalah #KCAgustus.

Dari tagar itu bisa kita simak live report Maiyahan. Trending topic Maiyahan itu menjadi sesuatu yang biasa terjadi jika ada gelaran Maiyahan di suatu tempat. Pada saat itu, saya langsung mencari informasi mengenai Maiyahan. Dari situlah saya tahu ada Padhangmbulan di Jombang, Mocopat Syafaat di Bantul, Gambang Syafaat di Semarang dan Bangbang Wetan di Surabaya.

Dari live reportase atau live tweet itulah saya awalnya mengetahui Kenduri Cinta. Dalam benak saya, sebuah keinginan terucap, suatu saat saya akan hadir di Kenduri Cinta. Dan di September 2013, pertama kali saya hadir secara langsung di Kenduri Cinta dan mulai aktif Reboan sejak saat itu, hingga sekarang.

Acara seperti akhir pekan lalu di Bandung sebenarnya cukup rutin dilakukan oleh penggiat Kenduri Cinta, setidaknya satu tahun sekali. Dulu, lokasi yang paling sering digunakan adalah daerah Puncak, Ciawi, Bogor. Jika tidak menginap, maka biasanya menggunakan Aula SMK 27 Jakarta. Pada 2020 lalu, saat pandemi, penggiat Kenduri Cinta menyelenggarakan acara gathering seperti ini di Anyer, Banten. Dan yang terbaru, akhir pekan lalu di 2023 ini, kami berkumpul di Bandung, di Situ Cileunca.

Apakah ini hanya kumpul-kumpul saja? Tentu tidak. Ada misi yang digagas, sehingga setiap kali mengadakan pertemuan seperti ini, maka akan ada outputnya. Hanya saja, yang utama dari pertemuan ini adalah refreshment bagi semua penggiat. Bahasa Arabnya tajdiidun-n-niyaat. Menyegarkan kembali semangat kebersamaan dalam mengelola forum.

Salah satu tantangan utama dalam pengelolaan komunitas swadaya seperti Kenduri Cinta ini adalah regenerasi penggiatnya. Ada banyak faktor memang yang menyebabkan mandegnya regenerasi di Komunitas Kenduri Cinta ini. Maka tidak heran, wajah-wajah yang muncul di panggung misalnya, ya itu-itu saja. Itulah salah satu dinamikanya.

Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah, bahwa Kenduri Cinta ini berada di Jakarta. Penggiatnya adalah kaum pekerja ibukota yang setiap hari berjibaku dengan kehidupan Jakarta yang kenyal. Macet, sudah menjadi kudapan utama setiap hari. Mereka yang memanfaatkan moda transportasi umum, sudah harus berdesak-desakan sebelum sampai di kantor. Dan seabrek problematika hidup lainnya yang mewarnai kehidupan di kota metropolitan ini.

Reboan menjadi fondasi utama bagi Komunitas Kenduri Cinta. Bagi orang yang melihat dari jauh, Reboan mungkin hanya sekadar forum seminggu sekali, meeting point mingguan, penggiat hanya datang, lalu duduk melingkar, membicarakan beberapa obrolan, berdiskusi ringan atau membahas persiapan gelaran rutin Kenduri Cinta bulanan. Sebenarnya, ada ekosistem yang terstruktur dibangun disitu. Istiqamah untuk duduk melingkar sekali dalam seminggu, bertemu tatap muka sesama penggiat, menanyakan kabar satu sama lain, saling bertukar pikiran, saling update kondisi satu sama lain, adalah bounding silaturahmi yang terbangun secara alami.

Lainnya

Mengalirkan Nuansa (dan) Cinta

Mengalirkan Nuansa (dan) Cinta

Cahaya memecah remang. Lampu panggung mulai dinyalakan sekitar pukul 18.20 WIB, bakda sholat maghrib.