CakNun.com

Cak Nun Nderes Al-Quran

Foto: Adin (Dok. Progress)

WAKTU yang singkat itu, tiga bulan lalu, di teras belakang rumah milik Mas Gan di Bogor, saya tanya Cak Nun. Bukan pertanyaan sih, lebih tepatnya mengingat kembali satu pertanyaan yang pernah saya ajukan ke Cak Nun sekian puluh tahun lalu.

Salah satu rubrik Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, setiap minggu memuat pertanyaan-pertanyaan kepada Cak Nun. Saya lupa nama rubriknya, semacam “Cak Nun Menjawab”. Kalau sekarang menyebutnya sebagai Q & A Questions, seperti yang ada di podcast-podcast YouTube itu lho.

Secara diam-diam saya kirim postcard. Ya Allah, kartu pos era tahun berapa itu. Tentu saja saya kirim dengan nama samaran, pastilah tidak akan dijawab dan dimuat jika menggunakan nama saya sendiri. Kemudian tegurnya: “Ngapa kamu tanya-tanya di KR, tanya saja sekarang!” Matilah awak.

Seminggu kemudian dimuatlah pertanyaan yang saya kirimkan.“Cak Nun, jika sowan ke rumah seorang kiai untuk meminta doa, meminta wirid, selalu ada bilangan-bilangan tertentu. 99 kali, 300 kali, 1000 kali dan seterusnya. Misalnya kalimat Ya Lathif, 129 kali.”

Dalam rubrik tersebut Cak Nun menjawab dengan amsal. Saya masih ingat betul. “Jika naik sepeda motor pada hitungan 100 putaran roda ban, terus di jalanan ada geletakan paku, maka menancaplah di ban sepeda motor. Tapi seandainya putarannya hanya sampai 80 atau 99 kali, terhindarlah pertemuan ban dengan sepotong paku. Begitulah kira-kira. Wallahu a’lam.”

Jika kita amati khasanah dan pemikiran Cak Nun sebagaimana jawaban di atas akan banyak ditemukan dalam tulisan-tulisan atau ungkapan-ungkapan dalam majelis-majelis Maiyahan. Tentang rezeki misalnya, Min Haitsu La Yahtasib, Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tak terduga, tanpa disangka-sangka. Cak Nun sering bercerita tentang seorang sopir taksi, menghidupi keluarganya mencari nafkah. Di saat menjalankan kendaraan di jalanan, kemudian seorang penumpang menunggu di depan rumah di saat waktu yang tepat. Terjadilah pertemuan antara sopir dengan penumpang. Dalam konteks rezeki bagaikan bertemunya tumbu dengan tutup. Jika saja laju taksi terlalu cepat sekian sekon, penumpang belum keluar dari rumah, maka tidak akan terjadi liqo’un adhim, “pertemuan agung” yang diskenariokan oleh Allah. Begitulah kira-kira.

Saya tunggu jawaban Cak Nun seusai menyeruput kopi hitam. Tetapi pertanyaan saya hanya dijawab singkat oleh Cak Nun, “Embuh Djid, lali aku….” Gerrrr, para rembol KC tertawa serentak. Diamput!

***

Sebelum subuh saya terbangun, tidur tidak nyenyak. Buru-buru saya buka website caknun.com, terbaca di halaman paling atas “Pasca Gua Sophisticated”. Update-an Pak Dokter Eddot yang paling ditunggu-tunggu orang sejagat raya Maiyah Nusantara. Saya baca kata per kata-kata. Oo ini tho yang bikin tidur saya gelisah, saya disenggol Pak Dokter Eddot.

Beberapa hari lalu, Mas Helmi kirim message: “Nulis jangan sekali doang, gaes!”. Agak lama saya menjawabnya. Tidak segampang menjawab: “Siap!” Disusul pesan berikutnya dari Mas Helmi: “Harus siap….”

Kemudian saya kirim tulisan kedua. Ini pun ada yang nge-chatt saya: “Tulisannya lanjut kan Mas?

***

Dalam salah satu pentas Lautan Jilbab di Surabaya, Cak Nun menyisipkan salah satu shalawat Al-Barzanji yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi Mesir “sepanjang masa”. Umi Kultsum: Thala’al Badru ’Alaina. Hal ini nyambung dengan tulisan Cak Zakki tempo hari, selain lagu-lagu Umi Kultsum, Cak Nun juga sangat menyukai suara merdu Qori’ Syaikh Abdul Basith Abdus Shamad. Lantunan QS. Ar-Rahman diputar di radio-radio menjelang azan magrib, terutama di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jelang waktu subuh, speaker dari menara masjid terdengar alunan tarhim Syekh Mahmud Khalil Al-Husiary. Meresap dalam jiwa, hati menjadi tenang.

Seusai shalat Maghrib, di sembarang tempat, kadang di ruang depan, ruang tengah atau kamar belakang, kamarnya Mbak Roh dan Dik In. Dari kamar terdengar sayup-sayup bacaan ayat-ayat suci Al-Quran. Cak Nun ngaji. Bukan dilagukan sebagaimana Surat An-Nur yang biasa Cak Nun bacakan. Nderes Quran. Saya mendekat ke ruang dalam. Televisi hitam putih 14” saya matikan. Enak sekali. Cak Nun Menderes QS. Al-Hasyr: 22-24

هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ عٰلِمُ الْغَيْبِ وَا لشَّهَا دَةِ ۚ هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ
هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَـبَّا رُ الْمُتَكَبِّرُ ۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
هُوَ اللّٰهُ الْخَـالِـقُ الْبَا رِئُ الْمُصَوِّرُ لَـهُ الْاَ سْمَآءُ الْحُسْنٰى ۗ يُسَبِّحُ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Jakarta, 3 Agustus 2023

Lainnya

Iman, Budhi, Santosa

Iman, Budhi, Santosa

Penghujung tahun ini saya dilanda ketar-ketir. Setelah menyaksikan banyak tokoh dan orang hebat gugur di sepanjang tahun.