Anak-anakku yang Tercinta

Cerpen ini diambil dari kumpulan Cerpen Emha Ainun Nadjib, Yang Terhormat Nama Saya, SIPRESS, Yogyakarta, 1992
Photo by J W on Unsplash

Anak-anakku tentu saja memahami perasaanku sebagai seorang Ibu, tetapi mereka belum mampu mengerti perasaanku sebagai seorang perempuan. Mereka sudah bersekolah tinggi dan tahu banyak tentang dunia ini, tetapi perasaan seorang perempuan harus dialaminya dulu secara langsung, sekian tahun, atau mungkin sekian puluh tahun. Buku-buku bisa memberi tahu mereka perihal apa pun, tetapi perasaan perempuan harus direguknya, seperti juga hidup ini.

Dan memang belum satu pun dari mereka sudah kawin, sehingga tahu bahwa perempuan itu yang makhluk yang berbeda dengan mereka. Mereka kenal perempuan paling jauh lewat pengenalan pergaulan yang terbatas, atau memperolehnya dari tulisan-tulisan perihal perempuan. Tetapi kalau mau kenal betul dengan perempuan, berbelah nyawalah dengannya, bergaullah sepenuhnya dengannya, serumah, setiap detik.

Dengan pikiran semacam itu sebenarnya aku bisa memahami perlawanan mereka terhadap rencanaku ini. Dua kebenaran yang saling berbenturan. Tak mungkin aku lantas menyuruh mereka kawin hanya agar mengerti latar-belakang keputusanku. Ledakan agaknya tak mungkin bisa dihindarkan. Apa boleh buat. Aku mohon maaf kepada semuanya. Kepada anak-anakku yang tercinta dan kepada hidup ini. Namun semua juga harus tahu betapa sedih hatiku dalam keadaan ini.

“Kami tak bisa dan tak berhak menghalangi Ibu,” kata Dayat, anakku kedua, “tetapi hendaknya Ibu katakan terus terang bahwa kami anak-anak Ibu, telah gagal menemani hati dan perasaan Ibu sepeninggal Ayah. Kami telah gagal. Gagal!”

Aku menangis.

“Bukan itu soalnya, Nak….”

Nada pembicaraan Dayat sangat emosional. Aku pun emosional. Tetapi hanya perasaanku. Kukira, pikiranku, dalam keadaan ini, tetap jernih.

“Jangan siksa hati Ibu, Nak. Jangan letakkan diri Ibu seolah-olah berdiri di atas kegagalan anak-anakku.”

“Tetapi kalau kami berhasil, tak mungkin Ibu punya keputusan ini. Kami minta Ibu terus terang saja, agar kami bisa berbuat lebih baik dalam menanggulangi keadaan!”

Tangisku makin meledak. Anak-anakku sudah makin pintar berbantah. Pikiran-pikiran mereka makin hidup. Tetapi terhadap masalah ini yang dibutuhkan ialah penghayatan yang lebih dari pikiran. Ini hati Ibumu, Nak. Tapi juga hati seorang perempuan. Ingin rasanya kujelaskan saja apa adanya kepada mereka. Tapi bagaimana mungkin. Aku sudah tua, 43 tahun. Tetapi, anak-anakku, yang namanya hati, tidaklah pernah tua. Ia tak pernah berusia berapa pun. Hati perempuan hanyalah hati perempuan Tak lebih dan tak kurang. Pikiran bisa menjadi matang atau tetap mentah. Remaja atau dewasa. Tetapi hati hanya tahu membutuhkan hati yang lain, sebagai sahabat hidupnya. Tak peduli berapa usianya.

Malam makin larut.

Sengaja kupanggil ketiga anak-anakku, yang terbesar di antara delapan saudaranya yang lain. Hardi dan Dayat kupanggil dari Surabaya, tempat mereka kuliah, untuk pulang sebentar ke desa. Kuminta pertimbangan dan restu, untuk rencanaku ini. Mereka sudah besar.

Aku berbaring. Rasanya duduk saja pun aku tak kuat. Berbicara dengan orang lain, betapapun kerasnya, bisa saja kulakukan tanpa menguras hati. Tetapi berbantah dengan anak-anakku sendiri, belahan-belahan hatiku sendiri, sungguh merupakan sesuatu yang amat berat. Tak sedikit pun boleh ada kesan seolah-olah aku tak bersatu dengan mereka.

Di samping itu, hidupku amat letih dan sendirian. Anak-anakku semuanya baik-baik dan pengabdi. Tetapi hatiku, sekali lagi, adalah hati perempuan. Di dunia ini, perempuan hanya bisa ditemani oleh lelaki. Dan sesudah Ayah mereka meninggal empat tahun yang lalu bisakah Dayat atau Hardi menggantikannya sebagai lelaki? Betapa inginnya kukatakan satu kalimat saja kepada anak-anakku, “Ibumu ini, Nak, tak lain adalah seorang perempuan. Perempuan sepenuhnya. Normal dengan segala kerinduan naluri keperempuanannya….”

Tapi aku tak mampu. Aku hanya bisa menangis sambil berbaring. Apakah aku bukan seorang istri yang setia sehidup semati kepada suaminya? Jika benar, apakah kehidupan ini mengizinkan aku untuk menjadi roh bersama suamiku? Apa sesungguhnya yang disebut-sebut sebagai kesetiaan? Seorang perempuan kawin lagi sesudah ditinggal suaminya, bisakah disebut tak setia?

Jangan menyangka hanya soal seks saja yang mendorongku untuk memutuskan kawin lagi. Seks bisa ditanggulangi dengan kerajinan bersembahyang, mengaji atau menambah kegiatan harian. Orang juga bilang hati bisa ditemani oleh bayangan almarhum suami, serta oleh Tuhan. Akan tetapi jauh lebih banyak dari sekadar rasa sepi yang cengeng, yang membuat hidupku begini letih dan koyak-moyak. Suamiku tidak saja wafat, tetapi juga mewarisi kerja yang bukan main berat untuk perempuan tak berpekerjaan macam aku, yang punya sekian banyak anak. Mula-mula tumpukan hutang, yang mampu kami lunasi secara amat perlahan-lahan sambil kebingungan mengurus makan sehari-hari. Aku berjualan kecil-kecilan untuk mengatasinya. Sawah telah habis dulu-dulu. Hardi dan Dayat di kota sebenarnya juga membuka usaha. Tetapi hasilnya lebih banyak dipergunakan untuk makan dan kuliah mereka. Anang, adik mereka yang menemaniku di rumah, mengajar di SD dan SMP. Betapa mungkin dari semua itu kami bisa mendaki jurang. Warisan hutang itu tak tanggung-tanggung. Sampai hari ini kehidupan keluargaku masih terbengkalai. Kami masih belum mampu menghindari hutang demi hutang. Semoga Allah memberi kekuatan, dan jika mungkin, sedikit pertolongan. Tapi aku sudah terlanjur kepayahan. Anakku yang terakhir lahir beberapa bulan sesudah Ayahnya tiada. Aku yakin bukan sebuah dosa, kalau kemudian secara perlahan-lahan, tanpa kukehendaki sendiri, aku lantas merindukan seorang kawan.

Maka hadirlah Pak Hasyim dalam hidupku. Ia sama sekali tidak kaya. Ini suatu bukti bahwa kerinduanku bukanlah kerinduan terhadap uang, agar ekonomi keluargaku bisa tertanggulangi. Aku hanya makin terikat oleh perhatiannya yang amat besar terhadap problem-problem keluargaku. Keterikatan ini makin membangkitkan kerinduanku untuk ditemani seorang lelaki di dalam tugas membereskan semua ini.

Pak Hasyim juga amat penyabar terhadap rasa benci anak-anakku. Kenapa Tuhan cenderung menanamkan perasaan tak senang pada diri anak-anak terhadap lelaki yang mendekati Ibunya? Di rumah, Anang berubah sikapnya. Ia kini lebih banyak diam dan hampir selalu menghindarkan diri dari pembicaraan dengan Ibunya. Dayat dan Hardi benar-benar tak mau ketemu. Aku amat sedih. Mudah-mudahan ini bukan karena mereka kurang memiliki jiwa besar, melainkan hanya karena belum mampu menghayati persoalannya.

“Ibu,” kata Hardi, “kami berjanji mulai sekarang kami akan bekerja lebih keras. Kalau perlu semua adik-adik kami bawa untuk kami biayai, sehingga beban Ibu bisa lebih ringan.”

“O, bukan itu soalnya, Nak. Ibu bukannya menentukan keputusan ini hanya karena itu….” jawabku. Tapi tak bisa aku menjelaskannya lebih lanjut.

“Kami bisa kerja lebih giat sambil kuliah, Bu!”

“Terima kasih, Nak. Ibu percaya itu. Tapi….”

“Selama ini kami memang kurang mampu, Bu,” Dayat menyambung, “itu dosa kami.”

“Tidak, tidak. Nak. Anak-anakku semua tak berdosa. Bahkan tak ada yang berdosa dalam hal ini. Apalagi hanya sebab itu. Ibumu inilah yang tak mampu. Kalian sebenarnya memang belum saatnya menanggung beban seberat ini.”

“Tetapi kalau kami mampu, tentu tak terjadi rencana ini.”

“Aduh Nak, bukan itu soalnya….”

Airmataku mengalir makin deras. Kuusap dengan ujung bajuku. Sebenarnya seluruhnya akan segera beres kalau saja aku mampu mengungkapkan satu kalimat saja, “Anak-anakku; Ibumu membutuhkan seseorang untuk dicintai dan menemaninya.”

Namun bisakah itu terasa wajar diucapkan oleh seorang perempuan setua aku? Oleh seorang Ibu di hadapan anak-anaknya yang sudah besar?

Anang duduk kaku sambil terus membisu. Dayat dan Hardi pun tegang di sisi dipan. Apakah sesungguhnya yang menyebabkan hal begini sederhana menjadi tak tersampaikan? Dan di atas segala-galanya, aku sungguh merasa tersiksa harus berada dalam peristiwa demikian dengan anak-anakku yang kucintai.

“Kami merasa berdosa kepada Ayah, Bu….” suara Dayat.

Robek hatiku!

Apakah anak-anakku menyindirku? Akulah orangnya yang nomor satu merasa berdosa kepada Ayahmu. Kalian hanyalah anak-anaknya. Tetapi aku adalah belahan hidupnya. Kalian bersatu dengannya tak sejauh persatuanku dengannya. Kini ia telah mati. Kalau saja aku diperkenankan untuk ikut bersamanya! Tak pernah ada sebersit niat pun di hatiku untuk berkawan dengan laki-laki selain dia. Tetapi segala yang berkembang dalam diriku, tidaklah pernah kukehendaki sendiri, seperti juga kelahiranku, seperti juga keterbengkalaian keluargaku yang menyebabkan aku merasa letih, dan kemudian merindukan sandaran…. Aku hanya seorang perempuan, bukan? Aku barangkali sedikit kuat, tetapi aku seorang perempuan. Artinya bukan laki-laki. Betapa besar dosaku kepada Ayahmu karena perkembangan ini. Akan tetapi, Tuhan. Cobalah katakan kepadaku bagaimana kiranya mempersatukan kehidupan de- ngan kematian? Agar tetap bersatu juga aku dengan suamiku? Nyawa kami tetap bisa bersatu. Tetapi di dalam hidup, persoalan-persoalan bersama, problem bersama, membangun sisi persatuan yang tak kalah erat. Kini suamiku berada di luar problem yang tetap menggelutiku. Aku mengerti, di kuburnya, ia pasti merasa bersedih menyaksikan ini. Tapi kukira Tuhan juga memperkenankannya untuk tahu betapa aku membutuhkan sandaran langsung bagi keterbatasan dan kelemahanku.

“Anak-anakku, apakah kalian merasakan bahwa Ibumu tak merasa berdosa kepada mendiang Ayahmu?”

Anak-anakku diam.

“Ataukah kalian merasa malu kepada orang-orang lain? Kepada tetangga? Kawan-kawanmu?”

Mereka tetap diam.

“Anak-anakku, akan habis waktu kita untuk menuruti omongan tetangga. Mereka tak pernah mau mengerti persoalan orang lain sedalam-dalamnya. Mereka melihat hanya dari satu segi. Segi mereka. Menurut pandangan mereka saja. Anak-anakku, kita hidup tidak tergantung mereka. Kitalah yang paling tahu soal-soal kita sendiri. Selebihnya yang perlu kita pegang hanyalah kesadaran kita tentang kebenaran. Dan meyakininya. Dengan iman. Kita hidup hanya berbekal iman, Nak. Kita hidup bukan demi tetangga, tetapi untuk yang membikin segalanya ini….”

Mereka terdiam terus.

Pertemuan malam itu akhirnya tak menghasilkan kesepakatan apa-apa. Pembicaraanku dengan ketiga anak-anakku berakhir dengan kebisuan. Mereka pergi tidur, berjalan menundukkan kepala, dan aku kembali menangis. Malam itu Tuhan hanya menganugerahkan kebisuan. Dalam keseharian, semua berjalan biasa, tetapi masalah ini tetap terbungkam. Demikianlah, akhirnya kulaksanakan keputusanku ini tanpa restu anak-anakku. Pak Hasyim dan aku pergi berdua saja ke Penghulu. Suamiku yang baru ini kemudian juga tak langsung tinggal di rumahku atau aku tinggal di rumahnya. Pertemuan setiap saat bukan yang utama, tetapi sandaran ini jelas bagiku. Maafkanlah kelemahanku ini. Pak Hasyim amat mengerti. Istrinya meninggal jauh sebelum suamiku meninggal. Kebetulan perempuan itu teman sekolahku waktu kecil, sehingga Pak Hasyim lebih mudah untuk dekat denganku. Pak Hasyim amat sabar dalam membina posisinya sebagai Ayah anak- anakku. Serba sedikit ada kekakuan pada mereka yang kecil-kecil, tetapi ia telaten meladeninya. Perlahan-lahan, terutama anak-anakku yang kecil-kecil, bisa menerima kehadirannya.

Anang, tentu saja, tak bertegur sapa dengan Ayah tirinya. Juga Hardi dan Dayat. Betapa aku tersiksa. Apakah yang berkurang bagi perasaan mereka oleh perkawinan Ibunya ini? Tidakkah mereka senang melihat gairahku terbangkit? Namun tak sampai hatiku untuk mengatakan, misalnya, bahwa mereka lebih mementingkan kepuasan perasaan dan harga diri mereka sendiri. Di luar itu, bukankah jelas Pak Hasyim berperanan amat besar dalam proses menanggulangi keadaan keluargaku?

Sekembalinya ke kota, Hardi dan Dayat tak pernah mau pulang ke kampung. Kadang-kadang mereka mengirim uang. Tetapi pada suatu hari, di tahun kedua perkawinanku, aku menerima surat Dayat.

“Ibu yang kucintai!” katanya. “Nanda segera ingin meresmikan pernikahan nanda dengan pacar nanda, Yaning. Usianya setahun lebih tua dari nanda. Ia seorang janda. Punya tiga orang anak lucu-lucu. Suaminya beberapa bulan yang yang lalu meninggal dalam perjuangan di Timor-Timur. Pertemuan dan pergaulan nanda dengan dik Yaning, memberi nanda satu bagian yang paling dasar dari kehidupan ini. Sekarang nanda mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Ibu atas sikap nanda dulu, Ibu. Hari Senin akhir bulan ini, nanda akan pulang ke desa bersama calon istri dan ketiga anak-anak nanda….”