Wisdom of Maiyah (170)

Tidak Rewel Menuntut Tuhan

Belum lama saya mengenal Maiyah mungkin baru dua atau tiga tahun terakhir. Itu pun aktif dan rutin mengikuti maiyahan secara offline sekitar satu tahun. Maiyah adalah majelis ilmu yang mengajarkan keluasan akan kehidupan dan ketuhanan.

Saya mengalami perbedaan majelis ilmu Maiyah dengan majelis ilmu yang lain. Jika di majelis ilmu pada umumnya kita adalah pendengar dan penerima ilmu yang disampaikan kiai atau ustadz. Sedangkan di Maiyah kita sama-sama berpikir, sama-sama belajar, sama-sama rendah hati. Sehingga tercipta atmosfer sinau bareng yang compatible untuk menemukan kedaulatan diri dan menjaring ilmu pada setiap peristiwa dan fenomena. Tidak ada yang menggurui dan digurui. Kita saling berguru satu sama lain.

Maiyah mengajarkan kesadaran hidup hingga titik hakikat hulu dan hilir kasih sayang Allah Swt dan Rasulullah Muhammad Saw. Pelajaran seperti ini jarang didapat dan dipelajari secara mendalam di ruang kelas pendidikan. Padahal, hakikat kasih sayang Allah dan Rasulullah adalah inti dari segala ilmu.

Melalui pembelajaran yang meluas dan mendalam, simbang dan adil, manusia Maiyah memiliki keteguhan hati dan kedalaman berpikir dalam merasakan kehadiran Allah dan Rasulullah.

Dalam majelis ilmu Maiyah Tuhan menjadi milik bersama. Sedangkan pada kebanyakan forum pengajian Tuhan hanya milik orang-orang yang dianggap (atau menganggap dirinya) dekat dengan Allah Swt.

Bagaimana di Maiyah? Pintu kesadaran kita dibuka bahwa siapa pun berhak bermesraan dengan Allah. Setiap manusia memiliki kemampuan dan caranya masing-masing untuk merasa dekat dengan Tuhan. Di Maiyah semua kesadaran itu ditularkan tanpa pemaksaan, tanpa ketakutan, bahkan tanpa ancaman kafir, bid’ah atau musyrik. Semuanya berposisi sama, yakni sebagai ciptaan Tuhan. Yang terpenting adalah kedalaman dan keikhlasan dalam menjalaninya.

Manusia Maiyah bersama-sama belajar mencintai Allah dan Rasulullah. Tulus hatinya, total jiwanya, serta tidak rewel menuntut-nuntut Tuhan.