Terus Bergerak, Terus Berjalan

Merespon pertanyaan dan persoalan (Dok. Progress).

Ada poin penting yang perlu dicatat dalam diskusi santai antara Cak Fuad, Cak Nun, dr. Eddot dan Mas Banar. Teman-teman bisa menyimak obrolan tersebut di channel youtube caknun.com.

Mbah Nun menguraikan perihal teori me-manage waktu dan pekerjaan dengan baik. Bagi beliau, tidak ada kata capek, bosan, atau bermalas-malasan. Sebab menurut prinsip beliau, malas termasuk “dosa besar”. Kok bisa? Lha iya, sudah dikaruniai badan sehat, waktu luang (24 jam dalam sehari), kok ndak dimanfaatkan. Itu kan namanya kufur. Kerugian besar. Dan Allah sendiri pun ngendikan, “Demi masa, sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati dengan cara yang benar dan rasa sabar.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)

Bicara tentang waktu/masa, mendadak saya ingat satu lagu berjudul “Demi Masa”, yang dulu sempat dipopulerkan oleh grup vokal religi Raihan.

Gunakan kesempatan yang masih diberi, moga kita tak kan menyesal.
Masa usia kita, jangan disiakan karena dia tak kan kembali.
Ingat lima perkara, sebelum lima perkara.
Sehat sebelum sakit,
Muda sebelum tua,
Kaya sebelum miskin,
Lapang sebelum sempit,
Hidup sebelum mati.

Benang merah larik lirik di atas adalah tentang waktu. Di mana waktu sehat, muda, kaya, lapang, dan hidup merupakan modal sekaligus investasi yang sangat berharga.

Oleh sebab itu, dalam mengatur ritme waktu demi waktu diperlukan kecakapan. Dan Mbah Nun berkenan membagikan tipsnya. Yakni dengan cara menyiasatinya. Misal kita sedang menulis, lalu rasa bosan melanda, ya stop saja menulisnya. Ganti dengan aktivitas yang lain. Bisa dengan nderes ngaji Qur’an, bermain dengan anak, ngopi sejenak sambil memberi makan burung, atau ambil air wudhu kemudian mendirikan shalat sunnah.

Atau kalau kita capek mengaji, berhenti ngajinya. Lakukan kegiatan lain segera. Bisa beberes rumah, bersepeda keliling komplek, ngelapi motor, atau cukup menyalakan sebatang lisong sembari menyirami bunga dan tanaman. Istilah Mbah Nun, kreatif-rekreatif. Yakni terampil memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, antara bekerja dan istirahat. Pekerjaan berikutnya menjadi fase “istirahat” dari pekerjaan sebelumnya. Dengan begitu, kita akan tetap produktif (melakukan dan menghasilkan sesuatu) meski dalam waktu “istirahat” atau bersantai.

***

Pikiran dan badan yang terus bergerak, alias nggak males-malesan, akan menciptakan pribadi yang sehat jasmani-rohani. Pun sebaliknya. Yang malas obah, ia akan cenderung nglentruk, loyo dan gampang ambruk (sakit-sakitan). Laiknya sepeda onthel yang jarang di pakai, maka rantainya akan teyengen (berkarat), gampang los, bahkan putus. Semakin sering sepeda digunakan, akan semakin nyaman, dan jauh dari kerusakan.

Spirit kreatif-rekreatif itulah yang ditawarkan kepada kita oleh Mbah Nun. Meski terkesan tak lazim, hal tersebut patut dilatih dan dibangun. Kapan? Sekarang! Sebagai contoh, di usia senjanya, Mbah Nun tetap sigrak, seger, dan terus berkreativitas tanpa batas. Hal itu tak lain berkat metode kreatif-rekreatif yang istiqomah dipraktikkan oleh beliau.

Dan ternyata metode kreatif-rekreatif merupakan bentuk refleksi dari surah Al-Insyirah ayat 7, Fa izaa faroghta fangshob. “Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),” (QS. Al-Insyirah: 7). Pas. Klop. Jodoh.

Dengan demikian, tak ada keraguan lagi bagi kita untuk melatih diri mengimplementasikan kalam Tuhan tersebut dalam tiap seri dan sendi kehidupan. Kalau Simbah saja terus on ergawe, mosok awake dewe mletre? Ojok sampe!

Tahun baru telah menyapa. Apa gerangan resolusi kita di tahun 2022? Sederhana saja. Terus bergerak. Terus berjalan.

Gemolong, 14 Januari 2022.