Terima Kasih, Mbah Nun

Mbah Nun memberikan premis revolusioner yang saya terapkan pada diri saya. Beliau mengatakan, “Ojo suudhdhon terhadap segala sesuatu sing koen gak seneng”. Menurut saya, ini nasihat yang sangat berharga. Mahal harganya. Karena esensi kalimat itu secara tersirat berisi begitu banyak pengalaman atas pengucapnya. Dan saya tidak mampu membayangkan seperti apa pengalaman-pengalaman hidup Mbah Nun, sehingga beliau mampu membuat premis semacam itu yang sampai hari ini saya terapkan dalam konteks hidup saya.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Kemudian Mbah Nun pula mempertegas bahwa konsep matematik manusia itu tidak sama dengan konsep matematik Allah. Khususnya berbicara mengenai untung dan rugi. Rugi menurut manusia belum tentu Allah memaksudkan itu sebagai kerugian. “Mungkin sepi adalah bentuk rezeki yang lain daripada ramai. Orang sakit itu diberi rezeki kesabaran. Sedang orang sehat itu diberi cobaan berupa kelalaian dan kesombongan,” ujar Mbah Nun pada suatu waktu.

Suatu ketika saya menerapkan nasihat Mbah Nun pada diri saya ketika melamar sebuah pekerjaan di sebuah satu toko retail yang bergaji UMR. Ada tiga rangkaian tes. Tes pertama adalah tes tinggi badan. Dan sejak tes pertama, saya dinyatakan tidak lolos, karena begitu banyak pelamar kerja yang tinggi badannya melebihi saya. Meskipun kecewa, tapi saya berusaha mengingat-ingat kalimat Mbah Nun supaya “Ojo suudhdhon terhadap segala sesuatu sing koen gak seneng”, termasuk kekecewaan saya karena tidak diterima bekerja pada waktu itu. Satu bulan berselang, saya memutuskan untuk bekerja di sebuah gerai pulsa tanpa harus melalui sejumlah tes yang tidak masuk akal. Beberapa bulan setelahnya, sela-sela libur bekerja (tepatnya izin bekerja), saya mendaftar tes Perguruan Tinggi Negeri dan akhirnya diterima.

Kalau saja saya diterima bekerja di toko retail yang bergaji UMR itu, mungkin saya akan lebih berfokus bekerja hingga lupa keinginan saya untuk melanjutkan kuliah yang merupakan keinginan primer saya.

Maksud saya, jika saya tetap berprasangka buruk terhadap penolakan lamaran kerja saya, mungkin saya tidak akan meradikalisir tindakan saya untuk tetap kembali berjalan bahkan berlari melanjutkan perjalanan. Tapi, karena Mbah Nun pernah mengingatkan supaya tidak berprasangka buruk terhadap sesuatu yang terjadi, saya mampu berjalan dengan tegap melanjutkan perjalanan, bahkan sekali-kali berlari. Karena, menurut Mbah Nun, manusia cuma bisa gejik jagung, yang menumbuhkan itu Allah.

Terimakasih, Mbah Nun. Saya bahagia, tanpa pamrih Mbah Nun hadir di tengah-tengah Padhangmbulan dan banyak simpul Maiyah yang lain. Ketika Mbah Nun mengatakan bahwa Mbah Nun bukanlah siapa-siapa, itu membuat saya menangis. Bagi saya, Mbah Nun itu siapa-siapa. Hanya saja saya yang kesulitan merumuskannya.