CakNun.com

Stempel

Cerpen ini diambil dari kumpulan Cerpen Emha Ainun Nadjib, Yang Terhormat Nama Saya, SIPRESS, Yogyakarta, 1992

Ini tamu istimewa.

Sebenarnya kemudian aku agak merasa berdosa ketika secara tak sengaja terbersit niat untuk tak usah menemuinya. Seorang lelaki muda, berpakaian rapi, map di tangan kanannya, berjalan tegak masuk ke halaman rumahku. Hamdan Waliyullah! “Celaka”. Aku tergeregap. Tumbuh rasa malas dan hampir saja kuputuskan untuk tidak mengacuhkan kehadirannya.

Tetapi akhirnya aku takut pada diriku sendiri. Setidaknya kepada kebenaran perasaan yang mendo rong keputusan itu. “Tidak, tidak.” Tahu apa aku tentang hal yang di luar diriku, seperti misalnya perihal Hamdan ini, sedangkan kepada diriku sendiri begitu sering aku bingung. Aku masuk kamar. Kuusap mukaku dengan handuk. Kubenahi pakaianku dan kusisir rambutku. “Hebat.” Ini juga merupakan persiapan yang istimewa untuk menyambut tamu, sebab biasanya tak pernah kuacuhkan hal macam ini.

Apakah aku hendak berhadapan dengan orang yang sedemikian penting? Sedangkan dia ini Hamdan Waliyullah. Tidak lebih. Seorang yang satu dua tahun terakhir ini, terutama di kalangan teman-teman terkenal sebagai sinting.

Ia mengetuk pintu. Aku keluar dari kamar sambil berlagak seakan belum tahu siapa yang datang. Ternyata di halaman, menyusul Hamdan, berjalan juga seorang wanita muda.

“Hallo Mr. Joko!”

“Hallo!” aku mengangkat tangan seperti serdadu.

Hamdan menyodorkan tangannya. Kubalas. Dan ia menyalamiku dengan amat erat dan emosional sambil tersenyum. Ini lebih, atau sekurangnya lain dari biasa.

“Kenalkan, ini istri saya.” Hamdan membimbing tangan perempuan muda itu dan aku menyambutnya dengan perasaan yang sama sekali asing. Kemudian aku persilahkan mereka duduk. Selanjutnya aku selalu menunjukkan keramahan dan iktikad baik lewat air mukaku, meskipun jelas dia tidak tahu aku sedang menyesali iktikad tak bersahabatku sewaktu melihatnya masuk halaman rumahku.

“Apa kabar Mr. Joko?”

“Macem-macem,” jawabku.

“Apa Mr. Joko ada program yang akan dilaksanakan?”

“Program? Ah, bukan program. Cuma sedikit keinginan saja.”

Hamdan tersenyum. Tapi nanti dulu. Mr. Joko! Sudah tiga kali ia memanggilku dengan Mister. Ini lain dengan dulu. Barangkali hanya hobbynya yang baru. Tetapi hobby sahabatku Hamdan ini pada perkembangannya sukar kutangkap secara netral seperti sahabat-sahabatku yang lain. Apa-apa yang baru darinya selalu mengkhawatirkanku. Dan sebutannya Mr. Joko berturut-turut itu saja sudah cukup mengawali ketegangan pikiranku dalam menghadapinya.

“Saya sendiri, Mr. Joko, punya program yang jelas: saya harus mencapai Sorga!” kata Hamdan.

“Ini dia.”

“Soalnya,” ia melanjutkan, “dari keduniawian ini, saya tidak bisa mengharapkan apa-apa.”

“Itu jelas,” kataku. Sesungguhnya aku mulai panik.

“Dunia sekarang beramai-ramai menyembah dajjal.”

“Dajjal Bung?”

“Ya. Teknologi modern adalah dajjal!”

“Oo…….”

“Mr. Joko saya rasa seia-sekata dengan saya. Karena setiap individu pada akhirnya adalah sesuatu yang immanen bersama keberadaan alam semesta, maka ia harus bisa menggapai ke-apa-apa-an. Lha, program saya sekarang ini ialah melaksanakan ke apa-an itu.”

“Memberi arti kepada hidup maksud Bung?”

“Ya begitu.”

“Memang kebahagiaan hidup dan lain sebagainya itu sebenarnya hanya terletak pada arti yang bisa kita berikan.”

Bodohnya aku ini. Mengiyakannya, membenarkannya, menyambutnya dan ikut-ikut berkalimat-kalimat macam dia. Padahal kemudian aku akan pening mendengarkan uraiannya yang panjang lebar dan dengan istilah-istilah yang menakutkan, sementara mataku musti terus melotot dan seakan antusias.

“Sengaja saya datang kemari karena Mr. Joko termasuk di antara beberapa orang saja yang berada di alam yang sama dengan saya. Dengan demikian bisa saya ajak ngomong soal program saya. Soalnya begini Mr. Joko. Tidak banyak orang yang bisa menerima kebenaran program saya ini. Saya kemarin bertengkar di Kantor Kecamatan dengan pegawai-pegawai. Mereka mengatakan program saya ini tidak bisa diterapkan, karena dianggapnya sebagai agama baru. Saya bilang ini memang agama baru, dan baru sekali ini ada di dunia, dan memang sayalah yang di utus oleh Allah. Saya ingin mengadakan jemaat…….”

Beratus-ratus kalimat Hamdan berurai. Aku tajam-tajam memandanginya, sambil sekali-kali mengerutkan dahi atau tersenyum. Tapi sebenarnya aku sedang melamun. Aku sibuk dengan perasaanku sendiri. Dari tadi kuperhatikan matanya dan makin lama kurasakan makin menakutkan. Soalnya sementara itu aku juga memperhatikan wajah dan mata istrinya. Aku makin merasa asing dan cemas.

Dulu, Hamdan ini, hanya kukenal sebagai anak muda yang suntuk dengan pandangan-pandangan filsafat. Ia bukan kawan akrabku. Aku cuma kenal biasa-biasa saja. Ketemu hanya sebulan atau dua bulan sekali. Di perpustakaan, di kios-kios koran atau dalam acara-acara diskusi. Hamdan selalu membikin pembicaraan menjadi mentereng dengan istilah-istilah filsafatnya. Dan ide-ide pikirannya yang sembilan puluh persen berada di langit, membuat aku merasa mendengarkan dongeng atau ditimang mimpi. Kawan-kawan umumnya, dengan berangkat dari satu anggapan atau vonis final, mengacuhkannya, mentertawakan, atau menyebutnya sebagai syaraf. Syaraf dalam pengertian yang rendah, artinya untuk menyebut kecenderungan yang agak terlalu meninggalkan realitas. Hamdan juga punya hobby bikin skema. Ia merasa selalu berada di alam pikirannya yang besar, luas dan tinggi. Ia seakan-akan seorang raksasa yang melihat dunia ini: memandang hubungan antara berbagai pemikiran di dalam kurun sejarah. Dan ia menghuni sebuah titik yang berhubungan dengan titik-titik yang lain di mana Albert Camus, Kierkegaard, Paul Sartre, Sayidina Al,. Imam Ghazali, Iqbal, Khrisnamurti, Empu Mada dan Ki Ageng Suryomentaram bercokol. Hamdan, menurut pengamatannya sendiri, adalah sebuah tonggak yang berdiri dalam struktur sejarah pemikiran ummat manusia.

Beberapa bulan tak ketemu, tiba-tiba ada kabar tentang perkembangannya. Kawan-kawan menyebutnya syaraf, tidak dalam pengertian khusus, melainkan dalam makna yang sebenarnya. Issue itu mengemukakan, ada masalah keluarga yang membikinnya shock besar, sehingga bibit syarafnya melejit mendadak. Kabarnya ia lalu bertingkah laku lebih aneh lagi, suka pidato di tengah alun-alun larut malam, dan suka mengirimkan tulisan ke redaksi-redaksi koran dengan isi yang membingungkan.

Aku sendiri sesungguhnya tidak cukup punya keberanian untuk punya kesan dan kesimpulan yang sama dengan issue itu. Minimal aku tak cukup berani untuk terlalu gampang menyimpulkan manusia. Aku sadar paling sedikit Hamdan memang sedang berada di alam tertentu, yang mungkin terbangun dari pr ses pemikirannya, yang berbeda dengan alam “normal”. Namun toh aku sendiri masih bingung apa benar ada garis batas yang jelas antara alam normal dan tak normal. Sebutan normal pun toh berlaku hanya bagi satu alam pikiran tertentu yang menyebut dirinya normal. Barangkali benar seseorang berperilaku “tak normal”. Tetapi untuk mengukur apakah seseorang sudah gila, tidak cukup berangkat dari situ. Misalnya, kalau seseorang merasa sendirian dalam keyakinan pikiran dan lingkungan sama sekali tidak bisa melihatnya sebagai kebenaran, maka apa salahnya orang ini lantas berpidato kepada daun-daun, angin dan langit? Apa salahnya juga seseorang membunuh dirinya, dengan maksud agar langsung ketemu Tuhan, tempat satu-satunya untuk mengadukan keyakinannya? Aku juga bisa membenarkan mungkin Hamdan ini gagal mempertahankan keseimbangan kesadarannya akan idea dengan kenyataan lingkungan, atau ia tak berhasil menjembatani jarak teramat jauh antara impian dengan kenyataan kerja yang mampu ia bikin. Dengan demikian ia kehilangan bahasa kehadiran ke lingkungannya, dan ia terlepas dari susunan dan irama sekelilingnya. Misalnya kalau suatu hari ia akan beli rujak, maka filsafatnya simpan dulu di “rak mejanya”, supaya ia tidak disimpulkan orang sebagai syaraf. Dan masyarakat memang memiliki kekejaman yang amat cukup untuk gampang menyebut seseorang sebagai sinting. Aku pun, ternyata terseret. Buktinya aku ketakutan setengah mati memandang Hamdan, sekaligus memandang istrinya. Apakah istrinya ini juga sinting? Aku melihat Hamdan: sebuah dunia tersendiri. Dan aku memandang istrinya: sebuah dunia tersendiri juga yang berbeda. Sedangkan mereka bersatu. Apa sesungguhnya yang terjadi? Mudah-mudahan mereka tak mencurigaiku yang menatap mereka dengan sorot mata begini. Segala-galanya yang kupandang serba terasa lain. Tersendiri.

“Jemaat Waliyullah. Itu nama jemaat saya. Ummat manusia perlu ditolong dari lukanya. Sayang h nya beberapa gelintir saja dari mereka yang sadar bahwa dirinya perlu ditolong. Tapi saya tidak putus asa. 38 tahun Nabi Yunus berjuang, tetapi hanya dua orang pengikutnya. Zaman serba modern sekarang tantangan-tantangan lebih besar…….”

Aku menatap matanya. Sesuatu berdesir dalam perasaanku. Mata itu hidup seperti tidak di sini. Dahinya klimis. Seluruh wajahnya bersih. Kumis kecil melintang. Rambut di dagunya dibiarkan memanjang. Rambutnya tidak gondrong seperti dulu. Seluruh penampilannya terasa seakan-akan berada jauh di sana. Aku melihat Hamdan sayup-sayup. Terkadang terasa aku pun terbang. Ikut melayang-layang. Tapi kemudian terjerembab di tanah: aku memandang istrinya yang pendiam. Ia adalah makhluk normal dari lingkungan dunia ini. Tiba-tiba aku mengamati mimiknya, melihat garis pandangannya, tingkah lakunya. Tidak ada yang aneh. Ia kelihatan tulus. Istri yang nriman. Aku melihat rambutnya disisiri rapi. Pupur di wajahnya. Olesan warna merah di kedua bibirnya. Aku melihat pakaiannya. Caranya berpakaian. Semuanya wajar dan tidak menunjukkan ada cuatan-cuatan. Tapi begitu aku merasakan kesatuan perempuan ini dengan Hamdan, pandanganku jadi bergoyang-goyang. Apa yang sebenarnya kuhadapi? Minimal aku takut pada tuduhan final semua kawan-kawanku bahwa ia sinting. Seorang lelaki sinting, mempersunting seorang wanita, hidup bersama dan tidak mencerminkan adanya ketidaksatuan…. Wanita itu begitu bodoh, patuh dan terkagum-kagum, atau nampak ia menggembalakan suaminya sebagai seorang pasien…… “Tidak, tidak semuanya.”

“Orang-orang terutama tidak bisa menerima cara peribadatan yang saya pergunakan…….”

“O ya?”

“Saya, untuk cara peribadatan ini berkiblat pada anak Adam. Ialah Kan’an. Beliau adalah manusia yang pertama kali melakukan perbuatan onani. Apabila seseorang tidak atau belum mampu mengkaitkan dirinya langsung dengan Yang Maha, maka onani bisa membawanya ke orgasme spirituil…….”

Aku mengangguk-angguk.

“Orang-orang umumnya tidak bisa menerima ini tapi aku tidak akan berhenti. Pada akhirnya setiap manusia harus menyadari bahwa setiap orang punya ke-apa-an sendiri-sendiri, punya letak kebesaran sendiri-sendiri. Mereka menganggap saya sinting, tetapi kesembronoan mereka untuk punya kesimpulan demikian bagi saya merupakan kesintingan yang tidak saja individual, tapi kolektip. Socrates dulu juga dituduh orang sinting, padahal ia bukannya menawarkan agama seperti saya…….”

Aku mengerlingkan mataku, memandang istrinya. Perempuan itu hanya menunduk. Tapi tak ada ekspresi yang khusus yang merupakan reaksi atas omongan suaminya. Ia nampak biasa-biasa saja. Ini betul-betul membuatku ketakutan. Tapi apa yang sedang kutakuti? Dulu, aku maupun kawan-kawan sering tak mengacuhkan Hamdan terutama hanya karena rasa malas untuk meladeninya. Tetapi sekarang ini apakah berita kenabian Hamdan ini telah membentur dinding tebal dalam diriku?

“Aku melihat filsafat Empu Mada, yang mirip Budhism dan yang nampak juga pada Sri Sultan Jawa dewasa ini. Yakni dimensi vertikal hubungan manuisa langsung dengan Tuhannya. Tapi pada filsafat Jibril, saya merasakan dimensi horisontal juga, sehingga filsafat ini lebih merangkum kehidupan manusia, meliputi mikro dan makro-kosmos. Saya telah di-apa-kan oleh Allah di kecenderungan yang ini. Maka Mister Joko, ini saya ingin tunjukkan kepada Mister…….”

Hamdan membuka mapnya. Mengeluarkan darinya secarik kertas. Disodorkannya kepadaku dan kuterima. Di atas kertas ada garis melintang yang juga ganda. Tertulis di antara dua garis itu: Utusan Allah Subhanahu Wata’ala Hamdan Waliyullah YDS. Kemudian hiasan gambar bunga-bunga. Sebuah disain stempel.

“Fantastis Bung ini!” terloncat dari mulutku

Ia tersenyum.

“YDS ini apa artinya Bung?”

“Alaihissalaam. Cuma dalam bahasa Indonesia. Itu singkatannya.”

Lainnya

Jimat

Jimat

Di dalam hidup sehari-hari, jimatku ialah kesetiaan dan ketahanan serta kemampuan menjaga diri. Jadi jimatku tidak kucari umpamanya di gunung Kawi, melainkan kubangun sendiri perlahan-lahan.

Podium

Podium
Domino

Domino

Sebenarnya belum puas kami bermain domino — apa yang lebih nikmat dari permainan domino di dunia ini? — tapi toh ini sudah cukup larut. Hampir pukul dua pagi, dan nanti pukul 7.30 sudah mesti siap bertugas.

Stempel

Stempel

Ijasah

Ijasah