Sinau Ridla, Sinau Terampil Beragama

Sinau Bareng di Lapangan Desa Perning Jetis Mojokerto pada 2 September 2022 lalu mengambil tema Sinau Ridla. Bila ditinjau dari, misalnya, umumnya tema-tema pengajian akbar yang lebih mengangkat tema politik identitas atau isu-isu kepolitikan, barangkali tema sinau ridla atau sinau syukur seperti berlangsung pada Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng, terasa kurang lazim. Tetapi justru di situ letak menariknya Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Dalam khazanah tasawuf ada dikenal dua istilah yaitu ahwal dan maqam. Ahwal adalah kondisi hati manusia yang sifatnya terberi atau otomatis. Dapat musibah, hati kita langsung sedih. Dapat rezeki, hati kita segera senang atau gembira. Tetapi mendapat musibah, apakah hati kita langsung sabar dan ridla? Mendapatkan rezeki, apakah otomatis hati kita langsung bersyukur? Sabar, ridla, syukur, tawakkal, taqwa, taubat, roja’ dll. adalah kondisi hati yang tidak otomatis kita miliki kalau tidak kita usahakan, biasakan, dan capai melalui latihan dan pembelajaran. Kondisi-kondisi hati itulah yang disebut maqam, dan kita tahu bahwa semua kondisi yang terangkum dalam maqam adalah juga perintah agama yang harus kita penuhi.

Malam itu bersama jamaah yang memadati lapangan Desa Perning, Mbah Nun mengeksplorasi tema ridla ini, di antaranya melalui sejumlah pertanyaan yang beliau berikan kepada tiga kelompok yang diminta maju ke panggung. Ada lima pertanyaan. (1) Mana yang lebih utama, mencari ridla Allah ataukah sikap ridla kepada Allah? (2) Sebutkan 3-5 keadaan atau sikap batin yang bukan/tidak ridla. (3) Apakah ada ketentuan Allah yang Anda tidak ridla? Berikan contohnya. (4) Apakah ada hal-hal yang menyangkut Indonesia yang Anda tidak ridla? (5) Apa keuntungan dan kerugian ridla dan tidak ridla?

Setahap demi setahap, Mbah Nun menguraikan, berdasarkan ayat 27-28 surat Al-Fajr diperoleh urutan: kita yang harus ridla dulu, baru kemudian Allah akan meridlai kita. Radliyatan mardliyyah. Yang kita butuhkan memang ridla Allah, tetapi caranya adalah kita dahulu yang ridla kepada Allah, baru kemudian setelah itu Allah meridlai kita. Mbah Nun menganalogikan urutan dan ketakterpisahan ridla dan diridlai ini seperti ‘gula manis’. Gulanya dulu, baru kemudian manis.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Menjabarkan lebih jauh, Mbah Nun memberikan beberapa contoh dimensi ridla kepada Allah. “Bagaimana bisa saya tidak ridla, wong saya, meski dalam keadaan kurang sehat, masih diberi kesempatan iso ketemu awakmu kabeh.” Di sini, Mbah Nun mengantarkan jamaah semua untuk menyadari bahwa bersyukur bisa dijadikan jalan untuk kita mudah ridla. Makin lebih banyak ingat terhadap apa-apa yang ternyata merupakan anugerah Allah ketimbang yang kita tangkap sebagai kesusahan atau kesulitan yang kita alami yang biasanya membuat kita lupa akan anugerah Allah, makin membantu kita untuk memiliki sikap ridla kepada Allah.

Setiap keputusan atau ketetapan Allah atas kita, kita harus ridla, dan tidak gampang berburuk sangka kepada Allah. Itulah poin utama yang disampaikan Mbah Nun malam itu.