Sinau Raadliyatan Mardliyyah

Majelis Ilmu Padhangmbulan, Sabtu, 19 Maret 2022

Malam itu, Sabtu, 19 Maret 2022, menjadi malam yang ditunggu-tunggu jamaah Padhangmbulan. Nyaris tidak ada tempat kosong yang tersisa. Padat dan duduk mereka merapat, mulai sisi sebalah barat hingga halaman sebelah utara. Mbah Nun hadir di tengah anak cucu yang memendam rindu dan kangen.

Dok. Padhangmbulan

Rombongan Gambus Misri Bintang Sembilan melengkapi kebahagiaan jamaah. Usia para pemain Gambus Misri rata-rata tidak muda lagi. Namun, semangat dan daya juang menghidupkan kembali kesenian tradisional tidak lekang dimakan usia. Kesenian yang dimodifikasi dari ludruk ini lebih akrab dengan budaya kaum santri, selain karena lakon pertunjukan ludruk sempat ditunggangi oleh Lekra, ia juga dicitrakan sebagai pertunjukan yang penuh maksiat.

Usai penampilan Gambus Misri, Mbah Nun kembali menyapa anak cucu. Dialog dimulai dengan peneguhan jangan sampai kita tidak ridla terhadap apa pun yang berlangsung dalam hidup kita. Mbah Nun bukan sekadar mengajak atau sebatas memberi saran. Beliau bahkan menyampaikan sejumlah situasi yang beliau alami: mulai dari pembunuhan karakter hingga fitnah permusuhan di media sosial, dan satu-satunya cara bisa selamat di hadapan Allah adalah ridla.

Berkali-kali di hadapan anak cucu Mbah Nun menyampaikan pesan, “Awakmu kudu ridla!” Kamu harus ridla. Atas sejumlah keadaan yang berlangsung pikiran kita boleh tidak setuju, perasaan boleh merasa sedih, emosi boleh dendam. Namun, berkatalah pada dirimu, “Aku ridla (terhadap apa yang terjadi).”

Tidak setuju, mangkel, dendam, jembek, jijik merupakan respons yang bergerak di kulit permukaan kesadaran jiwa manusia. Kita tidak dapat melenyapkan respons dan gejala kejiwaan itu karena ia sudah terinstal secara laten dalam diri setiap manusia. Namun, kesadaran yang paling substantif, paling inti, paling hakiki, yakni kesadaran roh, harus bersila dalam gelombang ketenteraman: jiwa yang muthmainnah.

Dok. Padhangmbulan

Demikian pesan Mbah Nun kepada kita, para anak cucu Maiyah, agar menancapkan kesadaran ridla hingga menyentuh inti kesadaran yang paling dalam.

Apakah ada cara selain ridla agar Allah juga ridla kepada kita? Tidak ada. Raadliyatan dan mardliyaah adalah perjodohan yang Allah sendiri Konseptornya. “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dalam keadaan (kamu) ridla dan diridlai-Nya.” (Q.S. Al-Fajr: 27-28). Mbah Nun menjelaskan susunan redaksional ayat ini jelas: raadliyatan dulu, baru mardliyyah. Kita ridla kepada Allah dan mudah-mudahan kita diridlai Allah.

Bagaimana kita bisa ridla kepada Allah? Ini ilmu dasar Maiyah yang kerap dijelaskan Mbah Nun. Pertama, Kalau kita iman kepada Allah, maka kita juga mengimani bahwa seekor kambing, pohon kelapa, segelas air, udara, langit dan miliaran galaksi menjadi ada karena di-ada-kan oleh Allah.

Adanya setiap makhluk, baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata, hingga makhluk bernama fakta, realitas, dan fenomena diciptakan tidak sia-sia. Rabbanaa maa khalaqta haadza baathilaa. Artinya, kehendak Allah itu Haqq bagi setiap peristiwa dan makhluk. Kalau Allah tidak berkehendak pasti tidak terjadi. Kalau Allah berkehendak pasti terjadi. Kata manusia Jawa, “Nek iyo mosok ora, nek ora mosok iyo.”

Kedua, radliitu billaahi rabba. Pilihan kata yang digunakan adalah rabb. Aku ridla Allah sebagai Pengayom, Pembimbing, Pengasuh. Mbah Nun menegaskan apa yang terjadi di alam semesta: sehelai daun yang tanggal dari tangkainya, seekor semut mengangkut satu butir gula hingga peristiwa ekonomi, budaya, politik, semuanya berada dalam pengayoman dan pengasuhan Allah.

Dok. Padhangmbulan

Umpamanya tidak mengasuh alam semesta lalu melenyapkan satu dzarrah unsur terkecil dari kehidupan, dipastikan tatanan semesta ambruk.

Wanti-wanti Mbah Nun agar anak cucu menancapkan ridla, dengan demikian, bukan dalam rangka mengajarkan fatalisme, putus asa total, melainkan untuk menancapkan keteguhan fondasi tauhid kepada-Nya. Ilaihi raji’un kita murni kepada Allah.

“Kalau Anda ingin tetap sehat, segar bugar, tidak ambruk menghadapi peristiwa apa saja, suntikkan dalam jiwamu kesadaran ridla,” pesan Mbah Nun.

Ketiga, dan ini yang menurut saya sungguh mendasar dari apa yang disampaikan Mbah Nun. Tidak satu pun di antara kita mengetahui kapan maut akan menjeput. Bisa detik ini juga, satu menit lagi, satu jam, satu hari, atau entah kapan. Ketika maut datang dan jiwa kita belum atau bahkan tidak sedang bersila muthmainnah, maka pada saat itu kita tidak sebagai radliyatan, sehingga tidak termasuk mardliyyah. Bisa gawat akhir hidup kita.

Sebaliknya, setiap detik, setiap tarikan dan hembusan napas, kita bersila muthmainnah melalui totalitas radliyatan dan kepasrahan mardliyaah. Lalu Tuhan menyapa, “Masuklah kamu ke dalam golongan hamba-Ku dan masuklah kamu ke dalam surga-Ku.” (Q.S. Al-Fajr: 29-30)

Tegas sekali Mbah Nun menyatakan bahwa beliau bukan seorang pakar, bukan akademisi, bukan profesor, bukai kyai, bukan orang alim, bukan apa pun sebagaimana gelar kebudayaan akademik, politik, dan agama yang manusia modern menggagah-gagahkan dirinya. Mbah Nun adalah Mbah kita, Mbah dari para anak cucu Maiyah.

Dok. Padhangmbulan

Ini bukan sanepan. Mbah Nun menyatakan fakta sebenarnya karena yang pakar, yang ahli, yang hebat, yang sakti, yang ampuh adalah Allah Swt.

Atas semua wejangan itu Mbah Nun tidak sedang mengurai teori ridla. Nyaris sepanjang hidup beliau ngaji urip tentang ridla. Tidak kepincut kenikmatan dunia dan nama besar. Tidak silau oleh iming-iming surga. Tidak berkurang kasih sayangnya terhadap orang yang nglarani bahkan yang akan melenyapkan nyawa hidupnya. Kalau itu semua bukan karena ridla dan demi cinta kepada Allah, lantas karena apa dan demi apa?

Allah berfirman, “Antum ‘abiidy haqqan. Kamu adalah hamba-Ku yang sebenarnya.” Pernyataan dari Allah yang pasti didambakan oleh kita semua, jamah Maiyah, anak cucu Simbah.

Jagalan, 21 Maret 2022