Wisdom of Maiyah (222)

Setetes Air di Atap Rumah Bocor

Perkenalan saya dengan Maiyah cukup kompleks. Saya dibawa algoritma youtube lewat lagu-lagu Iwan Fals. Dari Om Iwan, saya mengenal Kantata Takwa yang di dalamnya ada seorang Maestro, beliau W.S. Rendra. Dari almarhum Rendralah saya mengenal Simbah dalam sebuah video ketika membuka acara yang memperingati kekaryaan Rendra. Tetapi, seperti sebuah takdir di saat itu, saya memang sedang dalam keadaan oleng atas hidup.

Hampa karena urusan remeh temeh dunia, saya sedang disorientasi karena ditinggal kekasih. Dari perkenalan seni, Maiyah justru membawa saya pada dimensi kehidupan lain yang selama ini belum pernah bersinggungan atasnya. Terbiasa dalam sebuah gemerlap eksistensi, harus menang atas segala hal, ingin diakui, dan ekstremnya ternyata saya adalah seorang yang egois. Meskipun bukan seorang yang punya penampakan luar berandal, tapi saya merasa “bukan orang baik” di dalam nurani.

Alhamdulillah mendapatkan kesempatan cukup istiqamah untuk bisa menghadiri Mocopat Syafaat dan Sinau Bareng di beberapa titik di Jogja semasa masih kuliah. Dilanjutkan pernah merasakan atmosfer Kenduri Cinta, Padhangmbulan, dan Bangbang Wetan; saya menemukan sebuah benang merah atas apa yang saya panen dari Maiyah. Dengan pemikiran sebelumnya yang haus pengakuan, saya berharap menjadi air terjun deras, luas sebesar Niagara, dan kalau perlu indah untuk bisa memberikan arti air kepada manusia di sekitar saya.

Namun, dari Maiyah saya menyadari bahwa tidak mengapa menjadi setetes air di atap rumah yang bocor. Mungkin hal ini bisa berkonotasi negatif karena air bocor di atap dianggap mengganggu. Tetapi jauh lebih dari itu, bagi saya tetesan air dari atap bocor adalah cara pandang lain bahwa hidup tidak selalu perlu kebesaran dan keindahan untuk diakui. Menjadi manusia yang berarti tidak melulu tentang seberapa besarnya, tetapi seberapa membekasnya, dan tetesan air bocor mampu melakukannya. Sekiranya frasa “Setetes Air di Atap Rumah Bocor” itulah yang mewakilkan panenan saya atas nandur Maiyah selama tujuh tahun terakhir ini.

Satu pesan yang saya kira mampu melengkapi “sekeranjang petikan buah” nandur Maiyah saya adalah yang selalu dititipkan Simbah kepada cucunya; tak jadi apapun itu tidak masalah, asal Gusti Allah ridha atasmu. Tugas manusia hanya berusaha menuju, bukan sampai.

Selama saya terus berikhtiar dan syukur-syukur mampu mewujud menjadi sebuah ijtihad, setetes air di atap rumah bocor pun akan punya makna tersendiri, menjadi pengingat atas hidup yang tidak selalu tentang keindahan, setidaknya hal ini berlaku bagi saya sendiri.

Seperti apa yang juga belakangan sering disampaikan simbah, menyifati Allah bukan hanya dari keindahan-Nya untuk pemaknaan hal-hal yang baik; tetapi juga yang sering terlewat dari saya bahwa Allah juga berhak menjadi apapun menurut-Nya seperti dalam sifat jaiznya fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu yang terjemahan dari artikel di google adalah Allah dapat melakukan sesuatu hal dan dapat pula tidak melakukan sesuatu hal.

Wallahu a’lam bish-shawab.