Seorang Gelandangan

Cerpen ini diambil dari Cerpen Emha Ainun Nadjib, Yang Terhormat Nama Saya, SIPRESS, Yogyakarta, 1992

Pada suatu siang yang amat panas aku melihat seorang gelandangan. Tubuhnya nampak jelas tak pernah mandi atau dicuci. Pakaiannya kumal dan juga jelas tak pernah ganti. Tetapi yang menarik ialah jalannya yang tegak berderap ke depan dan air mukanya yang lurus mengarah ke satu titik. Wajahnya berkeringat, dengan kilatan yang aneh. Rambutnya tak terurus dan dibiarkannya dikibar-kibarkan angin. Matanya berbinar-binar dan pandangannya demikian utuh sehingga menumbuhkan keasingan apabila kita lantas membayangkan mata seorang gelandangan seperti yang pernah dikenal oleh kesan-kesan kita.

Jalan dan gerak ke depannya begitu teguh sehingga aku tidak merasakan ia sedang berjalan di atas tanah ini serta bahwa ia sedang berada di antara rumah-rumah manusia, di antara pepohonan, angin, kawat-kawat listrik, suara-suara kendaraan, kegaduhan di sepanjang jalan, bahkan di antara segala isi bumi ini dan langit. Kehadiran gelandangan itu dengan sosok dan iramanya sedemikian bulat sampai aku tidak percaya bahwa sesungguhnya ia berada di alam ini, dan akhirnya aku sendiri merasa khawatir terhadap keberadaanku sendiri. Tiba-tiba aku menoleh ke sekeliling untuk meyakinkan kehadiran dan lingkunganku. Kemudian kutatap tubuhku sendiri dan sungguh mati aku sukar mempercayai bahwa dia inilah aku yang kukenali selama ini, bahkan yang telah berpuluh tahun kupasrahi untuk meletakkan dan menjamin kedirianku. Akhirnya aku tak sempat meniti kembali kepercayaanku yang menggoyah ini sebab tanpa kurasakan ternyata kakiku telah demikian jauh mengikuti jalannya gelandangan itu.

Ini suatu keasingan yang menekan hatiku dan menyakitkan dadaku. Terang ini hal yang baru. Aku bagaikan lahir kembali menjadi sesuatu yang belum bisa kupahami, tetapi sementara itu aku merasa makin cemas pada masa laluku. Kurang ajar betul gelandangan itu. Ia sungguh tak pernah ada sangkut pautnya denganku. Tetapi ia kini mempecundangiku. Jalannya yang bulat dan serba tak perduli itu jelas menyindirku. Langsung atau tak langsung. Sengaja atau tidak sengaja.

Aku mengejarnya lebih cepat. Tetapi apakah aku sedang mengejarnya atau justru ia yang menarik kakiku untuk berjalan ke arah yang sama dengannya? Aku tertegun sejenak. Tapi hanya pikiranku. Sedang kakiku seperti diseretnya sesuai dengan irama jalannya.

Tiba-tiba aku berlari. Ini mengherankan Kakiku berlari sedetik sebelum pikiranku meniatkannya. Siapa gerangan ia? Tetapi di dalam otakku ada yang mendadak menyergap pertanyaan itu. Kenapa pula ditanyakan ia siapa? Siapapun ia. Apapun ia. Aku tiba-tiba tidak bisa dan merasa tak perlu membedakan apa atau siapa. Kemudian mendadak pula aku merasa asing dengan sebutanku bahwa ia seorang gelandangan. Bahkan aku tidak melihat kebenaran kenapa aku menyebutnya seseorang. Maka gugurlah segala yang pernah kukenal sebagai sebutan bahasa yang berdasar pada ukuran, sifat atau penglihatan.

Aku terbelah. Lebih dari terbelah. Tubuhku dipegang oleh dua tangan dan ditarik ke arah yang berlawanan. Aku sobek dan berdarah. Masa silamku di dada jiwaku seperti tancapan pisau tajam yang akhirnya bercampur, bersenyawa dan menjadi satu dengan pertumbuhan darah dagingku. Kini pisau itu dicabut amat keras dan mendadak. Jiwaku memekik. Dagingku berlobang dan darahku memuncrat. Aku arang keranjang. Sukmaku bermaksud hendak meloncat dan berpihak ke permukaan langit. Tapi tak bisa. Tanpa kuinginkan sendiri aku terus menggenggam sukma itu dan pun tanpa kukehendaki sendiri kakiku terus berjalan mengikuti si gila itu, Pang! Tiba-tiba sesuatu menamparku. Baik. Aku tahu salahku. Menyebutnya sebagai si gila. Si gila adalah sebutan yang berasal dari pengenalan suatu sifat yang kuperoleh dari pisau masa silam yang kini telah tercabut. Tapi aku ingin masa silam itu lenyap sama se kali. Aku tak kuat menahan sakit karena ia meminta separo nyawaku.

Ia tak perduli. Aku terus diseretnya. Ia berjalan dengan kebulatan. Iramanya pasti dan pandangannya teguh ke satu titik. Kakiku bergerak terus mengikutinya begitu. Sebenarnya kurasakan ada yang mendorongnya jauh dari dalam jiwaku. Tetapi pikiranku yang bajingan. Ia mencoel-coel dan memecah keutuhan yang dengan sendirinya terbangun itu. Betul-betul bajingan. Aku ingin bulat-bulat tenggelam dalam seretannya tanpa kesadaran pikiran apapun, atau aku tidak mengalami seretan itu sama sekali. Terasa sukmaku makin terulur-ulur kedua arah. Kesakitan makin menekan.

“Mau kau kemanakan aku?” pikiranku muncul di mulutku.

la tak menjawab.

“Apa hakmu menyeret-nyeretku begini?”

la bisu.

“Apa salahku?”

Ia diam.

“Katakan niatmu terus terang. Kau musti bertanggung jawab!”

la tetap dalam sikapnya.

“Baiklah. Kalau jawabanmu adalah kebisuan, terangkan kepadaku apa makna kebisuanmu!”

la terus dalam kebulatannya. “Kau menghardik masa silamku?”

Ia tak berubah.

“Untuk apa bibirmu dipasang di mukamu itu jika tidak untuk melontarkan sesuatu dari pikiranmu.”

la teguh.

“Berfungsilah sebagai sesuatu yang ada!”

la total.

“Apa kau menolak fungsi?”

Ia suntuk.

“Tidakkah wajar menurutmu jika sesuatu ada untuk menginginkan sesuatu serta untuk berguna bagi ada lainnya?”

la tak menunjukkan isyarat yang lain.

“Tidak sahkah pada pikiranmu jika sesuatu yang ada berusaha memperoleh sesuatu umpamanya dari yang paling sederhana saja? Makanan, minuman untuk tenggorokan dan perut. Pakaian buat membungkus badan. Kendaraan untuk tidak menyiksa kaki. Rumah buat berlindung dari matahari dan hujan. Sistem pendingin udara untuk menghindarkan kegerahan. Senjata-senjata untuk membela diri. Cara dan susunan kehidupan untuk mendisiplinkan pergaulan. Sekadar alat-alat ala kadarnya untuk memenuhi keinginan untuk nikmat dan senang. Tidak layakkah sesuatu berusaha memperoleh benda-benda atau gaya-gaya sekadar untuk memanfaatkan sedikit kesempatan berada dalam keberadaan?”

Ia tetap kokoh dalam kediamannya.

“Baiklah. Barangkali aku telah salah sangka terhadap segala sesuatu yang kuraih. Barangkali aku terlalu cepat meyakini ketercapaian, kebahagiaan atau pertemuan. Katakanlah aku telah dijebak oleh apa yang kuciptakan sendiri dan apa yang kucari karena kusangka akan menjawab keinginan-keinginanku. Katakanlah bahwa kerinduan adalah cakrawala. Katakanlah bahwa ia tidak bisa diselesaikan oleh seonggok benda atau hiburan-hiburan kecil yang menipu. Katakanlah bahwa masa silamku telah berpihak kepada sesuatu yang salah. Katakanlah. Tetapi katakanlah!”

Ia terus saja berjalan dan menatap ke satu titik di depan. Tidak menoleh dan tidak mendengarkan.

“Katakanlah bahwa jiwa dan badan sesungguhnya tak bisa dipersenyawakan, kecuali menyisihkan atau membunuh salah satunya!”

Ia setia pada keadaannya.

“Katakanlah bahwa masa silamku itu merupakan arena pertarungan antara keduanya!”

Ia tak tergerak dari sikapnya.

“Baiklah, aku memang telah terlampau menyederhanakan konflik itu. Tetapi katakanlah bagaimana membisu darinya?”

Ia tegak dalam dirinya.

“Aku telah kau pecah. Kau cecer-cecerkan. Rasa sakitku tak tertahankan. Sesungguhnya sejak lama aku memang ingin lenyap sama sekali. Tetapi tak ku tahu bagaimana meniadakan diriku. Lebih tak kutahu lagi bagaimana meniadakan diriku dalam adaku ini, seperti kamu. Ucapkanlah sepatah kata saja. Sepatah saja!”

Ia terus berjalan. Teguh dan utuh.

“Sepatah saja!”

Ia total. Bulat dan tegar.

“Atau, tidak diperlukankah kata?”

Ia diam. Menatap tajam ke satu titik di depan.