Sastra Liman Bincang Kepahlawanan “Singa Tanoh Singkil”

Figur kepahlawanan kerap disembunyikan sejarah. Siapa didapuk menjadi pahlawan acap kali bergantung pada kekuasaan dominan. Keadaan ini mendorong SastraLiman Rabu malam (03/12) menghadirkan sosok pahlawan dari kawasan Serambi Mekkah. Diskusi dihelat di Rumah Maiyah Kadipiro dan ditayangkan daring di kanal YouTube PERPUS EAN. Selain dimaksudkan untuk memperingati momentum Hari Pahlawan, perbincangan tadi malam ditandaskan sebagai bentuk penghormatan kepada figur kepahlawanan daerah. Figur ini bernama Sultan Daulat Sambo: Singa Tanoh Singkil yang sepak terjangnya dituangkan dalam bentuk novel besutan Agus Wahyudi.

Sultan Daulat Sambo merupakan salah satu raja di Kota Subulussalam. Sambo merujuk pada nama marga. Kepahlawanan Sultan Daulat Sambo menentang penjajahan Belanda melegenda di tengah memori sosial masyarakat. Sultan Daulat Sambo pantang tunduk kepada penjajah. Perjuangan tanpa kompromi itu kemudian membuatnya akrab dengan Sisingamangaraja XII, Raja Tanah Batak. Sisingamangaraja XII bahkan berperang dengan Belanda selama tiga dasawarsa. Tekad ini pula yang mendorong Sultan Daulat Sambo melakoni gerakan serupa.

Mbah Nun berpendapat, penulisan sosok pahlawan daerah merupakan upaya memintal narasi kesejarahan Nusantara. Selama ini, menurutnya, urusan sejarah di Nusantara banyak ketlingsut (terselip). Sebuah kondisi kesengajaan yang berhulu pada ketidakjujuran sejarah. Berjasa atau tidaknya seseorang, lanjut Mbah Nun, tidak benar-benar dipahami kebanyakan orang. Penulisan Sultan Daulat Sambo dari tanah Aceh karenanya sangat diapresiasi Mbah Nun.

Iguh Mas Agus ini sangat besar. Kita membutuhkan Agus-Agus yang sebanyak-banyaknya. Mas Agus bisa (kembali) mengeksplorasi lebih luas dan mendalam. Melakukan tahapan-tahapan dan bertemu dengan mereka yang masih mengkaji sejarah Nusantara,” ucap Mbah Nun. Menggandeng narasumber yang sering menggeluti sejarah Nusantara akan memperkaya perspektif, akurasi data, dan khazanah nilai atas bahan penulisan. Tindakan ini ditujukan agar masyarakat lebih mengenal sejarah mereka sendiri.

Kritik terhadap penulisan sejarah tidak luput diwedarkan Mbah Nun. Beliau menguraikan tiga kategori penulisan sosok, yakni sejarah, babad, dan dongeng. Hemat Mbah Nun, jangan sampai penulisan berhenti pada sekadar dongeng. Beliau menggadang minimal penulisan babad. Penulisan sejarah pun, imbuh Mbah Nun, masih berperspektif Barat. Mbah Nun merekomendasikan bukan hanya mengambil perspektif Indonesia sentris. Melainkan juga berwawasan kedaerahan. “Soal Arung Palakka saja,” Mbah Nun mencontohkan, “sebagian besar sejarah dianggap penghianat, padahal (dia) berjuang menentang penjajahan Bugis kepada bangsanya.”

Proses Kreatif

Agus Wahyudi menceritakan proses kreatif di balik penulisan. Selama menggarap novel, 

Agus mengaku minim memperoleh data penulisan figur Sultan Daulat Sambo. Data arkeologis dan kepustakaan lumayan terbatas. Kebanyakan data berupa cerita tutur. Akibatnya, data lisanan semacam ini membuat Sultan Daulat Sambo dibicarakan dalam berbagai sudut pandang. “Inilah yang membuat buku ini tipis,” kata Agus menyebut garapannya sebagai novel kecil.

Pemilihan genre fiksi ketimbang ilmiah Agus sadari agar pembaca “lebih menikmati dan mengetahui” siapa Sultan Daulat Sambo. Penulis buku yang menuturkan ulang Serat Centhini 1-12 ini mengaku mendapatkan inspirasi mengangkat sosok Sultan Daulat Sambo ketika berada di Singkil, Aceh Selatan. Di kawasan bernama Tanah Batuah (tanah keramat) itu Agus baru menyadari ternyata Syekh Hamzah Fansuri dulunya bertempat tinggal di sini. Di antara para tokoh setempat, ada sosok Sultan Daulat Sambo yang jarang dibicarakan.

“Ketika saya tanya ke warga pada nggak tahu riwayatnya,” kenang Agus. Dia pun mengumpulkan berbagai informasi, bertanya kepada keturunan Sultan Daulat. Baru saat kembali ke Yogyakarta Agus mulai menyusun sepak terjang Sultan Daulat Sambo. Dia menulis di saat pandemi. “Ketika saya menulis ini saya belum ada gambaran. Tapi yang jelas tokoh ini sudah disahkan sebagai pahlawan daerah,” tambahnya.

Agus mendapatkan benang merah perjuangan antara Sultan Daulat Sambo dan Pangeran Diponegoro. Kesinambungan dua tokoh ini adalah sama-sama pantang menyerah. Patriotisme menjaga martabat warga setempat dengan mengerahkan segenap kekuatan melawan kolonial Belanda membuat Agus memutuskan untuk menuliskan figur Sultan Daulat Sambo. “Yang patut kita teladani adalah semangatnya. Bukan wilayahnya,” ungkap Agus mendudukkan kedua figur pahlawan di Aceh dan Jawa itu.

Junaedi, mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, menambahkan informasi mengenai Sultan Daulat Sambo. Menurutnya, tokoh ini berasal dari Tanah Batak. “Masih ada hubungan kekerabatan dengan Raja Sisingamangaraja. Waktu itu Sultan Daulat merantau meninggalkan Tanah Batak dengan beberapa rombongan. Ketika mendirikan kerajaan Batu-Batu, Sultan Sambo mengumpulkan raja di sekitarnya. Mereka saling bekerja sama. Namun, mereka tetap tunduk pada Kerajaan Aceh Darussalam,” papar Junaedi.

Kritik Penulisan

Saat penulis memungkasi penulisan, karyanya terhidang di hadapan sidang pembaca. Otoritas pengarang bergeser ke arah otoritas pembacaan audiens pembaca. Budi Sardjono tadi malam menuturkan pembacaan kritis atas karya Agus Wahyudi. Menurutnya, “buku tipis” besutannya belum memadai disebut sebagai novel. Pasalnya, karya ini lebih panjang daripada cerpen dan lebih pendek ketimbang novel. Budi menyebutnya sebagai novelet atau novela atas pertimbangan jumlah halaman. “Teorinya begitu,” komentar Budi.

Pada segi naratologi, karya Agus belum mengeksplorasi detail penceritaan. Misalnya, deskripsi atas tanah Singkil seperti apa masih belum begitu jelas. Budi menyarankan, manakala akan dicetak ulang, sebaiknya di bagian depan dimunculkan peta Singkil, letak geografis kerajaan di sekitarnya, dan uraian pendukung lainnya. “Kalau tidak dikasih peta, nanti pembaca bingung. Peta ini menolong pembaca supaya ikut berimajinasi,” ujarnya.

Budi melanjutkan, dipandang dari segi kebahasaan, karya Agus kurang “memfiksi” lantaran masih dominan “bahasa penelitian”—imajinasi penceritaan pengarang dinilai kurang liar. “Misalkan karya itu menceritakan orang tua Daulat Sambo, ya kayak masih menceritakannya seperti peneliti,” tambah Budi.

Adegan perlawanan Daulat Sambo terhadap Belanda pun kurang mendetail. Strategi peperangan Belanda masih dituliskan sekadar mendapatkan senjata api, meriam, dan melatih tentara lokal. Adegan ini menurut Budi kurang digarap secara ekstensif. “Padahal, bisa dieksplorasi Belanda seperti apa, gaya hidupnya gimana, perawakannya seperti apa, dan lain sebagainya,” ungkap Budi. Novelis berbahasa Jawa dan Indonesia ini mengimbuhkan, kemampuan penulis fiksi terdapat pada imajinasi. “Data tetap penting. Riset, iya. Tapi kalau tidak didukung imajinasi ya kurang hidup,” paparnya lebih lanjut.

Helatan bulanan Sastra Liman malam itu memperoleh gayung bersambut para penanya. Pertanyaan berkisar pada masalah penulisan kreatif, alasan rasional mencintai Indonesia melalui momentum Hari Pahlawan, dan sosok pahlawan berbasis kedaerahan diungkapkan secara dialogis. Khocil Birawa, perwakilan tim Sastra Liman, mengumumkan kalau Sastra Liman secara rutin bukan hanya membahas karya sastra. Namun, dia mengatakan Sastra Liman terbuka untuk membincang teater, seni rupa, monolog, seni musik, dan lain-lain. Sastra Liman berupaya menghadirkan dialog seni dan budaya lintas-disiplin.