Wisdom of Maiyah (201)

Ruang Rindu Maiyah

Ta’dzim kulo kagem Mbah Nun, Cak Fuad, Bapak-bapak Kiai Kanjeng, jamaah Maiyah sedanten. Mohon maaf atas kesempitan dan kedangkalan tulisan ini sehingga mengurangi keluasan semesta Maiyah. Begitu luasnya ruang dan waktu Maiyah: kata, frasa, kalimat, atau apa pun dapat compatible untuk memaknai Maiyah.

Tidak ingat persis kapan saya mengenal Maiyah. Yang jelas saya pertama kali menyaksikan dan mendengar uraian Mbah Nun bersama Habib Anis dalam Majelis Suluk Maleman di Aswaja TV.

Saya merasa menyesal berada dalam ruang dan gelombang Maiyah. Penyesalan itu masih saya rasakan hingga sekarang. Jangan nesu geh. Yang melatar belakangi penyesalan saya adalah mengapa tidak sejak dahulu saya mengenal, atau minimal sekedar tahu saja, tentang Maiyah.

Saya mengenal Mbah Nun saat sudah menyelesaikan kuliah dan pulang merantau dari Jakarta. Saya pulang kampung, menjadi guru honorer di salah satu sekolah. Kembali ke kampung halaman tanpa mengenal Maiyah adalah penyesalan besar.

Allah menurunkan rahmat-Nya kapan pun dan di mana pun. Alhamdulillah saya diperjalankan turut menikmati gelombang cinta kasih di semesta Maiyah. Majelis para Al-Mutabbuuna filllah yang teguh gondelan klambine Kanjeng Nabi.

Maiyah dan Mbah Nun bukanlah partai politik yang mencari atau mengumpulkan kader. Tidak mengandalkan idolatri apalagi memobilisasi massa untuk kepentingan kekuasaan. Maiyah bersedekah kepada Indonesia. Tidak ikut menjarah kekayaan negeri ini.

Panjenengan telah mendorong kami untuk mengakrabi Al-Qur’an, mewanti-wanti untuk iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq. Panjenengan dan Cak Fuad telah menghadiahi kami Mushaf Alqur’an dan Tadabbur Maiyah Padhangmbulan.

Belum sekalipun aku bertatap muka dengan Mbah Nun. Namun, aku merasa berada dalam Ruang Rindu Maiyah.