Rakyat Sudah Nasionalis Sehari-hari dari Dulu

Liputan 1, Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng Rumdis TNI AL Wonosari Surabaya, Minggu 21 Agustus 2022

Dari pidato-pidato para tokoh, banyak kita dengar seruan yang mengajak kepada kerukunan. Tetapi, Mbah Nun memiliki logika yang berbeda. Beliau mengajak kita untuk menunjukkan bahwa kita sudah rukun. Seruan agar kita menciptakan kerukunan itu seakan mengatakan kita sebagai rakyat belum rukun. Padahal, kita sudah rukun.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Dari pidato-pidato itu pula, kita dengar seruan yang mengajak kita untuk memiliki jiwa nasionalisme, tetapi Mbah Nun punya cara berpikir berbeda. Bagi beliau, nasionalisme itu bukan sekadar sudah dimiliki tetapi sudah terwujud pada diri rakyat. Rakyat tak butuh fasilitas apapun untuk menjadi nasionalis. Rakyat sudah sehari-hari nasionalis.

Sudah rukun dan nasionalisnya rakyat itu satu paket dengan watak rakyat Indonesia yang tangguh, ubet, tahan banting, kendel, nekat, dan kabeh dilakoni. Menurut Mbah Nun, Indonesia maju karena rakyatnya punya karakter dan antropologi yang demikian itu.

Semalam keluarga besar RW 05 Rumdis TNI AL Wonosari Surabaya menggelar Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng bertempat di lapangan RW setempat. Acara diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-77 dan Peringatan Hari Besar Islam. Salah satu tema yang diangkat adalah “Dedikasi Prajurit Samudera kepada NKRI”.

Di atas panggung, Mbah Nun menjalinkan interaksi dan kebersamaan TNI AL dengan masyarakat dan jamaah yang hadir tidak hanya dari Surabaya tetapi dari daerah-daerah lain. Jajaran TNI AL yang hadir di antaranya adalah Laksamana Pertama TNI Andi Abdul Aziz, Kepala Staf Komando Armada II sekaligus mewakili Pangkoarmada II. Beliau duduk di samping kanan Mbah Nun. Turut menemani Mbah Nun pula Kyai Agus Bimo Sunarno dan Mas Suko Widodo.

Begitu naik ke panggung, Mbah Nun segera mengajak semua hadirin untuk berdiri menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, dan dilanjut dengan menyanyikan Mars TNI AL diiringi musik KiaiKanjeng. Setelah bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars TNI AL sembari mempersilakan duduk kembali, Mbah Nun mengingatkan ada satu lagu yang sangat relevan dengan tema acara dan penting untuk diingat karena menyangkut antropologi geografis bangsa kita. Lagu tersebut adalah Nenek Moyangku Orang Pelaut.

Mbah Nun meminta di antara yang hadir maju ke depan buat menyanyikan lagu tersebut. Dengan cepat, seorang ibu angkat tangan dan bergerak ke panggung. Mantap, penuh semangat beliau membawakannya, dan suaranya juga enak. Sejenak setelah itu beliau diajak ngobrol sama Mbah Nun. Beliau bernama Ibu Suprapto. Warga Rumdis TNI AL Wonosari Surabaya ini, yang berarti beliau adalah istri anggota TNI AL.

Memang acara ini digelar di dalam perumahan dinas TNI AL yang berada di kawasan besar Markas TNI AL Surabaya. RW 05 ini saja jumlahnya 900 KK. Warga Rumdis TNI AL ini seratus persen anggota TNI AL dan ASN. Saat memasuki kompleks Rumdis, rombongan KiaiKanjeng menyaksikan suasana perumahan para anggota TNI AL di mana jalan-jalannya rapi dan bersih. Bendera-bendera merah putih mewarnai di pinggir jalan menandai peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-77.

Dari awal Mbah Nun sudah menegaskan bahwa rakyat sudah rukun dan sudah nasionalis serta memiliki karakter tangguh, ubet, tahan banting, dan kendel. Kenyataan rakyat yang seperti ini menjadi lensa dalam melihat eksistensi TNI khususnya TNI AL. Prajurit-prajurit TNI AL pun memiliki karakter yang sama. Mbah Nun menceritakan unggulnya prajurit-prajurit TNI dalam berbagai level internasional. Juga sejarah, misalnya, Vietnam dulu berguru kepada tentara Indonesia. Mbah Nun mengajak hadirin untuk menyadari bahwa Indonesia adalah superpower.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Mbah Nun tidak pernah bosan mengatakan karakter khas dan unggul rakyat Indonesia di atas, dan ini merupakan pandangan yang sungguh-sungguh, yang kebanyakan orang tidak memahami. Semua yang dikatakan Mbah Nun tentang manusia dan rakyat Indonesia ini, tidakkah merupakan prasyarat kesadaran, ilmu, dan konstruksi berpikir historis yang dibutuhkan untuk membangun masa depan Indonesia? Tidakkah semua itu merupakan kerangka yang diperlukan jika kita berbicara tentang membenahi apa-apa yang harus dibenahi dari keadaan Indonesia hari ini?

Semua jamaah dan masyarakat menyimak apa-apa yang disampaikan Mbah Nun. Seperti di tempat lain sebelumnya, di halaman pabrik, di lapangan besar, dan tadi malam lokasinya agak berbeda: di dalam komplek perumahan. Tetapi yang tampak tetap sama: jamaah yang selalu mengalir sangat banyak, duduk rapi, pedagang yang difasilitasi panitia dengan diberi tempat khusus di lapangan volly beberapa puluh mater dari lokasi. Semua mengalir dengan rapi, tertata, dan terpola. Sejak usia isya’ mereka sudah memadati lokasi, bersiap menyambut Sinau Bareng dimulai. (caknun.com)