Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)

Garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat adalah Puskesmas. Ya, Pusat Kesehatan Masyarakat adalah pintu utama bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan dasar dalam bidang kesehatan. Ini adalah amanah konstitusi lho. Sebagaimana tertuang dalam Pasal 28 H Ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

Pelayanan kesehatan adalah hak bagi setiap insan yang ada di negara ini. Di dalam unit kecil yang bernama Puskesmas ini, kita jumpai semua prinsip yang ada dalam ilmu kesehatan masyarakat. Prinsip-prinsip tersebut adalah promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jadi, unit teknis ini sangat banyak kerjaannya dan sangat besar jasanya. Terlebih adalah unit ini menyediakan data primer yang merupakan potret utama tentang kondisi masyarakat kita, khususnya di bidang kesehatan.

Di dalam Puskesmas ada tenaga penyuluh kesehatan (untuk tindakan promotif), ada jurim (juru imunisasi) sebagai pentolan tindakan preventif, ada ahli gizi, ada petugas lab, perawat, bidan, dokter gigi, dokter, dan sarjana kesehatan masyarakat, yang sekarang banyak menjadi pimpinan puskesmas. Di beberapa puskesmas yang agak besar ada unit rawat inapnya, di mana sarana pendukungnya pasti lebih lengkap, punya peralatan radiologi, punya petugas rehabilitasi medik. Jadi, semakin lengkaplah fungsi-fungsi sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan untuk masyarakat.

Tujuh tahun saya mengabdikan diri di Puskesmas sebelum saya nyantrik lagi sebagai residen di Ilmu Kesehatan Anak. Empat tahun saya bekerja di Puskesmas Dlingo II dan tiga tahun sisanya saya habiskan di Puskesmas Kasihan, di wilayah Bangunjiwo.

Saya mengaplikasikan ilmu yang saya peroleh di bangku kuliah untuk masyarakat. Eeeh ternyata di situ malah saya belajar banyak dari masyarakat. Berbagai macam kegiatan kami lakukan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan. Kami dalam satu tim melakukan kegiatan rutin yang bernama kunjungan ke posyandu (pos pelayanan terpadu), baik pada jam kerja maupun di luar jam kerja. Di situ ada kegiatan promotif berupa dialog dengan penduduk dusun di mana kami melakukan kunjungan ke posyandu.

Awalnya kami menyampaikan materi penyuluhan tentang kesehatan. Apa saja, baik tentang penyakit, wabah, lingkungan, kebersihan, dan kesehatan jiwa. Kami berdialog, baik dengan ibu-ibu maupun bapak-bapak. Saya tidak canggung lagi dalam kegiatan semaccm ini, karena sudah digembleng pada waktu KKN dulu. Di sebuah desa yang terpencil yang bernama Tlogo, Kecamatan Candiroto, Temanggung, saya melakukan Kuliah Kerja Nyata. Desa yang kami tempuh dengan berjalan kaki selama hampir tiga jam dari pinggir jalan di mana batas kendaraan bisa mencapainya dan harus menyeberangi dua sungai yang mengalir, karena pada waktu itu belum ada jembatan.

Bersama penduduk Desa Tlogo, yang dimotori oleh pak Lurah Kamto, kami membuat SPAL (saluran pembuangan air limbah) yang sederhana, menggunakan bahan-bahan yang ada di desa itu. Ini adalah aplikasi dari tindakan preventif untuk mecegah terjadinya penyakit menular akibat pembuangan limbah yang asal-asalan.

Kegiatan preventif kami di Puskesmas dalam kegiatan posyandu adalah mengadakan kegiatan imunisasi. Kita harus datangi mereka karena memang transportasi ke Puskesmas sangat terbatas. Malahan saya menemui sebuah dusun binaan kami yang hanya bisa dicapai dengan jalan kaki. Karena kuda pun tak sanggup mencapainya. Sebuah dusun yang berada di kaki tebing Pegunungan Seribu yang sejuk dan indah, namun akses ke dusun itu sangat terbatas. Itulah potret kondisi Dusun Nglingseng 32 tahun yang lalu.

Tetapi, di balik kondisi terpencil ini saya menemui masyarakat yang sangat hangat, menyambut kami dengan antusias dan gembira. Dan pasti kami disuguhi dengan makan besar dengan lauk ikan dari kolam penduduk setempat. Walaupun masih di DIY dan tak lebih dari 25 km dari pusat kota, saya menemukan daerah yang seperti itu. Dalam kunjungan posyandu, kami juga melayani kegiatan kuratif, biasanya untuk pasien-pasien geriatri yang keluhan sakitnya adalah penyakit kasepuhan. Pusing, boyok pegel, sakit otot, dan penyakit tekanan darah tinggi. Praktek sore? Tidak. Sepertinya saya tak berbakat untuk ini. Saya tidak tega untuk bilang berapa rupiah saya harus menghargai jasa dan tenaga saya. Di samping kondisi masyarakat yang mayoritas lebih pantas ditolong. Maka yang terjadi adalah ada seonggok petai, atau kelapa atau hasil ladang yang berada di depan pintu rumah dinas saya sesudah saya dipanggil untuk memberi pengobatan.

Ada satu catatan penting sekaligus surprise ketika pada awal saya kerja di Puskesmas tiba-tiba saya didatangi oleh Pak Camat Dlingo. Ternyata Pak Camat itu adalah Mas Sahid, tetangga sendiri, dan sering ketemu di Musholla. Sungguh saya terkejut. Dalam obrolan kami, Mas Sahid yang Pak Camat itu berpesan, yang selalu saya ingat, bahkan sampai sekarang. “Ed, aku sebagai Camat tidak menuntut kamu untuk datang ke Puskesmas tepat waktu. Tetapi yang kuminta adalah kamu datang selamat, mengingat perjalanan ke tempat ini tidak mudah. Masyarakat di sini membutuhkanmu.”