Puluhan Ribu Orang Menyatu Organis dalam Maiyahan di Gumul Kediri

Liputan 1, Sinau Bareng Gempita 77 Tahun Kemerdekaan RI, Lapangan Gumul Ngasem Kediri, 15 Agustus 2022

Sore masih belum banyak yang datang. Habis maghrib, mulailah arus berdatangan dari berbagai arah. Area lapangan Simpang Lima Gumul Ngasem Kabupaten Kediri, yang luasnya lebih besar dari lapangan sepakbola, seketika tadi malam menjadi dipenuhi puluhan ribu orang.

Tetapi pemandangannya unik, karena puluhan ribu orang itu duduk lesehan semua di atas tanah. Tanpa ada effort susah dari petugas atau panitia dalam mengomando mereka untuk duduk. Tanpa diminta, mereka mencari tempat sendiri, bahkan saling memberi tempat satu sama lain. Tak ada rebutan. Tak ada desak-desakan. Menyaksikan puluhan ribu orang duduk rapi, semua mata terfokus ke depan, adalah sesuatu.

Itulah pemandangan awal dari “organis”-nya Sinau Bareng atau Maiyahan bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng, hampir di semua tempat, tak terkecuali tadi malam di Lapangan Gumul Kediri dalam rangka memperingati HUT ke-77 Kemerdekaan RI yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Kediri.

Ketika tadi malam Mbah Nun naik panggung beserta Mas Bupati Dhito beserta jajaran Forkompimda Kediri, yang terjadi pun sesuatu yang organik. Langsung aja gitu. Langsung nyambung. Tak ada pembukaan-pembukaan formal. Tahu-tahu para puluhan ribu anak-cucu itu udah nyambung ketika Mbah Nun berbicara, dan tahu-tahu pula sudah masuk ke sejumlah inti, sembari terjalin keakraban. Tema dan pesan mengalir di setiap titik waktu dalam pembicaraan Mbah Nun.

Sinau Bareng tadi malam mengambil tema besar: “Muda, Merdeka, Berkarya.” secara lebih khusus, Sinau Bareng ini dimaksudkan agar publik dan jamaah belajar kepada Mbah Nun tentang nasionalisme keindonesiaan dan bagaimana menghargai jasa para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Untuk ini, Mbah Nun meminta tiga kelompok jamaah buat berdiskusi menjawab dua pertanyaan dari beliau.

Dua pertanyaan itu adalah, pertama, kalau memakai perumpamaan urutan bluluk, cengkir, degan, kelapa, apakah Indonesia sudah sampai pada tahap kelapa? Jika iya, degan-nya apa, cengkir-nya apa, bluluk-nya apa? Apakah kalian puas atau tidak puas dengan semua fase itu? Kedua, apa aspirasi kalian terhadap “bluluk sampai kelapa“-nya Indonesia itu? Apa harapan dan cita-cita kalian terhadap semua itu?

Metode workshop ini dalam Sinau Bareng ini suka menghasilkan pandangan yang kaya. Pandangan yang kita tidak menyangkanya sebelumnya, mungkin karena kita sudah punya pandangan sendiri, atau karena kita terlambat dalam menyadari kemungkinan banyak jawaban yang muncul.

Kita ambil misalnya jawaban kelompok pertama yang dijurubicarai seorang mbak-mbak. Kelompok ini berpendapat bahwa Indonesia saat ini posisinya belum Kelapa, masih degan. Adapun bluluk-nya adalah ketika Indonesia merdeka pada 1945. Sedangkan degan-nya adalah saat Reformasi 1998. Menariknya kelompok ini mengatakan kalau masyarakat Indonesia sudah sampai tahap kelapa. Masyarakatnya baik, rukun, dan tangguh. Ini adalah suatu kelapa. Suatu ‘jadi’.

Sedangkan negara atau pemerintahnya belum, masih degan. Alasannya, masih banyak yang belum diberikan kepada rakyat. Harga minyak mahal, salah satu contohnya. Kesejahteraan tidak merata. Membuat analisis yang membedakan “bluluk hingga kelapa”-nya antara masyarakat dan negara adalah sesuatu juga. Cerdas. Ini lagi-lagi adalah organis tingkat tinggi. Suatu kemampuan konek yang terlihat dalam dioperasikannya analisis yang terkandung dalam pertanyaan Mbah Nun.

Ketika juru bicara kelompok satu menyebut “kalau masyarakatnya, sudah kelapa…”, Mbah Nun pun dengan cepat menangkap berarti ada yang bukan masyarakat yang belum mencapai posisi kelapa. Walaupun Mbah Nun sendiri membayangkan bahwa bluluk Indonesia yang dimaksud adalah jauh ke belakang ke masa leluhur kerajaan yang tua, termasuk masyarakat dan kerajaan Kadiri yang sangat tua. Tetapi, Mbah Nun senang dengan bahwa pertanyaan itu mampu menghasilkan jawaban yang bagus juga.

Jawaban kelompok satu ini terasa menjadi contoh bila kita siap berorganis satu sama lain, maka bersiap pula kita dengan kekayaan perspektif dan pemikiran. Dengan workshop seperti ini Mbah Nun menunjukkan kepada kita, puluhan ribu orang tadi malam dan juga Mas Bupati berserta Forkompinda Kediri, begitu banyak kekayaan pemikiran yang sebenarnya kita miliki, dan kita perlu saling mendengarkannya. Dan Mas Bupati dengan penuh rendah hati memang lebih memilih banyak menyimak, dan menikmati kegembiraan yang dirasakannya, dalam bahasa dia tadi malam “marem atiku“, ketika melihat puluhan ribu orang mengikuti Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng. (caknun.com)