Puasa Adalah Dosis

Selama weekend ini, saya lebih banyak berkomunikasi pasif dengan Cak Nun melalui YouTube. Sebagai jamaah Maiyah versi youtubiyah saya banyak menyimak kuliah Cak Nun melalui media ini. Sampai saat saya menyimak kuliah beliau tentang puasa, termasuk puasa Ramadlan.

Image by 0fjd125gk87 on Pixabay

Beliau memberi kuliah tentang puasa selama tak lebih dari lima belas menit. Tetapi muatannya sangat padat. Kalau diurai dan ditulis dalam tulisan-tulisan pendek maka bisa berpuluh bahkan beratus-ratus seri. Baik puasa dalam tinjauan fisik, psikis, maupun teologis. Saya akan mengurai salah satu kalimat Cak Nun dalam kuliah tersebut.

Jadi begini, ketika Nabi berprinsip makan ketika lapar, itu sebenarnya adalah ilmu atau kesadaran kesehatan dalam menentukan kapan waktu untuk makan. Kesadaran ini diperlukan agar organ tubuh kita tidak terlalu capek dengan pekerjaannya mencerna makanan yang selalu masuk tubuh bila tidak dikendalikan (baca: puasa). Jadi ini masalah pengendalian, adalah masalah puasa! ‘Lapar’ sendiri adalah suatu sinyal bahwa tubuh membutuhkan asupan. Tetapi beda lagi kalau ‘lapar’ ditinjau dalam dimensi sosiologis atau tinjauan psikologis. Ini bisa menjadi bahasan yang lain.

Kembali ke masalah makan. Apa yang terjadi bila schedule makan ini tidak dikendalikan. Di satu pihak akan terjadi ‘kelelahan’ pada mesin-mesin penggiling, pengangkut, dan distribusi zat makanan ke tubuh. Di lain pihak terjadi penumpukan zat-zat makan di dalam tubuh. Dengan segala macam akibatnya yang tentu tidak baik bagi kesehatan tubuh. Lapar itu baik, yang tidak baik adalah kelaparan!

Nabi juga berprinsip ‘berhenti makan sebelum kenyang’. Ini adalah kesadaran dan sensitivitas tubuh dalam melakukan pengereman terhadap masuknya makanan. Akal dan nafsu seringkali bertentangan. Mata melihat makanan yang merangsang akan selalu menyuruh mulut dan tangan untuk terus meraih dan memakannya. Hidung yang mengendus aroma hidangan lezat, demikian pula, akan bertindak sebagaimana mata memerintah organ tubuh lain. Tetapi akal selalu mengontrol, melarang terus, dan mengatakan ‘tidak’ atau ‘jangan’ itu berakibat tidak baik terhadap tubuhmu! Nah itulah yang selalu terjadi dalam kehidupan sehari hari.

Cak Nun mengatakan, dalam dunia kedokteran, puasa adalah semacam ‘dosis’, pengaturan, atau regulator. Seumpama obat, dosis ini mutlak diperlukan. Karena, pada prinsipnya obat adalah racun. Racun yang dalam dosis yang tepat akan bermanfaat bagi tubuh dalam melawan penyakit. Bila kelebihan (over dosis), maka obat tersebut menjadi racun yang justru akan merugikan tubuh. Bisa-bisa malah akan berakibat fatal, melalui berbagai mekanisme. Bila underdose, efek terapeutik yang dimaksud dari obat yang diberikan tidak akan tercapai. Akibatnya, penyakitnya tidak kunjung sembuh.

Begitulah, sejatinya puasa itu semestinya dilakukan sepanjang hidup kita. Puasa Ramadlan ‘hanyalah’ latihan atau training untuk manusia sebagai pengingat, agar mereka selalu kembali pada fitrahnya dengan kontrol diri. Pengingat agar manusia selalu ‘puasa’. Semua makhluk hidup pun berpuasa. Ulat berpuasa dan menjadi kepompong untuk menjadi kupu-kupu yang jauuuuh lebih indah dari ulat. Pohon pohon menggugurkan daunnya di musim dingin ‘berpuasa’ untuk membatasi metabolisme selama musim dingin, dan akan tumbuh lagi dengan daun-daunnya yang baru yang lebih indah.

Itulah puasa, mengatur, dosis, rem, atau apapun namanya. Bahkan filsuf-filsuf besar seperti Hippocrates, Plato, Socrates, dan Aristoteles semuanya memuji manfaat puasa. Paracelsus, yang dianggap sebagai pendiri toksikologi modern, berkata, “Puasa adalah obat terbesar dan terdapat ‘tabib’ di dalamnya.” Sebagian besar agama mempunyai tradisi puasa sebagai bagian dari ritual mereka untuk pemurnian, penebusan dosa, dan menjadi lebih dekat dengan Tuhan.

Yogyakarta, 17 April 2022