Pesan Mbah Nun Kepada PSHT, Bantulah Indonesia Menyadari Karomahnya

Berselang dua hari dari Sinau Bareng di Dieng Culture Festival, tadi malam (6/09/22) Mbah Nun dan KiaiKanjeng kembali membersamai salah satu kekuatan sosial budaya di dalam masyarakat yaitu organisasi Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Bantul Yogyakarta.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Bertempat di Lapangan Trirenggo yang berada di depan Rumah Dinas Bupati Bantul, PSHT Cabang Bantul mengajak seluruh siswa dan anggotanya serta masyarakat Bantul pada umumnya untuk Sinau Bareng kepada Mbah Nun dan KiaiKanjeng dengan tema Sinau Seduluran. Sinau Bareng ini diselenggarakan dalam rangka memperingati 1 Abad PSHT. PSHT lahir dan didirikan oleh Ki Hajar Hardjo Oetomo pada 1922 di Madiun.

Dengan diliputi suasana paseduluran, Sinau Bareng semalam yang dipandu oleh Mbah Nun berlangsung dengan alur sangat menarik. Pada tahap awal hingga pertengahan, seluruh jamaah dan hadirin diajak mengenal konstruksi nilai, filosofi, dan karakter yang dibangun oleh PSHT bagi seluruh warganya yang dikenal dengan Panca Dasar PSHT.

Selain Mbah Nun sendiri memberikan pemaknaan atas Panca Dasar PSHT tersebut, pembelajaran untuk lebih mengenal PSHT dilakukan dengan metode workshop di mana tiga kelompok terdiri siswa atau warga PSHT diminta menguraikan responsnya atas pertanyaan penggalian yang diajukan Mbah Nun kepada mereka, yaitu “Selama Anda berlatih dan menjadi anggota PSHT, apa yang berkembang pada diri Anda?”, “Sudah seberapa jauh perkembangan pada diri Anda tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat?”, dan “Sesudah Anda bisa pencak silat, puncak prestasi apa yang akan Anda raih?”

Metode ini dimaksudkan tidak semata-mata sebagai cross reference bagi Mbah Nun dalam membaca dan memotret PSHT, melainkan agar diperoleh gambaran yang lebih otentik yang lahir dari internalisasi para siswa PSHT sendiri terhadap nilai-nilai yang diajarkan di dalam PSHT, sehingga apa yang didiskusikan atau dipelajari tentang PSHT bukan sekadar pernyataan retorik belaka, tetapi benar-benar empiris dari pengalaman dan laku para siswa PSHT.

Dari jawaban ketiga kelompok tersebut, kita mendengarkan bagaimana mereka mengalami perkembangan personal yang cukup bagus. Menjadi siswa dan anggota PSHT membuat mereka memiliki persaudaraan yang lebih erat, lebih dewasa dalam menyikapi berbagai hal, lebih mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Mudah bersosialisasi di dalam masyarakat, memiliki hati yang bersinar dan penuh kasih sayang. Lebih mengenal diri sendiri dan mengenal Allah, lebih siap menghadapi persoalan hidup, wawasan mereka tentang hidup berkembang, lebih waspada dalam mengambil keputusan, serta memiliki hubungan yang lebih guyub dan rukun.

Apa yang dikemukakan para siswa PSHT di atas sejatinya sudah merupakan pencapaian atau hal yang sangat bagus di mana mereka memiliki kualitas personal yang baik. Bahkan ketika menjawab pertanyaan tentang prestasi atau apa yang hendak diraih setelah bisa pencak silat, tidak satu pun yang menyodorkan jawaban yang bersifat duniawi semisal ingin menjuarai lomba pencak silat tingkat nasional dan internasional. Jauh dari itu semua, mereka sebaliknya menjawab capaian yang ingin mereka raih adalah: bisa lebih dekat kepada Allah Swt., memiliki cinta kasih kepada sesama, mendahulukan kepentingan bersama ketimbang kepentingan pribadi, dan bertauhid kepada Sang Pencipta.

Seraya mengungkapkan rasa senang dan gembira terhadap jawaban ketiga kelompok ini di mana menurut Mbah Nun jawaban mereka menunjukkan bahwa PSHT telah berada dalam Sirothun Nubuwwah, bahwa PSHT sudah menunjukkan adanya harmoni antara akal dan hati nurani, dan bahwa nilai-nilai yang diajarkan kepada siswanya tidak lain adalah artikulasi dari ajaran-ajaran agama, Mbah Nun ingin mengingatkan segenap anggota PSHT bahwa masih ada PR yang perlu dikerjakan. Bahwa komprehensi dan kualitas personal yang dimiliki insan PSHT tak boleh hanya berhenti di situ.

PR tersebut adalah peran PSHT dalam konteks Indonesia. Mbah Nun berharap dengan bekal yang telah dimiliki, PSHT bisa berperan lebih banyak pada tingkat nasional dengan di antaranya melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkarakter. Pemimpin yang tidak minder dan rendah diri kepada bangsa asing, tetapi pemimpin yang mencerminkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang unggul tetapi tidak ingin mengungguli siapa-siapa atau bangsa-bangsa manapun, sebab yang diinginkan adalah hidup berdampingan dengan baik, penuh persaudaraan sebagaimana nilai pertama dalam Panca Dasar PSHT.