Sebuah lakon tradisi

Perahu Retak (12/17)

Cermin perselisihan

Jawa - Islam

di awal Kerajaan Mataram

Dua Belas

(Raden Mas Kalong membopong di kedua tangannya jenazah santri Sahil. Di sekelilingnya silhuet penduduk dan para santri yang melingkar.

Suasana menyayat. Terkadang terasa ada raungan dan bagai terdengar puisi-puisi keperihan yang pada saat-saat tertentu disongsong oleh Syech Jangkung dan kesunyian, dengan menangis maupun tertawa)

(Sesekali Syech Jangkung mengambil jenazah Sahil untuk ganti dibopongnya, di saat lain diletakkan di tanah)

KALONG :
Aku bopong di kedua tanganku jenazah Sahil. Pentingkah ia bagi kalian? Pentingkah bahwa ia hidup, dan pentingkah bahwa ia mati?

PARA SANTRI :
Tuhan bahkan berurusan secara sungguh-sungguh dengan nyawa seekor nyamuk.

Sahil itu besar, karena Tuhan yang mencitakannya dan Tuhan pula yang sebenarnya berhak mencabut nyawanya.

KALONG :
Jika kematiannya dibiarkan berlalu begitu saja, pantaskah orang menangisinya?

Bukankah sangat banyak nyawa yang dilenyapkan tanpa jelas di mana kuburnya, dan tak seorangpun mempertanyakannya?

PARA SANTRI :
Itulah hutang kita semua, itulah hutang seluruh bangsa. Kelak tatkala Tuhan menagih, wajah kita akan terkelupas dan jiwa kita terkapar dalam rasa sakit yang abadi.

KALONG :
Sahil tak hanya mati dibunuh hari ini, karena tangan culas kekuasaan minta Sahil beribu-ribu lagi. Sahil kalian ini menjadi hidup hidup dalam kematiannya, tapi Sahil-Sahil yang lain mati dalam kehidupannya, sebab yang ditumpas adalah keyakinannya, kejantanan dan akal sehatnya.

Jika kalian mengaku berguru kepada bayang-bayang Khidlir, terjaminkah bahwa kelak kalian tidak akan kelelahan, untuk tak dikebiri oleh Fir’aun?

PARA SANTRI :
Para penguasa mengasingkan kami dan diri sendiri. Para Ulama mengasingkan kami dari sesama penyembah Tuhan.

Tetapi kami adalah murid-murid yang belajar mengarifi keterasingan, karena dari jaraklah kebenaran terlihat terang benderang.

KALONG :
Aku melihat hari-hari mendatang di mana jumlah kalian akan makin menipis.

Jumalah nyawa kalian membengkak, tetapi jiwa menyusut.

Perguruan-perguruan yang memangkas otak, hiburan-hiburan yang memabukkan batin, bermacam ragam tahayul dan nina bobok – akan membawa kepribadian kalian di masa mendatang bergeser dari nurani ke syahwat.

JANGKUNG :
Kalong! Alangkah pahit kata-katamu.

Cobalah pilih kalimat-kalimat yang agak mengjhibur.

Sebab ketika kepahitan dan kegetiran kelak menjadi makanan sehari-hari anak cucumu yang terbuang, setiap kta yang pahit akan ditertawakan oleh kepahitan itu sendiri.

KALONG :
Kata-kata guru jauh lebih pahit, karena kepahitan yang ditertawakan adalah sepahit-pahitnya kepahitan.

O, anak cucu, anak cucu. Kalian menikmati penindasan bagai seorang perawan yang diperkosa, yang memekik-mekik kesakitan namun kemudian kedua tangannya, bergerak memeluk tubuh si pemerkosa.

O, anak cucu, anak cucu. Kalian membanggakan derita dan kemelaratan, bagai pelanduk yang selalu membutuhkan himpitan gajah, agar ia bisa memamerkan betapa ia tidak mati olehnya.

PARA SANTRI :
Hati kami lunglai, namun jiwa kami tegak setegak-tegaknya.
Perasaan kami luluh, namun keyakinan kami kukuh sekukuh-kukuhnya.

JANGKUNG :
Kenapa tidak.
Waktu bertempat tinggal di dalam dirimu
Waktu adalah rumahmu
Waktu adalah kereta yang mengangkut hidupmu sampai ke gerbang pintu kasih Tuhanmu

KALONG :
Dengarkan wahai anak cucuku di abad-abad kelak.

Kalau pada suatu siang yang gerah badanmu loyo karena lelah didera oleh tekanan-tekanan hidup yang kalian tak bisa pahami, ketahuilah bahwa kegerahan ini dimulai hari ini

Kalau di saat-saat menjelang tidurmu otakmu pening oeh pertentangan-pertentangan yang mengorbankanmu
Kalau di larut malam yang senyap hatimu terasa panas oleh bemturan-benturan yang semestinya bisa tidak menjadi benturan

Ketahuilah bahwa namamu Sahil, yang nasib kesejarahannya dimulai hari ini

Kalau pada suatu siang engkau bertengkar dengan sahabat-sahabtmu sendir tentang perang dan kebodohan yang dibiayai terlalu mahal, tentang keangkuhan dan kekosongan kebudayaan yang dimewah-mewahkan

Pandanglah wajahku di masa silam kalian

Syukurlah bahwa kalian menjadi kuat oleh derita dan nasib buruk, tetapi cambuklah derita itu, congkel sumbernya, kemudian bangunlah rumah-rumah negeri ini dengan batu-bata yang terdiri dari cahaya Tuhan

JANGKUNG :
Kalong. Itu kata-kata kelas pujangga

Mereka tidak paham

Anak cucumu yang paling tajam akalnya pun gagap membedakan mana asap mana api, mana akar mana ranting, serta mana beras mana nasi

KALONG :
Santri-santri Kiai Tegalsari ini telah belajar memahami perbedaan antara ujung mata pedang dengan tangan yang menggerakkan pedang itu

JANGKUNG :
Tetapi lihatlah anak cucu mereka

Membunuh lalat dengan pedang, menguliti mangga dengan kapak, memangkas gunung dengan pisau cukur, dan menyongsong pasukan seribu orang dengan pisau dapur

Aku ingatkan kalian semua akan datangnya suatu keadaan di mana kaum santri pada suatu abad kelak akan hanya memiliki dua kemampuan

KALONG :
Guru. Apa gerangan?

JANGKUNG :
Menjadi kambing yang digiring tersuruk-suruk
Atau menjadi harimau yang mengamuk

PARA SANTRI :
Wahai tujuh abad cobaan
Para santri mengembarai gelombang
Timbul tenggelam, muncul dan hilang
Di laut kemenangan dan kelalaian
Para santri Khidir
Ditidurkan oleh para penyihir
Perahu bocornya tersingkir
Gagal menimba ilmu air

Pulau-pulau menghamburkan ilmu bahari
Tapi dayung kayu mereka dicuri
Terkatung-katung dan mati suri
Terombang ambing dan mati nyeri

KALONG :
Yang terdampar di pantai
Pakainnya dilolosi
Tanah sendiri diharamkan
Untuk mereka huni

Sisanya berlarian ke sana ke mari
Ke beribu arah tercerai berai
Diusir tanpa kembali
Terbuntu oleh kehidupan yang mati
Yang indah kemudian hanyalah mimpi
Mereka omong besar tentang Musa yang teguh hati
Tentang tongkatnya yang sakti
Menampar muka Fir’aun yang menuhankan diri sendiri

JANGKUNG :
Kalong! Aku menyaksikan empat ribu kiai dibantai.
Ribuan lainnya terbirit-birit lari
Lainnya lagi bungkam, menjadi cacing tanah tanpa nyali

KALONG :
Betapa menyedihkan, Guru

JANGKUNG :
Menggelikan

KALONG :
Mereka menjadi suku terasing di negeri mereka sendiri

JANGKUNG :
Memalukan

KALONG :
Mereka mendirikan pesantren di tepi-tepi hutan
Bersembunyi di keremangan zaman
Hanya satu pintu saja yang mereka kuakkan
Yakni pintu perjalanan langsung ke Tuhan

JANGKUNG :
Mereka pikir Tuhan bersemayam, kalau tak di tengah kampung dan dusun-dusun yang hati penghuninya remuk redam?

KALONG :
Tapi mereka sedang menghimpun kekuatan, Guru

JANGKUNG :
Juga kebodohan, ketertutupan dan ketertinggalan

KALONG :
Mereka merenung dan menyiapkan langkah di Gua Hira

JANGKUNG :
Gua Kahfi, Kalong. Mereka tertidur dua abad, lantas bangun menjadi manusia masa silam yang uangnya tak laku di pasaran

KALONG :
Berapa menyedihkan, Guru

JANGKUNG :
Menggelikan

KALONG :
Datang bangsa asing, Guru, menyerbu, menggali mutiara, menambang emas di tanah mereka

JANGKUNG :
Dan darah mereka dihisap, sehingga mereka merasa betapa enaknya

KALONG :
Dan kerajaan pecah

JANGKUNG :
Dipecah

KALONG :
Ya, dipecah. Dan masing-masing pecahan itu tengkurap mendekap keuntungannya sendiri-sendiri

JANGKUNG :
Picisan!

KALONG :
Juga santri dan guru-guru mereka, beralih rupa, mencopoti harga diri dan rasa percaya diri mereka

JANGKUNG :
Tidakkah Tuhan mengirim Daud-Daud kecil yang mempersiapkan tali batu untuk melempari Jalut?

KALONG :
Ya. Tetapi begitu Daud mereka menang, segera menjelma menjadi Jalut yang baru

JANGKUNG :
Remeh!

KALONG :
Dahsyat, Guru. Tidak remeh!

JANGKUNG :
Para pahlawan menjelma menjadi pernjajah baru atas bangsa mereka sendiri. Itukah yang dahsyat?

KALONG :
Kujawab ya, dengan hati getir

JANGKUNG :
Di manakah pusat penjajahan baru itu?

KALONG :
Tetap di Pulau Jawa, sebelah Barat Utara

JANGKUNG :
Terletak disanakah rumah para juragan pulau dan gunung-gunung?

KALONG :
Ya, dengan hati yang jengkel

JANGKUNG :
Dari sanakah tertaburkan ke seantero nusantara bebauan wangi cendana?

KALONG :
Ya, dengan tersengal-sengal

JANGKUNG :
Di sanakah kiblat baru kehidupan anak cucumu?

KALONG :
Hanya serambinya. Adapun kiblatnya terletak di benua lain di belahan bumi ini

JANGKUNG :
Jadi di mana santri-santri itu?

KALONG :
Larut, Guru, larut

JANGKUNG :
Semua?

KALONG :
Tidak, Guru, tapi juga tidak semakin sedikit

Aku menangis karena Fira’aun mengalir di dalam darah para santri itu tanpa mrtrka sendiri menyadari

Dan tangisku lebih keras lagi kareja kalau ada yang mengingatkan mereka soal itu — maaf, Guru, mereka malah mengeroyok

JANGKUNG :
Marah dan mengeroyok!

(Syech Jangkung bagai disengat hatinya. Ia tertawa keras, tapi kemudian seperti merintih-rintih. Kalong mencemaskannya)

(Murtad’o mengambil jenazah Sahil dan membopongnya)

PARA SANTRI :
Kami akan terus memahami, meskipun tak pernah mengetam
Di tangan kami tergenggam Alif dari rentetan huruf Hijaiyah sejarah yang amat panjang
Lakon ini akan berlangsung ratusan tahun lamanya
Lakon tentang Khidir yang makin kabur sosok bayangannya
Tentang getar napas para wali, guru-guru bangsa, yang sirna entah di mana
Tentang Nyi Roro Kidul yang duduk di singgasana
Tentang sisa para santri yang tercampakkan, namun tetap bersyahadat dalam takaran hidup atau mati

(Para santri mendengarkan dengan sepenuh hati)