Pentingnya Ketersediaan Data yang Akurat

Photo by fabio on Unsplash

Beberapa hari lalu saya diminta oleh bos saya untuk berbicara dalam acara webinar tentang situasi kanker anak di Indonesia dan global. Acara yang digelar oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia ini dihadiri oleh ratusan orang pintar di negeri ini. Dalam hati saya bilang, “Matiiihhh, topik yang amat rumit”.

Saya sudah membayangkan kesulitan apa yang akan saya alami dalam menyiapkan presentasi saya. Maka setelah menyampaikan kesanggupan itu, saya browsing melihat situasi kanker anak di Indonesia. Tentu saya harus berbicara mengenai fakta berdasarkan data. Ya, fakta dan data, bukan asumsi maupun intuisi. Dan seperti sudah saya duga sebelumnya, saya tidak mendapatkan data yang saya kehendaki. Hal ini persis dengan yang saya alami ketika saya memulai program S3 saya hampir 15 tahun yang lalu.

Waktu itu Prof. Veerman, promotor saya, bertanya, “Berapa insiden leukemia di Indonesia?” Saya diberi waktu seminggu untuk mencari angka itu. Ini baru satu penyakit lho. Satu di antara ratusan jenis kanker anak. Dengan mudah saya mendapatkan angka sejauh menyangkut kejadian di negara-negara maju. Tapi saya tidak mendapatkan angka itu untuk Indonesia. Walaupun dari pagi sampai malam saya menthelengi komputer dengan akses internet yang sangat cepat di perpustakaan VUMC, Amsterdam.

Maka pada pertemuan kedua saya memberkani laporan kepada Prof. Veerman bahwa saya tidak bisa menjawab pertanyaan beliau karena memang saya tidak mendapatkan datanya. Jadilah pertanyaan Prof. Veerman tersebut merupakan tugas saya yang pertama, menulis topik tentang insidensi leukemia di Indonesia.

Dalam proses penulisan itu saya memperoleh banyak pengalaman dan pelajaran bagaimana melihat kondisi dan situasi Indonesia dalam kacamata saya sebagai seorang praktisi kesehatan. Empat belas tahun kemudian, saya mendapat pengalaman yang sama. Mendapat tugas yang sama dan berproses yang mirip dalam rangka mendapatkan jawaban atas pertanyaan tentang topik epidemiologi.

Persis ketika Yai Helmi memberi PR kepada saya tentang topik ‘kesehatan masyarakat’. Lha saya bukan seorang ahli kesehatan masyarakat, bukan pula seorang epidemiolog. Walaupun saya pernah memperoleh sedikit ilmu tentang epidemiologi, dan menulis sesuatu yang berhubungan dengan itu. Saya menyanggupi untuk mengerjakan PR Yai Helmi itu.

‘Data’ menjadi kata kunci dalam problema yang saya hadapi. Bukan hanya saya, akan tetapi semua pihak yang membutuhkan ‘potret’ tentang situasi kanker anak di Indonesia.

Data diperoleh dari register (pencatatan) yang bersumber dari data primer yang ada dari pasien. Baik yang menyangkut tentang penyakitnya maupun keadaan yang ada di sekitarnya. Misalnya: kondisi geografi di mana pasien tinggal. Bagaimana status ekonomi (orangtua) pasien. Berapa lama waktu yang ditempuh untuk mengakses fasilitas kesehatan dan masih banyak parameter yang berhubungan dengan itu.

Lho kok kondisi geografi ditanyakan? Apa hubungannya?

Beberapa literatur menyebutkan ada dugaan pencetus kanker anak adalah situasi di sekelilingnya. Walaupun masih dalam hipotesis, data itu sangat penting. Misalnya keterlibatan pestisida, zat kimia tertentu sampai yang lebih banyak faktanya adalah pengaruh radiasi nuklir. Belajar dari kasus Chernobyl dan Hiroshima (pasca bom yang meluluhlantakkan kota itu) yang berimbas pada naiknya kasus kanker dengan drastis di dua daerah bekas terkena imbas nuklir itu.

Lho kok status sosial ekonomi? Beberapa hipotesis menyebutkan kuatnya hubungan ini dengan kondisi status ekonomi. Bisa melalui beberapa jalan. Kondisi sosial ekonomi mempengaruhi bagaimana status gizi masyarakat. Kondisi sosial ekonomi mempengaruhi akses untuk mendapat sandang dan papan yang layak.

Semua data yang berhubungan dengan pasien semestinya dicatat dengan baik, termasuk terhadap penyakitnya itu sendiri. Bagaimana penyakit tersebut didiagnosis, dengan cara apa? Apakah sudah sesuai standar yang ditentukan?

Diagnosis sebuah penyakit bukan sebuah asumsi. Diagnosis disimpulkan setelah memperoleh data perjalanan penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, baru kemudian disimpulkan menjadi diagnosis. Kecermatan dalam menyimpulkan sebuah diagnosis akan menentukan jenis pengobatannya. Sebuah proses yang tidak sebentar dan memerlukan biaya. Maka semua proses yang berhubungan dengan penyakit harus dihitung dengan cermat. Harus tercatat dengan baik. Karena catatan yang baik akan mendapatkan data yang akurat.

Dengan data yang akurat, kita akan bisa menyimpulkan suatu kondisi. Maka register akan menjadi sesuatu yang penting. Karena, dengan data dan fakta itu kita bisa bilang kepada semua pemangku kebijakan (stakeholder), mestinya begini, begitu, antisipasinya dengan ini. Obat yang diperlukan adalah a, b, c dan seterusnya. Perawatannya mestinya ditempat yg seperti ini atau itu. Jumlah ruangan perawatan adalah sekian, dan antisipasi penambahan jumlah ruang akan menjadi sekian setelah sepuluh tahun ke depan.

Alat diagnosisnya mestinya harus yang seperti ini, dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang bisa terjawab dengan penyediaan fasilitas data yang baik.

Para pemangku kebijakan bisa menghitung kebutuhan biaya kesehatan apabila data yang akurat tersedia. Tindakan pencegahan juga bisa dilakukan untuk banyak penyakit. Al-Quran saja sudah sudah sangat jelas. Dalam pencegahan penyakit tidak menular seperti DM, Hipertensi, Gout, dan penyakit tidak menular tercermin dalam Al-A’raf 31: “Makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

Walaupun kanker masuk dalam penyakit yang tidak menular, tetapi sampai saat ini kanker tidak bisa dicegah. Upaya yang bisa kita lakukan adalah mengenali tanda dini dari penyakit ini sehingga upaya pengobatannya bisa dilakukan seawal mungkin.

Ketersediaan data yang akurat bisa dipakai untuk tindakan pencegahan atas kejadian penyakit yang sedang melanda. Seperti sekarang ini. Seorang pemangku kebijakan harus bisa berpikir bijaksana dan akurat sehingga mampu memberikan keputusan yang tepat.

Bahkan dalam urusan lingkungan, kerusakan lingkungan, pencemaran lingkungan yang berakibat langsung maupun tidak langsung pada kesehatan umat manusia, Allah berfirman:

Telah terjadi (tampak) kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah akan merasakan kepada mereka sebagian (akibat tindakan mereka) agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Ar Rum: 41)

Terlalu banyak masalah kesehatan, terlampau luas bentangan ilmu yang dimiliki Allah. Sedangkan saya ini sangat sangat kecil.