Penguasaan Tubuh dan Ruang Latihan Teater

Irisan kemampuan wicara dan wirama yang fasih-harmonis akan memperkuat karakter aktor. Tapi ada prasyaratnya. Penguasaan atas tubuh dan kesadaran akan ruang. Fajar Suharno dan Jujuk Prabowo sore kemarin memberikan contoh itu.

Tatkala membicarakan teater, umumnya orang membayangkan panggung, aktor, musik, dan dekorasi artistik. Kesinambungan dan komposisi ini lalu diangankan pada sebuah pertunjukan barang satu sampai dua jam, yang dibuka sekaligus ditutup melalui penanda tirai. Setelah pentas dipungkasi, penonton berduyun-duyun pulang, aktris dan aktor kembali kepada pertunjukan hidup masing-masing.

Pementasan teater adalah sebuah momen kolektif. Proses mempersiapkannya, baik segi penyutradaraan maupun produksi, tidak bisa diusung mandiri. Ia membutuhkan tim. Saling berbagi tugas, pikiran, dan tenaga. Dalam praktik pertunjukan serangkaian proses tersebut merupakan peristiwa seni pra-pemanggungan. Yang jelas proses ini dipersiapkan secara nggetih.

Bagaimana tidak?

Senin kemarin (10/01) adalah hari ketiga setelah Kamis dan Sabtu komunitas Reriungan Teater Yogyakarta melakoni latihan rutin. Rencananya tiga kali dalam satu minggu mereka berkumpul di Pendopo Maiyah, Kadipiro. Menjelang surup para pemain mulai merapat. Mulai dengan peregangan badan, pembacaan naskah, sampai merembuk hasil latihan.

Faset-faset latihan semacam itu sesungguhnya guna menguasai — minimal melatih sampai terbiasa — elemen wicara, wiraga, wirasa, dan wirama. Masih satu lagi sebenarnya, yakni wirupa. Poin terakhir ini bukan berarti modal fisik, melainkan komposisi busana maupun riasan para pemain. Komposisi pewarnaan ataupun model baju harus pula disesuaikan dengan karakter tokoh yang hendak dimainkan.

Namun, Senin lalu para aktor yang kelak main naskah Mlungsungi besutan Cak Nun itu baru mengasah wilayah wicara dan wirama. Dua pokok ini begitu penting sebagai fondasi awal. Sebab langgam pementasan Reriyungan 3 Generasi Teater Yogya itu cenderung bersifat kolosal. Dialog dan monolog akan tampak dominan.

Irisan kemampuan wicara dan wirama yang fasih-harmonis akan memperkuat karakter aktor. Tapi ada prasyaratnya. Penguasaan atas tubuh dan kesadaran akan ruang. Fajar Suharno dan Jujuk Prabowo sore kemarin memberikan contoh lewat sesi olahraga. Keduanya mengajak pemain menjajal beberapa gerak agar anggota badan lebih cekatan.

Dalam satu lingkaran besar mereka pun diminta memutar melawan arah jarum jam. Mereka seakan merasakan setiap langkah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan juga menyadari ruang sebagai panggung. Tempo perpindahan kaki itu terkesan santai. Seperti orang berjalan biasa. Namun, bersamaan dengan gerak melingkar mengarah ke kiri, tiba-tiba mereka diminta berhenti, duduk, dan selonjor.

Begitu seterusnya latihan teater dihela.

Saat tiba sesi penyesuaian naskah Cak Nun mengajak berkumpul. Ia bilang kalau ada beberapa dialog yang perlu dikembangkan. “Saya kembangkan sampai ucapan istilah-istilah di situ lebih cetho,” ucapnya.

Di sini wujud keluwesan proses latihan teater. Naskah jadi pun terbuka untuk disesuaikan dengan kondisi para pemain. Menurut Cak Nun, penyesuaian tersebut didasarkan atas beberapa aspirasi sewaktu rembukan tempo hari.

“Teman-teman itu boleh memperkaya naskah. Di semua teater gitu. Ngubah sitik rapopo selama bilang sama sutradara,” tambah Cak Nun. Keterbukaan, partisipasi usulan, dan saling mengoreksi satu sama lain menjadi bagian dari proses latihan. Sebuah proses sinau bareng dalam kesenian teater.

Pembicaraan itu disusul evaluasi sang sutradara. Fajar Suharno berharap agar latihan berikutnya adegan “Rombongan Lalu-lalang” diperkuat lagi. Karena ia melibatkan jamak pemain, soliditas gerak menjadi tumpuan utama. Adegan ini berada di pembukaan.

Meski berjalan ke berbagai arah, tak jelas arah dan tujuannya, sehingga menimbulkan suara berisik, mereka memainkan adegan secara karikatural. Mereka pun nanti menembangkan macapat pucuk. Kita tahu tembang ini berwatak kebebasan atau suka hati. Bunyinya begini:

Enthung enthung
Amung sirah lawan gembung Pada kinunjara
Mati sajroning ngaurip
Mijil bakal si pucung dadi dahana

Bapa pucung
Endi elor endi kidul
Laku tapa brata
Mung kepingin bisa malih
Dadi kupu si pucung
wedaring tapa

Naskah Mlungsungi tampaknya banyak memasukkan sejumlah anasir intertekstual. Utamanya Jawa. Bagaimana dengan spektrum tematiknya kalau, misalnya, dibandingkan dengan pentas-pentas silam seperti Tikungan Iblis (2008), Nabi Darurat Rasul Ad-Hoc (2012), Sengkuni (2019), dan lain-lain hasil besutan ndalem Ngadipuran itu?

Kita diskusikan pada kesempatan berikutnya.

Populer