Padhangmbulan, 29 Tahun Istiqamah Menata Hati Menjernihkan Pikiran

Padhangmbulan edisi 11 September 2022

Masih banyak prinsip lain yang dipraktikkan KiaiKanjeng, di antaranya adalah bermusik untuk Allah dan Rasulullah, bermusik untuk komunikasi sosial, bermusik untuk menciptakan sesuatu yang kita senang dan Allah juga senang kepada sesuatu yang kita lakukan dengan bermusik tersebut. Menariknya, semua prinsip tersebut ternyata bukan cuma untuk bermusik, tapi juga untuk membaca dan menganalis realitas-realitas lain seperti politik, visi, dan karakter negara Indonesia.

Dok. Foto: Omah Padhangmbulan/Hariadi

Sikap gampang melupakan khasanah masa lalu (tidak belajar kepada kearifan leluhur) akan mudah kita jumpai di depan mata kita bila kita menggunakan prinsip ‘mengingat apa yang dilupakan orang’ bahwa banyak mutiara-mutiara dari orang-orang terdahulu yang dilupakan orang di masa kini. Betapa banyak kekayaan ilham kenegaraan di masa lalu yang kini tidak dianggap. Maka semalam dihadirkan fragmen asik tapi dengan kandungan mendalam yaitu fragmen Mbah Geyol Novi Budianto yang mengingatkan kita semua akan pentingnya melihat ke masa lalu agar jangkauan Indonesia ke depan bisa melesat jauh visi dan langkah-langkahnya.

Masih banyak dan tak terhitung perspektif dan ilmu yang telah di-share oleh Mbah Nun, Mbah Fuad, dan marja-marja lain di Padhangmbulan sejak awal, baik yang berangkat dari Al-Qur’an melalui tafsir dan tadabbur maupun yang berangkat dari kekayaan analisis dan pemikiran Mbah Nun dalam banyak soal kehidupan–kemasyarakatan, keagamaan, kebudayaan, politik, dll. Salah satu yang tadi malam beliau ingatkan adalah ada jenis manusia yang “tahu banyak tentang banyak hal”, “tahu banyak tentang sedikit hal”, ”tahu sedikit tentang banyak hal”, dan “tahu sedikit tentang sedikit hal”.

Dok. Foto: Omah Padhangmbulan/Hariadi

Perspektif ini bisa kita pakai untuk mengidentifikasi kondisi dan posisi diri kita sendiri, tetapi juga untuk bekal menimbang kualitas calon pemimpin di mana pemimpin yang baik, karena cakupan urusannya banyak dan luas, idealnya memenuhi kriteria “tahu banyak tentang banyak hal”. Untuk skala pribadi sangat bagus bila kita berada pada “tahu banyak tentang banyak hal”, tetapi kalau tidak memungkinkan paling tidak, seperti dikatakan Mbah Nun, “tahu sedikit tentang banyak hal”. Meskipun tentu setiap orang punya satu hal yang didalami betul sebagai keahlian atau fadhilah-nya sehingga dia juga sekaligus punya “tahu banyak tentang sedikit hal”.

Sejak 29 tahun silam perspektif-perspektif semacam itu terus diberikan kepada jamaah dan masyarakat sebagai bahan agar mereka memiliki partner dan sudut pandang dalam proses “Menjernihkan Pikiran”, di mana pikiran yang jernih ditandai oleh pemikiran yang kaya perspektif yang ragam dan luas. Sedangkan Menata Hati kerap diingatkan oleh Mbah Nun dengan pentingnya menata niat dalam setiap aktivitas kita. Selain itu, penataan hati juga dilakukan dengan memberikan suasana dan atmosfer yang menep dengan dzikir, wirid, shalawat, dan doa. Seperti tadi malam, sesudah Mbah Nun mengajak semua jamaah menapaki keluasan dan kekayaan ilmu, perspektif, nilai yang dibangun dan dijalani oleh Maiyah, Padhangmbulan dipuncaki secara khusyuk dan khidmat dengan Tawashshulan dipimpin oleh Mas Islamiyanto serta para vokalis lain KiaiKanjeng selama kurang lebih satu jam. Genaplah semalam jamaah yang sangat banyak, selalu antusias, dan berlimpah jumlahnya yang merupakan generasi muda, diajak berproses Menata Hati Menjernihkan Pikiran yang tak lain memang merupakan tagline Padhangmbulan.

Dok. Foto: Omah Padhangmbulan/Hariadi

Kembali ke tempat masing-masing selepas Tawashshulan, anak-cucu Jamaah Maiyah Padhangmbulan diantarkan dengan doa tulus penuh cinta kasih dan penuh harapan dari Mbah Nun kepada mereka semua. Telah 29 tahun pula Mbah Nun dan Mbah Fuad mendoakan siapapun saja yang datang duduk belajar dan menimba ilmu di Padhangmbulan. (caknun.com)