CakNun.com

Orang Yang Tak Pernah Lohor

Tulisan ini dimuat dalam rubrik Forum pada Majalah EDITOR NO. 4/THN.III/30 SEPTEMBER 1989

Orang maling dan orang budiman bertemu dalam tarekat, sebab orang maling tak sanggup melanjutkan kehidupan tanpa menyediakan ventilasi bagi pemberontakan hati nurani dari dalam dirinya sendiri. Sementara, orang budiman perlu mendirikan singgasana bagi amalan kasih budinya.

Orang Yang Tak Pernah Lohor; Majalah EDITOR NO. 4/THN.III/30 SEPTEMBER 1989.
Orang Yang Tak Pernah Lohor; Majalah EDITOR NO. 4/THN.III/30 SEPTEMBER 1989.

Orang miskin dan orang kaya bertemu dalam tarekat, karena orang miskin butuh menggali terowongan menembus dinding batu karang nasib sengsaranya. Sementara, orang kaya merasa terancam akan tidak makin sanggup mempercayai kekayaannya. Jiwa orang miskin seperti anak yatim yang minta disusui langsung oleh Tuhannya. Jiwa orang kaya seperti bayi tua yang kaget dan pucat karena disusui oleh kaleng-kaleng susu bubuk perusahaan dunia.

Orang kecil dan orang besar, orang melawan dan orang hanyut, orang marah dan orang kalah, orang berlari dan orang berhenti, orang lupa dan orang berdoa bertemu dalam tarekat, karena segala sungai berakhir di lautan kekosongan.

Itulah sebabnya tasauf menyapa manusia ketika hari telah senja. Menyapa setiap manusia, menyapa semua manusia tanpa memperkenalkan siapa namanya. Wajah tasauf persis seperti wajah orang yang menyapa dan disapanya. Nama tasauf adalah nama orang yang menjalaninya. Tarekat berjalan di jalanan diri masing-masing orang. Jalanan tasauf dan tarekat lenyap begitu si bukan pejalan tasauf dan tarekat berlari melacaknya.

Tarekat hanya ada begitu engkau menjalani rahasianya. Tarekat sirna berlari ketika engkau mencari. la tiba-tiba duduk di sisimu ketika oleh derita pencarian itu jiwamu lelah dan sunyi. Itulah sebabnya tasauf adalah sebuah kemungkinan makhluk Tuhan yang paling tak terpercaya, terutama bagi orang yang bertakhta di kulminasi matahari siang kemegahan duniawi, serta bagi orang yang terkapar di gua terjal keputusasaan. Tetapi kemudian matahari bergerak turun ke arah cakrawala, dan hanya selangkah saja di awal garis turun itu tasauf menyediakan dirinya.

Demikianlah sesudah lohor, seorang raja mengetahui batas hari takhtanya dan berangkat memendeta. Seorang hartawan mengembalikan bangunan gedung rumahnya kepada bumi. Demikianlah seorang maling membayar utangnya, dan seorang miskin menyesali sikap deritanya Demikianlah umat kemajuan di negeri-negeri pemimpin abad mutakhir membeli agama-agama kuno dari Asia. Adapun mereka yang tak pernah bersedia menerima lohor harinya akan tiba-tiba menjumpai dirinya dalam kegelapan malam.

Kebanyakan, orang berusaha menipu dirinya dengan merasa bahwa hidupnya belum lohor. Suksesnya belum lohor. Jumlah kekayaannya belum lohor. Usianya belum lohor dan tak pernah lohor. Kalau orang bertanya kepada mereka. “Bersediakah engkau mati minggu depan?” mereka menjawab, “Ah, ya jangan dong” Tahun depan? Apa benar umurku begitu pendek?” “Mau hidup sampai usia 60? 70? 100?” Tidak. Mereka ingin hidup abadi, kalau bisa. Ucapan “Semoga panjang umur” di hari ulang tahun sesungguhnya adalah keadaan berharap yang tak pernah dibatasi secara persis. Manusia ingin hidup abadi, karena jiwa manusia memiliki kecenderungan untuk mengarungi keabadian. Karena manusia mempunyai potensi keabadian, karena manusia adalah pantulan Tuhan. Itu sunatullah, hukum takdir, tradisi alam. Tetapi manusia menbohongi dirinya sendiri dengan diam-diam menganggap tradisi Allah itu juga berlaku bagi eksistensi kemanusiaannya, bagi kejayaan dan harta bendanya, bagi kemegahan dan jabatannya, bagi tenaga dan perjuangannya.

Jika orang yang tak pernah lohor menggenggam kekuasaan, tiap saat ia niscaya mencari tumbal untuk memelihara pencuriannya atas tradisi Allah. Jika ia menggenggam harta, ia menumpuknya. Jika ia bergembira, ia mabuk. Jika ia bersedih, ia merepotkan dunia dengan air mata.

Orang yang tak pernah lohor adalah anak-anak kecil yang bermain perang-perangan di bawah matahari pagi. Di bawah matahari pagi yang senantiasa pagi. Tak bisa dilihatnya siang dan sore hari. Tarekatnya selalu berada di huruf alif. Tasauf dipandangnya dalam kerangka huruf alif. Di huruf alif itu, seorang penguasa dan seorang pelawan bertemu dalam sama-sama memandang tasauf sebagai sekadar tindak pelarian dari ketidakmampuan dan keputusasaan mengubah sesuatu. Bagi si penguasa, tasauf adalah ketidaknormalan; bagi si pelawan, tasauf adalah eskapisme. Tasauf ditertawakan si penguasa, bahkan disyukuri, karena seorang sufi sanggup memelihara kesejahteraan dan kebahagiaan jiwa dalam keadaan tertindas. Tasauf dibuang kaum pejuang karena yang ditawarkan bukan — terutama — perubahan dunia, melainkan perubahan diri.

Para penguasa tak pernah mau lohor karena tertidur sesudah menenggak bersloki-sloki wiski kemenangan. Para pejuang tak pernah bersedia lohor karena, sesudah berlalu puluhan siang dan sore sejarah, perubahan tak juga terjadi.

Lainnya

Duduk, Diam, Mendengar

Duduk, Diam, Mendengar

“Lik, dewean po?”

“Yess, seperti yang sudah-sudah.”

Sebaris gigi putih menyiratkan kerinduan, meski sering kami bertemu, bergurau.