Njiret Weteng Nyengkal Mata

Foto: Adin (Dok. Progress)

Teringat dengan ungkapan Kiai sepuh, “njiret weteng, nyengkal moto”. Ungkapan demikian seakan gathuk, sesuai dengan apa yang selama ini berlangsung di Maiyah, di mana pada nilai Maiyah tidak ada yang diperhitungkan dan dibela dengan ngoyo terkait dengan uang katakanlah. Meskipun begitu bukan berarti tidak penting tetapi pandangan semacam itu telah selesai dan sudah presisi dalam memandang terkait dengan kadunyan atau urusan duniawi.

Njiret weteng bisa digambarkan dengan puasa yang engajarkan menahan dan kemudian Maiyah menjabarkan dengan mengajak kita meng-ada untuk mencari apa yang kita butuhkan dan bertumbuh menjadi manusia yang bermanfaat.

Urusan perut atau ibarat urusan mencari makan dengan proses bekerja adalah sebuah laku perjalanan di mana kita telah diberi anugerah nikmat sehat maka tidak mungkin untuk bermalas-malasan menyia-nyiakan waktu. Maka dengan keberlangsungan bekerja sebisa mungkin, terkait nanti bakal dapat uang, mendapat jabatan atau apapun itu adalah perhitungan sebuah akibat ketika kita sudah bekerja, berbeda dengan kita yang dituju adalah uang dan tujuan materi lainnya.

Nyengkal moto atau mata, di Maiyah telah diajarkan melek’an dari hiruk-pikuk kadunyan. Secara jasadiyah di Maiyah telah berlangsung berpuluh-puluh kali perjumpaan forum Maiyah melek’an sampai jam 3 pagi sambung shubuh. Pun mengasah agar mata ini menjadi waskito, terbiasa serta mempunyai sidik paningal, mempunyai pandangan yang tajam dan jernih soal kehidupan. Dalam tidur itu melatih mata-nya yang merem, badannya terbaring. Tetapi pikiran dan hatinya selalu stay on.

Mata memang terpejam tetapi pikiran tak boleh diam. Ia terus ‘bekerja’ di alam maya. Hal ini dilakukan misalnya ketika ingin menuliskan sesuatu. Sebelum tidur meng-angen-angen-kan ide atau pikiran apapun yang akan dikehendaki. Nanti ketika tidur secara tidak sadar akan menemukan ide-ide yang dikehendaki seperti wahyu menjadi paragraf-paragraf sehingga nantinya ketika bangun tidur tinggal diketik kembali, sekadar kemampuan ingatan. Inilah yang harus jeli dan teliti untuk mengingat.

Sebagaimana pola berpikir dalam Maiyah, ketauhidan nyawiji untuk selalu memperhatikan pekerjaannya dengan memperjodohkan, mempertemukan, mensilaturahmikan; menikahkan berbagai hal yang dianggap jauh berbeda, kemudian disatukan bahwa setiap hal memiliki hikmah dan keilmuan. Dalam arti menyatukan, mengintegrasikan, dan memadukan. Seluruh ajaran dari agama dimaksudkan dan dimaknai sebagai proses melengkapi dan memadukan segenap potensi-potensi diri, sehingga terjadi kesatuan di mana diri dapat melihat diri sendiri sebagaimana apa adanya, mulat salira atau bercermin bermuhasabah diri.

Kemudian berpikir dengan berbekal jiwa, pola berpikir dan sikap mental tawakkal, Sebagaimana tawakkal dimaknai bahwa kita memasrahkan, menyandarkan serta mewakilkan semua urusan kita kepada Gusti Allah, yang nantinya urusan kita pun akan diberesi dan di-handle oleh-Nya. Harapan dan cita-cita kita juga akan disampaikan oleh-Nya.

Caranya yaitu hidup pasrah dan tawakkal dengan menerima semua keadaan yang ada di dunia. Sikap tersebut nantinya adalah cerminan dari kemampuan nalar manusia dan juga kemampuan tertinggi dari segala aspek hidup.

Bermaiyah adalah bagian dari laku suluk tasawuf, tetapi memaknai tasawuf di sini bukanlah yang sering dipahami seperti yang menyendiri di gua, menepi ke hutan atau sudah tidak butuh urusan kadunyan, keduniawian tetapi tasawuf yang menurut Mbah Sholeh Darat adalah, dunia ini penting untuk dijadikan satu ladang yang nanti kita akan memanennya di akhirat. Jadi, akan ada proses kebermanfaatan ilmu yang harus kita praktekkan setelah kita melakukan proses pendidikan untuk perbaikan tatanan dunia, tatanan alam semesta ini untuk dijadikan tempat ibadah.

Itu adalah dua hal yang tak bisa lepas, saling terkait, duniawi dan ukhrawi. Jadi harus seimbang. Bukan malah diri kita ini sering terperdaya. Yang kita yakini jalan menuju akhirat ternyata itu hanya bersifat perduniawian. Seharusnya dunia diakhiratkan, malah akhirat diduniakan. Melalui Maiyah kita diajak dan dilatih untuk mengembara menyelami Maiyatullah, kebersamaan serta setiap hikmah dan kematangan yang lahir dari iktikad kita. Gusti Allah seakan-akan sedang secara terang-terangan mengungkapkan rasa bahagianya dengan landasan katresnan kepada kita. Wallahu a’lam bishowab.