Nikmat Memasak, Nikmat Rekreasi

Ketika kalian lelah pada satu aktivitas, kerja atau apapun (kreasi), maka kalian butuh ‘rekreasi’, maka ciptakanlah rekreasi tersebut sebagai refreshing dari kerja kalian, tanpa mengurangi produktifitas sebuah karya.

Photo by Debby Hudson on Unsplash

Begitulah pesan Cak Nun di berbagai kesempatan, baik waktu ngobrol pas cangkruk di angkringan maupun pada kesempatan resmi di panggung. Saya tersentak mencoba mencerna dan menyadari makna ajakan Cak Nun tersebut.

Aaah, ini adalah ide brilian tentang konsep kreasi-rekreasi. Terus terang selama ini di benak saya makna rekreasi selalu plesiran, dolan, kumpul-kumpul dan makan-makan. Maka ketika Cak Nun menjelaskan makna kreasi-rekreasi saya tertegun. Ini masalah mengorganisasi energi tubuh. Agar tubuh tetap dalam kondisi bugar, dengan mengolah antara kreasi dan rekreasi. Benar-benar ide brillian!

Adalah kegiatan memasak menjadi salah satu kegiatan kesukaan saya. Semasa kecil saya selalu membantu ibu bikin aneka roti. Mulai dari bikin bolu kukus, sampai kue-kue kering yang dibikin dengan oven yang ditaruh di atas kompor minyak. Mulai membantu ngiris cabe dan bawang merah sampai nguleg sambal sampai benar-benar lembut tanpa kelihatan bijinya! Benar-bener lembut! Sejak itulah ibu selalu menyuruh saya untuk nguleg sambal. Untuk kemudian digoreng dijadikan sambal khas Padang.

Mulai dari masak oseng-oseng kates sampai bikin rendang! Semua saya lakukan dan saya pelajari dengan metode lisan. Misalnya ketika saya pengen masak rendang, saya tanya kepada saudara-saudara dari Padang apa saja bumbunya dan bagaimana proses masaknya. Semua yang diajarkan saya ingat dengan baik. Apakah pemilihan dagingnya, bumbunya, ataukah cara masaknya, sampai cara mengaduknya. Semua ada seninya. Bahkan bumbu rendang Padang pesisir berbeda dengan rendang Padang pegunungan.

Namun proses membikin rendang ini tidak sekali dua kali langsung jadi. Ada beberapa kali ‘gagal’ sebelum benar-benar berhasil dalam membikin rendang Padang ini. Sekarang menurut saya membikin rendang Padang adalah hal yang sangat mudah. Karena semua bumbu masuk di situ. Cemplang-cemplung saja di atas wajan besar dan kemudian diaduk-aduk. Setelah 6-8 jam selesailah rendang.

Saya belum pernah merambah masakan masakan Jawa yang menjadi favorit saya, seperti lodeh dan gudeg. Saya terlalu takut karena khawatir hasil masakan saya tidak sesuai dengan ekspektasi saya.

Ada masakan simpel lagi yang saya selalu diminta masak. Yaitu nasi goreng ala ‘Chinese food’. Bumbu yang digoreng adalah bawang bombay saja yang ditumis sampai harum. Selebihnya tinggal diberi crat-crut minyak-minyak atau sauce yang tersedia jadi. Saperti sauce Inggris, kecap ikan, minyak wijen, dll. Kalau nasi goreng Jawa lebih simpel agi, cukup brambang dan lombok digongso, masukin nasi. Tambah kecap atau tidak adalah sesuai selera.

Kini saya menghayati bahwa memasak adalah bentuk ‘rekreasi’ dari kegiatan ‘kreasi’ sebelumnya. Ketika saya lelah, jenuh dalam kegiatan kantor, maka sebagai penghilang lelah tersebut adalah memasak. Kreasi-rekreasi. Ketika memasak (rekreasi) tersebut berubah menjadi kreasi, maka akan sampai pada titik jenuh, sehingga saya akan ber-rekreasi dari kegiatan memasak. Menulis adalah bentuk rekreasi saya.

Selain itu, memasak adalah sarana saya untuk selalu bersyukur atas nikmat dan rizki yang dilimpahkan Allah kepada hamba-Nya. Inilah nikmat yang lain yang banyak kita jumpai di meja makan kita.

Allah berfirman mengenai hal ini, agar kita selalu berucap syukur: “Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen. Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang tersusun-susun, (sebagai) rezeki bagi hamba-hamba Kami…” (Qs. Qaf: 9-11).

Demikian juga ayat yang lain yang coba saya kutipkan di sini: Innama Nuthi’mukum Liwajhillahi La Nuriidu Minkum Jazaan Wala Syukuro (Artinya: Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih).

“Maka nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?”