Sepenggal Catatan Mocopat Syafaat Juli 2022

Ngilmu Srawung Bareng

Sebagai bagian tak terpisahkan dari Maiyah, khususnya Mocopat Syafaat (Majelis Ngilmu Maiyah yang setiap tanggal 17 berlangsung di TKIT Alhamdulillah Kasihan – Bantul), Nahdlatul Muhammadiyyin (NM) menemukan peta 3 lapis putu (anak-cucu) Jamaah Maiyah. Lapis-lapis ini menggunakan indikator “tahun mulai” mereka mengenal dan mengikuti Maiyahan.

Mocopat Syafaat 17 Juli 2022. Foto: Adin (Dok. Progress).

Adapun hasil pemetaan tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, Putu Mbarep. Subjek-subjek yang dimaksud adalah Jamaah Maiyah yang hadir sejak periode awal dimulainya Mocopat Syafaat di Kasihan pada 1999.

Kedua, Putu Tengah. Subjek-subjek yang dimaksud adalah Jamaah Maiyah yang mulai mengenal dan mengikuti Mocopat Syafaat kurang lebih mulai tahun 2010.

Ketiga, Putu Ragil. Subjek-subjek yang dimaksud Jamaah Maiyah yang mulai hadir di Mocopat Syafaat pada tahun 2017.

Ketiga Lapis Putu tersebut tidak untuk menandakan senioritas atau membuat jarak antar ketiganya. Tetapi sekadar potret dari kenyataan lapangan yang terjadi. Masing-masing subjek JM memiliki tahun dan lamanya mengikuti Maiyahan, khususnya Maiyahan Mocopat Syafaat.

Justru dengan “men-tepung-kan” ketiganya, diharapkan muncul ketersambungan, sinergi, dan prinsip-prinsip kekeluargaan yang barangkali ke depan akan bermanfaat bagi semua (Maiyah, Mocopat Syafaat, JM, dan ummat).

Lalu apa yang menjadi dasar “nepungke putu” tersebut? Kami (NM) menemukan bahwa setiap manusia memerlukan manusia yang lain, memerlukan persinggungan dengan makhluk lain, tidak mampu hidup sendirian, sehingga otomatis akan bergaul, srawung. Nah, pada diskusi NM yang lalu, kami menemukan dan merumuskan Ilmu Srawung.

Dan di dalam Ilmu Srawung terdapat 5 tahapan sebagai berikut:

  1. Srawung.
    Bergaul, pergaulan, memperluas pergaulan dengan siapa saja apa saja.
  2. Tepung.
    Sesudah bergaul, otomatis akan mengenal, tahu, siapa saja apa saja yang ada pada dunia pasrawungan.
  3. Dunung.
    Saat tahu, kemudian muncul semacam data “ketepatan” identitas hasil identifikasi, potensi, karakter, kemampuan, dari dan pada siapa saja apa saja.
  4. Tetulung.
    Ketepatan identifikasi ini kemudian diolah menjadi sinergi kebaikan, dalam bentuk tolong-menolong secara bersama.
  5. Ngadiluhung.
    Dengan bekal tolong-menolong, bersama-sama berbuat baik, maka dengan sendirinya terkreasi suatu keadaan kemuliaan, adiluhung bersama, bersama dalam tingginya kualitas hidup, baik pada lingkar keluarga, masyarakat, dunia.

“Setiap srawung akan tepung, ketika tepung akan dunung, setiap dunung wajib tetulung, dengan tetulung akan terwujud adiluhung, kemenangan bersama.”

Tetapi jangan lupa, bekal pokok dari 5 tahapan Ilmu Srawung adalah “suwung”, menanggalkan keakuan diri, egosentrisme individu, sehingga yang terus ada dan tumbuh dalam pikiran kita adalah nalar publik (kedewasaan berpikir bagi kebaikan semua/orang banyak).

Artinya, sinergi NM ke Mocopat Syafaat bulan ini adalah Ngilmu Srawung Bareng. Semoga Anda berkenan, semoga Allah Swt. meridlai perjuangan kita. Amin, insyaAllah amin.

Yogyakarta 20 Juli 2022