Moco Qur’an = Tombo lan Tresno Marang Allah

Tak salah kiranya jika “moco Qur’an lan maknane” menjadi satu dari lima perkara Tombo Ati (Obat Hati). Artinya, Al-Qur’an bisa menjadi tombo (obat) kanggo ati sing lhoro (sakit secara jasmani maupun rohani) apabila ayat-ayat Al-Qur’an (berikut arti terjemahannya) itu dibaca, direnungi, serta dimaknai nilai-nilai dan “pesan” yang terkandung di dalamnya.

Sampai kemudian usai “moco” Qur’an, hati merasa tenang, makcles, adem, ayem, dan sumeleh. Oh, ternyata Allah itu Akbar. Lebih dan lebih besar dari masalah yang kita hadapi. Oh, ternyata shalat dan sabar itu bisa menjadi penolong hidup kita. Oh, ternyata sakit itu bukan musibah, malah mungkin sebuah “anugerah”, jika dengan sakit justru mampu mendekatkan diri kepada Sang Khaliq ketimbang waktu sehat.

Pada intinya, dengan “moco Qur’an lan maknane” kita semakin mudah bersyukur, tambah rasa keimanan, sekaligus merapal istighfar panjang, memohon belas ampun atas kesalahan, kesombongan, dan kemaksiatan yang berulang-ulang. Astaghfirullah ‘aladzim.

***

Selain sebagai tombo, dalam keseharian membaca Al-Qur’an, saya menemukan lagi kedahsyatan ayat dan surat yang terdapat dalam Al-Qur’an. Perihal ini, Mbah Nun pernah menyinggung. Bacalah arti terjemahan (makna) surat Al-Insyirah 1 – 8. Urut dari ayat 1 sampai 8. Setelah itu bacalah mulai dari terjemahan ayat ke-8 sampai ayat 1. Di sana kita akan menemukan ketakjuban. Bila terjemahan arti surat Al-Insyirah dibaca dari ayat 1 ke 8, atau sebaliknya dari ayat 8 ke ayat 1, secara redaksi antar susunan kalimat, dan pemaknaan sama-sama nyambung. Runtut dan relate. Sama sekali tidak mengubah esensi maknanya. Mari kita baca.

  1. Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?
  2. Dan Kami pun telah menghilangkan bebanmu darimu.
  3. Yang memberatkan punggungmu.
  4. Dan Kami tinggikan sebutan namamu bagimu.
  5. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
  6. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
  7. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)
  8. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.

Selain surat Al-Insyirah, kita juga bisa mendapati pemandangan serupa di surat yang lain dalam Al-Qur’an. Misalnya, surat Al Hadid ayat 1-5. Berikut arti terjemahannya.

  1. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
  2. Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
  3. Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Dhahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
  4. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
  5. Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.

Silakan dibaca dari atas ke bawah terjemahan ayat 1-5, setelahnya gantian baca dari bawah ke atas terjemahan ayat 5 sampai 1. Dan ternyata dibaca urut dari atas ke bawah atau sebaliknya dari bawah ke atas sama-sama nyambung. Alias tildak berbantah-bantahan. Bahkan membaca semua terjemahan ayat surat Al Hadid 1-29, baik dari atas maupun dari bawah tetap saja connect. Klik, dan klop.

Meski kalau kita baca dan amati keseluruhan surat dalam Al-Qur’an yang berjumlah 114, tidak semua memiliki redaksi yang relevan apabila dibaca secara terbalik (dari bawah ke atas). Satu contohnya surat An-Nas di mana memahami surat An-Nas mesti urut dari ayat 1-6. Seperti yang kerap diilustrasikan oleh Mbah Nun tentang struktur posisi Tuhan sebagai robbin-naas, malikin-naas, ilahin-naas. Hal semacam ini sangat erat kaitannya dengan asbabun nuzul diturunkannya sebuah surat. Wallahu ‘alam bisshowab.

Dari proses pengalaman membaca sekaligus memaknai sebuah surat dalam Al-Qur’an, kita menemukan satu lagi dari sekian banyak alasan kenapa Al-Qur’an benar-benar mukjizat terbesar. Mahakarya Allah sendiri, bukan karangan Rasul atau Nabi. Sebab tak ada satu pun yang sanggup membuat/menulis ayat yang serupa dengan Al-Qur’an.

“Katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS Al-Isra’ :88).

Selain sebagai tombo, dengan kita “moco” Al-Qur’an (yang meliputi membaca, merenungi, memaknai, mentadabburi) itu sama artinya kita memesrai, dan mencintai Sang Kreatornya, Allah subḥānahu wata’ala. Dan salah satu sosok yang memantik saya, dan mungkin teman-teman sekalian untuk dekat-dekat, akrab dengan Al-Qur’an, tepat hari ini dilimpahi usia ke-75. Sugeng milad Mbah Fuad, semoga panjenengan diberkahi ke-slamet-an dunia-akhirat.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad.

Gemolong, 7-7-2022