Mesin Waktu Maiyah

Image by FrankPfeiffer from Pixabay

Tak banyak perkumpulan atau sebuah pergaulan dewasa ini yang memperkenalkan atau membahas masa lalu tentang leluhur di Nusantara ini. Maiyah hadir sebagai pembeda dengan nuansa kemesraan sebuah perkumpulan lintas generasi, lintas golongan.

Saya pribadi menemukan banyak sekali butir-butir perjalanan masalalu Nusantara di sini.

Jika mbah kita dahulu kala masih mendongeng buat anak cucunya, entah ketika senja, dalam waktu senggangnya atau menjelang menidurkan anak cucunya. Dongeng yang secara turun-temurun diwariskan kepada anak-cucunya, mulai dari legenda sampai jejak perjuangan. Hal ini tentu membuat anak-cucu mereka menjadi tahu tentang riwayat masa lalu, dan berpotensi untuk “nguri-nguri” apa yang leluhur mereka tingggalkan.

Namun seiring berjalannya waktu dengan serangan media dan teknologi masa kini, hal itu dianggap usang dan susah ditemui. Ada satu contoh menarik yang sangat lazim kita temukan di kehidupan sosial masyarakat. Hampir rata-rata orang sekarang mengajari anak-anak mereka sejak lahir dengan bahasa Indonesia, bukan lagi bahasa kromo bagi orang Jawa khususnya ,dan bahasa daerah pada umumnya.

Nilai-nilai luhur dan budi pekerti dari nenek moyang tak lagi menjadi hal yang penting apa lagi “Edi”.

Di maiyah justru kita temukan hal yang berbeda, bagaimana Mbah Nun mengajarkan tentang nilai luhur masa lalu, yang terkadang membuat angan jauh melayang membayangkan betapa mbah kita dahulu begitu menakjubkan dalam berbudaya.

Tak jarang Mbah Nun mengajak kita mundur jauh ke belakang menyelami mesin waktu untuk mengenal asal-usul kita, jati diri kita.

Sesuatu yang bagi saya tak hanya sekadar pengingat atau piweling untuk kita generasi masa kini, namun lebih kepada mesin waktu, mesin waktu yang perlu kita pahami.

Kita mengenal bagaimana nasi bisa kita makan, karena ada beberapa proses di belakangnya yang teramat bermakna namun tak jarang luput dari pengamatan. Sebagian dari kita bahkan tak tahu bahwa nasi itu berasal dari gabah atau bulir padi. Karena mereka hanya tahu membeli beras dari pasar atau supermarket, tanpa tahu siapa yang menanam padi itu, siapa yang menciptakan padi itu.

Banyak hal lain di Maiyah yang dibahas bagai sesuatu yang asing namun sejatinya itu adalah hal sederhana yang diciptakan oleh pendahulu kita. Nilai-nilai luhur, budaya, adat istiadat yang dewasa ini kita anggap usang serta tak berguna.