Menuhankan Pahala

Kalau beribadah dengan orientasi dan target pahala, rasanya kok kita ini — terhadap Allah — pedagang pemburu laba. Padahal, Allah kurang memberi apa kepada kita: hidung, otak, hati, lidah, duka, dan kebahagiaan. Sementara kita tak pernah dan sanggup memberi apa pun kepada-Nya, bahkan begitu malas memberi sesuatu kesejatian hakikat diri kita sendiri. Kalau obsesi kita adalah pahala dan surga, dan kalau itu kita utamakan, jadinya kok pahala itulah yang kita tuhankan. Apa tak malu kita kepada-Nya, pada akal dan perasaan kita sendiri.

Ilustrasi: Jamal Jufree