Mengenolkan Diri

Photo by Yoann Boyer on Unsplash

Ketika ada yang bertanya, bagaimana sembarang bilangan untuk bisa menghasilkan nilai satu? Ada baiknya kita kembali mengingat bahwa sembarang bilangan apapun ketika ia sudah dihadapkan dengan pangkat nol, maka tak ada hasil selain angka satu itu sendiri.

Pun dengan ketika Mbah Nun seringkali dhawuh ‘jadikan Allah sebagai audiens kita dalam langkah apapun yang kita ambil’, lantas bagaimana untuk terus bisa menjadikan Allah sebagai audiens kita?

Barangkali, di sini ada baiknya kita berkaca pada bilangan tadi. Bahwa langkah tercepat untuk menjadikannya kembali ke satu adalah dengan memangkatkan dirinya dengan nol.

Ikhlas. Barangkali kata itu yang kurang lebih bisa menggambarkan istilah memangkatkan diri dengan nol, mengenolkan diri.

Kata yang mudah diucap, tapi butuh latihan yang tak cukup satu, dua, tiga kali iterasi atau perulangan. Saat mulai ada motif lain yang sekiranya bisa menggeser keberadaan Yang Maha Tunggal, kita jernihkan kembali hati dan tata kembali pikiran kita. Ibaratnya, saat pangkat kita sudah bukan nol, katakanlah satu, dua, tiga, dan seterusnya, kita harus belajar sabar untuk perlahan mengurangi pangkat tersebut sampai kembali nol lagi.

Mengenolkan diri juga bisa saja berarti bahwa untuk menuju Yang Satu, kita perlu menanggalkan semua jubah keduniawian kita. Bahwa kita perlu menjaga kesadaran kita, di hadapan Tuhan, semua makhluk adalah sama. Kita menghadap dengan rasa penuh kesadaran menghamba. Bahwa kita tidak punya apa-apa, segala daya upaya hanyalah dari pertolongan dan kemurahan-Nya saja.

Populer