CakNun.com

Mengenal Masyarakat Desa Potorono

Sinau Bareng di Lapangan Desa Potorono Banguntapan Bantul Yogyakarta pada Minggu 19 Juni 2022 alhamdulillah berjalan lancar dan paripurna hingga selesai pada pukul 00.15 WIB. Pak Lurah, seluruh panitia, dan semua yang terlibat mendukung acara bersyukur atas terlaksananya Sinau Bareng ini. Kerja keras mereka terbayar lunas.

Foto: Adin (Dok. Progress)

KiaiKanjeng juga telah menyuguhkan yang terbaik dari sisi musik maupun interaksi dengan jamaah melalui workshop edukatif dan menggembirakan bagi masyarakat. Seperti pada setiap Sinau Bareng, KiaiKanjeng berupaya mengenal lebih dekat terlebih dahulu masyarakat yang mengundang Sinau Bareng. Harapannya, dengan pengenalan ini, mereka bisa lebih relate dalam menyiapkan nomor-nomor lagu sekalipun selalu siap dengan kemungkinan nomor lain yang harus dibawakan sesuai kebutuhan saat acara berlangsung.

Selain itu, Mbah Nun sendiri selalu menekankan agar dalam setiap kehadiran KiaiKanjeng di suatu tempat, apa-apa yang disampaikan dan dibahas harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan bukan berbicara tanpa keterkaitan dengan concern dalam masyarakat tersebut. Sekurang-kurangnya tema yang diusung oleh panitia harus direspons dan Mbah Nun selalu memenuhi permintaan pembahasan tema dari panitia pada setiap Sinau Bareng.

Demikian pula pada Sinau Bareng di Lapangan Desa Potorono ini. Salah satu sumbangan pengenalan terhadap masyarakat Potorono untuk KiaiKanjeng ini diberikan oleh Pak Mustofa W Hasyim dari sisi beliau sebagai Pak Mus warga Muhammadiyah dan punya keakraban dengan wilayah desa ini dan daerah Banguntapan pada umumnya.

Berikut ini pengenalan Pak Mus atas desa Potorono Banguntapan Bantul Yogyakarta.

Pertama, Warga desa Potorono seneng dan sregep golek ilmu. Mementingkan pendidikan anak-anaknya. Lebih 2500 warga berstatus pencari ilmu, mulai dari yang belajar di SD sampai perguruan tinggi. Sejak dulu memang begitu.

Kedua, desa Potorono pernah menjadi lokasi program Qoryah Thoyyibah dari PP Aisyiah karena kehidupan warga yang bisa menjaga keharmonisan keluarga dan masyarakat. Pendidikan sosial berupa pengajian ibu-ibu dan anak-anak terjaga. Juga warga relatif sejahtera hidupnya.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Ketiga, mayoritas warga menganut paham agama Muhammadiyah. Bahkan di kecamatan Banguntapan, yang di dalamnya ada desa Potorono ada dua Cabang Muhammadiyah. Cabang Banguntapan Utara dan Banguntapan Selatan.

Keempat, relasi kultural dengan Kotagede termasuk dekat. Banyak anak-anak Potorono yang dulu sekolah di Kotagede. Anak muda Kotagede kalau latihan dasar pencak silat Tapak Suci di Potorono. Di dusun Mertosanan Wetan, di rumah H Djuweni, Carik Desa Potorono periode awal. Beliau adalah ayah dari Bapak Dalhar DW yang tahun 2005 sampai 2015 menjadi Lurah atau Kepala Desa Potorono.

Kelima, berkat sregep cari Ilmu dan sregep bekerja juga sregep ngibadah maka kemakmuran warga terus meningkat. Sembilan dusun di desa Potorono punya potensi ekonomi yang menonjol dan khas. Untuk menggerakkan ekonomi, Potorono punya Pasar Desa dan Sunday Morning Market atau Bazar Desa di hari Ahad.

Keenam, ini semua yang perlu disyukuri oleh warga desa Potorono dan sekitarnya.

***

Harapan Pak Mus pada poin keenam di atas memang terwujud dalam Sinau Bareng di Lapangan Potorono yang sejak awal telah diniatkan sebagai bentuk syukur atas semua keadaan sosial kemasyarakatan di desa Potorono dalam banyak sisinya. Jika melihat kain biru yang terbentang di belakang gawang yang berada di belakang panggung KiaiKanjeng bisa terlihat bahwa lapangan ini cukup hidup karena ada kegiatan sekolah sepakbola di situ. Rumput lapangan juga tampak merata hijaunya, dan tanahnya jauh dari kondisi kering dan tandus. (caknun.com)

Lainnya

Ruwat (Desa), Menjalani Islam Itu Sendiri

Ruwat (Desa), Menjalani Islam Itu Sendiri

Ruwat Bumi adalah menjalani Islam itu sendiri sebab Islam mengajarkan untuk bersyukur, berdoa, dan membersihkan atau memperbaiki diri.