Mengalirnya Kesejahteraan Batin dalam Maiyahan di Tajinan Malang

Liputan Sinau Bareng di komplek PT Karya Timur Prima, Tajinan Malang, Sabtu 20 Agustus 2022

Para karyawan PT Karya Timur Prima Malang semalam berbaur menjadi satu dengan masyarakat dan jamaah Maiyah dalam Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Acara digelar di komplek baru pabrik rokok dengan produk rokok bernama Ina, Potenza, dan Mahayana ini. Mereka senang dan bergembira berjumpa Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Mereka meresapi sapaan dan nasihat Mbah Nun. Mereka menikmati keasikan bersama melalui musik KiaiKanjeng.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Area luas dan lapang di samping gedung besar ini terlihat penuh, padat, dan nyaris tanpa sela. Sebagian besar karyawan mengenakan kaos warna orange. Jamaah tidak hanya yang berada di sini, tetapi juga di jalan di depan komplek dengan disediakan layar untuk dapat menyaksikan langsung suasana panggung. Mewarnai kebersamaan dalam Sinau Bareng atau Maiyahan ini, kaos atau hadiah-hadiah lain dibagikan. Bahkan jajanan yang ditata di atas tampah yang disiapkan untuk beliau-beliau yang ada di panggung juga dibagikan ke area jamaah.

Tema utama Sinau Bareng ini adalah Melestarikan Budaya Rokok Kretek Asli Indonesia, tetapi yang melatarbelakangi Sinau Bareng ini adalah visi Pak Agus sebagai pemilik perusahaan bahwa Sinau Bareng ini merupakan wujud berbagi dan berdoa agar perusahaan bisa berkesinambungan serta hubungan antara Pak Agus, manajemen, dan seluruh karyawan juga bisa langgeng. Karena itu, menurut Pak Agus, saat menjawab pertanyaan salah satu jamaah, sejak awal seseorang mendirikan usaha atau perusahaan tujuan yang harus dimiliki adalah mensejahterakan karyawannya. Mendirikan perusahaan bukan sekadar untuk mencari keuntungan.

Kesejahteraan yang dibutuhkan manusia tidak hanya yang berbentuk pendapatan, tetapi juga kesejahteraan batin berupa kegembiraan, rasa senang, kebersamaan, kasih sayang di antara sesama, bertambahnya ilmu, beragamnya pengalaman budaya yang dialami, meningkatnya kesadaran-kesadaran baru, dll. Kehadiran Mbah Nun dan KiaiKanjeng tadi malam menuangkan dan mengalirkan beragam jenis kesejahteraan batin tersebut.

Begitu naik ke panggung, Mbah Nun memastikan mereka semua yang hadir berada dalam keadaan senang dan gembira. Kalau hati senang, mendengarkan pengajian akan gampang masuk. Iman jadi mantep, ilmu makin tinggi. Demikian tegas Mbah Nun. Rasa senang tidak hanya berkaitan dengan kesejahteraan tetapi rasa syukur. Maka Mbah Nun berpesan agar para karyawan PT Karya Timur Prima dan para jamaah untuk pandai-pandai bersyukur. Bahan untuk bersyukur itu, dalam bahasa Mbah Nun, sak embrek akehe.

Nomor medlei Nusantata adalah di antara ruangan rasa senang pertama yang dihadirkan untuk para karyawan dan jamaah. Deretan lagu-lagu daerah Indonesia dikemas dengan apik dan semuanya diajak terlibat bernyanyi. Dari sisi budaya keagamaan, Mbah Nun ingin mengecek ke jamaah apakah pepujian di langgar-langgar masih ada, dan ternyata masih berlangsung dengan baik. Jadilah mereka diminta naik ke panggung untuk melantunkan pepujian itu. Mereka hadirkan Shalawat Nariyah. Kemudian bersama para vokalis KiaiKanieng mereka diajak melantunkan pujian Allah Wujud Qidam Baqa’.

Kesejahteraan dari jalur musikal mengalir pada beberapa nomor di antaranya One More Night, Beban Kasih Asmara, dan menjelang akhir acara dihadirkan lewat Medlei Era yang menganggit lagu-lagu penuh kenangan dan hit dari berbagai era hingga era terkini. Sementara itu, kesejahteraan berupa pengalaman kultural baru salah satunya dinikmati lewat kehadiran sahabat lama Mbah Nun dan KiaiKanjeng dari Amerika, Prof. Anne Rasmussen. Seorang profesor etnomusikologi yang sudah sejak pertengahan tahun 90-an menggeluti Seni Musik Islam di Indonesia dan sebelumnya banyak menekuni musik di Timur Tengah. Beliau mahir memainkan alat musik Timur, yaitu gambus. Kemana-kemana alat musik tersebut selalu dibawa.

Selain membawakan nomor Nassam ‘Alayna yang telah disiapkan sejak sound check sore hari, tadi malam Bu Anne mengiringi saat para karyawan dan jamaah melantunkan pepujian Allah Wujud Qidam Baqa’. “Kon tau nyanyi diiringi wong Amerika? (Belum). Ini luar biasa. Wong Malang, perusahaan, jamaah, dan Bu Anne melantunkan sesuatu tetapi bukan lagu Barat, tetapi pujian Allah Wujud Qidam Baqa’,” tegas Mbah Nun.

Perihal menjalankan perusahaan, seraya mengapresiasi visi Pak Agus, Mbah Nun menyarankan agar berbarengan (atau kalau bisa di awal) setiap kegiatan bisnis, Pak Agus sudah melakukan sesuatu untuk kepentingan dan kemaslahatan orang banyak atau masyarakat. Kemudian kepada para karyawan, Mbah Nun berpesan, “Pak Agus punya hati yang luas buat para karyawan. Dongakno, ngko awakmu entuk pantulan. Ojo medit-medit dengan donga.” Mbah Nun juga menyatakan agar apabila ada apa-apa semua dirembug untuk dicarikan solusinya, tidak sedikit-sedikit demo.

Bagaimana dengan budaya rokok kretek asli Indonesia? Dalam sesi tanya jawab, seorang jamaah juga bertanya tentang kandungan rokok apakah hanya nikotin. Mbah Nun menemukan bahwa fakta pertamanya adalah tembakau. Mbah Nun ajak jamaah berpikir siapa yang membuat atau menciptakan tembakau dan kaitkanlah dengan ayat robbana ma khalaqta hadza batila. Rokok adalah bagian dari kontroversi manusia. Tembakau menjadi rokok adalah ijtihad yang tidak disetujui oleh sekelompok lain orang.

Kalau diperbesar konteksnya, maka akan berkaitan dengan globalisasi di mana perusahaan rokok menjadi musuh perusahaan farmasi, dst. Padahal menurut Mbah Nun, pijakannya adalah semua bermanfaat. Di sini, manfaat tembakau belum diketahui oleh banyak orang. Maka, bagi yang tidak suka rokok, baik kiranya jika mereka melakukan penelitian. Jangan hanya karena tidak senang, lalu mengatakan rokok tidak boleh, tidak sehat, atau haram.

Tentu Mbah Nun tidak sedang membela rokok, tetapi menyarankan metodologi analisisnya, sebab dalam pandangan Mbah Nun yang terjadi adalah ketidakadilan dunia. Kalau pendapat dari lembaga semacam WHO mudah dianggap benar (kebenaran tinggal) dan diikuti. Demikianlah Mbah Nun menegaskan bahwa perpesi kita mengenai rokok belum tentu sesuai dengan persepsi WHO.

Kesejahteraan batin berupa ilmu mengalir banyak dari Mbah Nun melalui uraian tentang ilmu Tauhid saat menguraikan 20 sifat wajib Allah yang ada dalam pujian Allah Wujud Qidam Baqa’, lewat jawaban-jawaban saat sesi tanya jawab, serta respons terhadap penyampaian Pak Agus, maupun respons Mbah Nun terhadap semua hal yang berlangsung selama Maiyahan tadi malam. Di tengah-tengah acara, beberapa karyawan dan jamaah mengulurkan air putih ke depan Mbah Nun untuk didoakan. Mbah Nun pun mendoakan untuk mereka. Doa dari Mbah Nun adalah juga sebentuk aliran kesejahteraan untuk para karyawan dan jamaah. Tidak saat itu saja, dari awal hingga akhir acara, doa Mbah Nun mengalir terus.

Dalam konteks perusahaan, apa yang diungkapkan Pak Agus melalui Sinau Bareng ini serta respons-respons Mbah Nun membawa karyawan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk melihat perusahaan sebagai jalan menuju kebahagiaan bersama. Pukul 23.15 WIN, Mbah Nun mengajak jamaah untuk berdiri dan berdoa, memuncaki acara. Selepas Mbah Nun meninggalkan panggung, KiaiKanjeng menghadirkan satu nomor yaitu Tombo Ati yang dimaksudkan untuk mengantarkan kepulangan jamaah. Tetapi jamaah masih setia, tidak beranjak, berdiri rapi. Mereka diantarkan pulang, tapi malah sebaliknya menunggu KiaiKanjeng yang pulang, mereka yang ingin mengantarkan pulang KiaiKanjeng. Saat bus KiaiKanjeng melangkah pela keluar lokasi, sebagaian dari jamaah itu berdiri melambaikan tangan kepada KiaiKanjeng. (caknun.com)