Membulatkan Niat Berpuasa Ramadhan

Dalam kultur masyarakat Jawa, bulan Sya’ban dikenal dengan nama ruwah di mana ruwah itu sendiri mengandung sekian arti. Ada yang mengartikan ruwah adalah ngluru arwah. Yakni menziarahi arwah para leluhur di pasarean (kuburan). Maka tak heran setiap masuk bulan Sya’ban/ruwah, area pemakaman di desa-desa dibersihkan. Sebab akan banyak orang atau warga yang akan berziarah. Nyekar istilah Jawanya. Mereka “menjenguk” para ahli kubur, seraya mendoakannya.

Photo by Rifky Nur Setyadi on Unsplash

Ruwah juga dapat diartikan melimpah atau banyak. Sebagaimana akrab kita dengar frasa melimpah ruah. Yang artinya banyak sekali. Setiap sasi ruwah tiba, sebagian besar warga desa menyelenggarakan tradisi ruwahan atau nyadran. Yaitu membuat aneka menu makanan (mulai dari nasi, lauk-pauk, jadah, wajik, apem, ketan, gudangan, krupuk, rempeyek, dll) dari hasil bumi yang mereka tanam. Kemudian rupa makanan itu dipenak pakai godong jati, atau yang lebih modern dikemas dengan besek, lalu dibagikan kepada seluruh warga. Itu semua tidak lain sebagai wujud syukur atas melimpahnya nikmat Tuhan yang telah dianugerahkan sepanjang tahun. Saking melimpah ruwah-nya, kemarin saya sampai mendapat 4 besek makanan dalam sehari. Maturnuwun Gusti.

Lewat dua tradisi ruwahan (ziarah dan nyadran) tersebut, kita diingatkan kembali agar senantiasa bersyukur dan bersyukur. Bersyukur lantaran masih diberi kesempatan hidup. Dan bersyukur karena masih akan dipertemukan bulan Ramadhan yang penuh berkah. Rajab menanam, Sya’ban memupuk, dan InsyaAllah Ramadhan nanti memanen. Maka tak henti-hentinya kita munajatkan doa, Allahumma bariklana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhana.

***

Alhamdulillah, momen Ramadhan tahun ini kita sudah agak keluar dari cengkeraman pandemi. Semakin ke sini angka penyebaran virus Covid-19 kian melandai. Dan semoga saja situasi dan kondisi segera “berdamai”. Bahkan MUI telah menerbitkan anjuran agar shaf shalat berjamaah di tempat ibadah dirapatkan (tanpa jaga jarak) kembali seperti sediakala.

Kabar ini tentu menjadi hal baik bagi kita. Yang seyogianya memacu niat agar dalam melaksanakan ibadah puasa jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan jangan hanya dijadikan ritual tahunan. Jangan sekadar merenangi sensasi, tetapi mesti juga menyelami esensi puasa. Setiap tahunnya puasa Ramadhan harus membawa kita “naik kelas” dalam hal ketakwaan.

Memang fitrahnya, manusia cenderung meluapkan daripada menahan. Manusia condong melampiaskan ketimbang mencegah. Manusia amat rentan tergiur dibanding mengendalikan. Dan momen puasa (Ramadhan), manusia “dipaksa” untuk menahan, mencegah, mengendalikan hawa nafsunya sepanjang hari, sepanjang bulan.

“Di dunia itu puasa, berbukanya nanti di sorga.” Begitu pesan sederhana Mbah Nun. Namun, rasanya pesan ini berat untuk ditunaikan. Sebentar, coba kita renungkan. Bukankah dunia ini sandiwara? Dan sandiwara hanya sebentar, hanya sementara. Tidak sanggupkah kita untuk “berpuasa” menahan diri dari godaan dunia? Semua kembali ke nawaitu kita masing-masing.

Dengan mengucap Bismillahirahman nirrahiim, mari kita tekad bulatkan niat dalam hati untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan tahun ini. Dengan sebaik-baiknya. Sebagus-bagusnya. Sembari terus menjalani laku “puasa” dalam menapaki kehidupan dunia. Semoga kelak kita diperkenankan “berbuka puasa” di sorga bersama para kekasih Allah dan golongan hamba yang diridhai-Nya. Irji’iii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah. “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.”

Gemolong, Sya’ban 1443 H (Maret 2022)