Membaca Emha dalam “M” Frustrasi

Kover Buku Sekarang

Sepak terjang penulisan kreatif Cak Nun dimulai sejak penerbitan “M” Frustrasi! dan Sajak Jatuh Cinta (Pabrik Tulisan, 1976). Kumpulan puisi “stensilan” ini kata Seno Gumira Ajidarma dicetak sebanyak 100 eksemplar. “M” Frustrasi! bukan hanya menandai debut publikasi buku pertama Cak Nun, melainkan juga bagi sang penerbit yang diupayakan melalui semangat indie — sebelum istilah tersebut mengemuka sebagaimana sekarang.

Empat dasawarsa kemudian, tepatnya 45 tahun, “M” Frustrasi! kembali menyapa pembaca dengan wajah elegan. Penerbitnya masih sama. Kini buku itu penuh dengan ilustrasi yang bagi anak sekarang kaya akan sentuhan artsy. Berkat bubuhan Bambang Nurdiansyah dan Hardyono. Beberapa nama, selain Seno a.k.a Mira Sato, “M” Frustrasi! juga merupakan hasil kerja keras Pang Warman, Dodo Hartoko, dan Dorothea Rosa Herliany.

Buku ini memuat 21 puisi. Dibagi menjadi dua bagian. “M” Frustrasi! memuat sembilan puisi, sedangkan Sajak Jatuh Cinta berjumlah dua belas. Semuanya ditulis pada rentang tarikh 1975 dan 1976. Kecuali satu puisi berjudul Dengan Berat. Tertulis tahun 1972. Susunan setiap puisi tak diurutkan berdasarkan riwayat tahun. Tapi cenderung nuansa. Suatu kondisi kepekaan terhadap kahanan.

Rendra pernah menyebut terminologi manjing ing kahanan. Barangkali istilah ini dapat kita pakai untuk menengok sejauh mana sang penyair berusia 22 tahun sadar-diri atas jagat sosial di sekitarnya. Dengan kata lain, lingkungan sosial yang ia tempatkan sebagai latar dalam puisinya itu  seberapa jauh menyublim ke dalam diri.

“M” Frustrasi! pertama dan terutama adalah pergumulan eksistensial yang di dalamnya meruangkan jamak perkara. Dari urusan kenisbian hidup, mencari bayangan Tuhan, hingga cinta ala Platonik.

Dengan berat, akhirnya kau pun
tiba. Di garis waktu
Proses-proses ungu

Dengan berat kaulepaskan nurani
Buat merebut usirnya kembali
Di nisbi Perburuan ini

Bahwasanya di pintu terungkap arti tapi sia-sia
Dalam sepi kau menatap langit bagai kertas-kertas ujian
Berulangkali terjerembap: kau tak bisa undur diri

(Dengan Berat, 1972)

Dokumentasi Kover Buku Edisi Pertama yang Ditulis Sendiri oleh Seno Gumira Ajidarma

Puisi di atas menyodorkan ungkapan deklaratif. Baris pertama kita disuguhkan “dengan berat, akhirnya kau pun tiba” yang menyisakan kepada kita suatu beban yang datang entah dari mana. Yang jelas beban itu membuat “kau” tengah berada di garis waktu. Suatu perbatasan yang bukan bersifat spasial (ruang atau tempat) melainkan temporal. Kondisi ini jelas membuat seseorang merasakan kekalutan.

“Ungu” bukan merupakan warna tegas. Tidak seperti hitam atau putih. Warna ungu juga sukar didapatkan di alam sekitar. Namun, kita mafhum kalau warna ini acap diasosiasikan dengan dimensi imajinatif atau spiritualitas. Keduanya sering dilekatkan dengan kondisi esoteris. Suatu pandangan tersembunyi yang bersumber dari fenomena eksistensial.

Seperti kata Terry L. Allen dalam artikelnya bertajuk Philosophy in Red, Philosophy in Purple: Lebenswelt given, Weltanschauung Achieved, Lifeworld Contra Worldview (2008) menjelaskan filsafat warna ungu sebagai berikut:

… purple zone” is an “inner place” where Weltanschauung or worldview can be developed. It expresses a personal account or interpretation of life’s ultimate experience and meaning. It is an achieved and existential phenomenon

Proses ungu yang dirasakan penyair yang tampil sebagai orang kedua, yakni “kau” di atas bukan akibat dari rasa kebingungan arah. Ia justru menyadari akan posisinya. Satu posisi yang memahami proses atau perjalanan yang sedang dirasakan itu benar-benar nisbi. Ia juga menyadari hendak mengarah ke mana perjalanan yang sedang ditempuh. Perjalanan yang tentu mengarah ke dalam diri, suatu penjelajahan menuju jagat cilik.

Tatkala “kau” menatap langit, menyapu-pandang cakrawala tanpa batas, ia teringat betapa kehidupan hanya kondisi antara. Sebuah waktu jeda perjalanan yang entah pada terminal berapa akan berujung. Atau ujung tak begitu ia hiraukan. Seperti kita tahu, ketika melakukan perjalanan hanya ada dua pilihan: maju atau mundur.

Tapi sang penyair tampaknya menyadari betul bahwa mundur atau maju sekadar persoalan keputusan sekarang. Meski tertatih-tatih, “berulangkali terjerembap”, ia tetap terus berjalan karena “undur diri” bukan pilihan melainkan kekonyolan. Bagaimana tidak? Penyair telah memahami sangkan dan paran dengan mampu mengidentifikasi “garis waktu” dan “proses ungu”. Ibarat telah menengok peta perjalanan, seseorang tinggal memutuskan dua hal. Bertindak atau berdiam.

Dalam perjalanan “spiritual” timbulnya rasa letih sangatlah manusiawi. Pada puisi berjudul Lenyap (1976) rasa letih itu disebabkan oleh kehendak melampaui batas. Batas sebagai manusia yang terus “mengikuti jejak angin” dan karena itu memilih ingin lenyap. “Kalau bisa,” terang baris pertama puisi tersebut. Lengkapnya begini:

kalau bisa aku ingin
lenyap —

letih berkisar mengikuti jejak
angin
dan akhirnya takut, Takut —
memandang warna-warni

kalau bisa aku ingin
lenyap —

hidupku sudah jelas:
tak bisa mencontoh gerak burung
yang polos

dan jernih kicaunya
kenapa bisa los

Jejak angin mungkin merupakan simbolisme perubahan segala lini (modernisme) yang amat lekas dan sesekali menggilas orang di sekitarnya. Ada dua tipe orang yang merespons perubahan semacam itu. Orang pertama mencelupkan diri, mengikuti irama “angin” secara manasuka. Tipe kedua cenderung waspada atas efek perubahan yang diusung karena mampu menggubah kecenderungan orang menjadi antara lain hedonis atau budak materialisme.

Tipe pertama direpresentasikan oleh kebanyakan orang. Ia mudah tergerus arus. Amat lihai mencontoh “gerak burung yang polos” sehingga pandai bercicit. Sebab tanpa menyerupai sosok “manusia modern” tersebut seseorang belum dikatakan “maju” menurut ukuran zamannya.

Puisi di atas memperlihatkan kepekaan akan langgam romantik yang menurut paham romantisisme cenderung menggambarkan “persepsi yang tajam tentang keindahan alami, yang mewujud dalam pengalaman emosional dan imajinatif makna pribadi dirinya” (Lihat, Boen S. Oemarjati 2017). Romantisisme di sini tak berpretensi “romantis” sebagaimana pemahaman umum tetapi “menjulang sebagai protes terhadap ancaman tiap sistem mekanis yang akan membatasi pengalaman manusia.”

Kita tak dapat mengatakan keseluruhan puisi yang terhimpun dalam “M” Frustrasi! merepresentasikan kecenderungan romantik seperti sekilas pandang di atas. Kategori ini mungkin juga dapat diabaikan kalau kita menanggalkan pembacaan teoretis. Membaca dan menikmati puisi sangat mungkin tanpa motif apa pun kecuali sekadar menyelami apa adanya. Kendati menyelami tanpa pendekatan apa pun, toh juga merupakan cara pandang.

“M” Frustrasi! terbuka bagi kemungkinan penafsiran dalam bentuk apa pun, bahkan termasuk pembacaan dengan pola tadabbur sebagaimana kita akrabi selama ini.

Menurut Seno dalam kata pengantarnya berjudul Emha dalam Konstruksi Yogya, kumpulan puisi “M” Frustrasi! waktu itu berada di tengah iklim berkesenian antara kubu estetisme versus kontekstualisme. Cak Nun tidak condong pada keduanya. Kata Seno, ia memiliki jalan kreatifnya sendiri, yakni spiritualisme. Namun, menurut pembacaan saya, spiritualisme di situ tidak dalam pengertian sufistik “eksistensial” hanya dengan mengurusi diri dan Tuhan eksklusifnya.

Spiritualisme dalam puisinya itu cenderung berada di tengah perbatasan: bertindak dan berpuisi.

Populer