Memaknai Tajdid dan Furqon

Membaca tulisan teman-teman jamaah di rubrik Wisdom of Maiyah sungguh menggembirakan. Ke depan kita akan menikmati sajian Wisdom of Maiyah dari teman-teman jamaah. Kali ini tulisan yang tayang lebih fokus merespons tajdid (pembaruan) dan furqon (pembeda) Maiyah.

Dok. Padhangmbulan

Memang tidak mudah menulis pengalaman mengikuti Maiyahan, apalagi yang ditulis nilai-nilai Maiyah. Membayangkannya saja sudah puyeng karena saking luasnya nilai-nilai itu. Belum lagi merasakan kedalaman nilai Maiyah.

Namun hal itu tidak menjadi alasan apalagi pembenaran untuk tidak menulis. Kalau pun ada tembok yang menghalangi kesanggupan menulis, ia harus dilompati, ditaklukkan. Tidak ada cara lain mengatasi kesulitan menulis selain berlatih menulis itu sendiri.

Jamaah Maiyah mengalami beragam pengalaman selama Maiyahan. Pengalaman ini jarang atau bahkan belum ditemukan di majelis lain. Egaliter, merdeka berpendapat, gembira bersama, tulus menjalin paseduluran merupakan pembeda (furqon) Maiyahan dengan majelis ilmu lainnya.

Pengalaman pribadi mengikuti Maiyahan menampilkan mozaik keindahan yang sepatutnya sesama jamaah saling berbagi. Tentu saja setiap pengalaman memiliki dimensi, substansi, komponen, nuansa yang beragam. Tidak masalah selama pengalaman itu ditulis secara jujur dan autentik. Bingkainya adalah tajdid dan furqon sebagaimana disampaikan Mbah Nun pada Mocopat Syafaat beberapa waktu lalu.

Misalnya pengalaman berjumpa dengan setting panggung pengajian yang tidak lazim. Panggung pengajian Maiyah ditata sedemikian rupa untuk menciptakan atmosfer Sinau Bareng. Ini fakta tak terbantahkan bahwa Maiyahan menyodorkan atmosfer baru majelis ilmu. Setting panggung yang manunggal antara KiaiKanjeng dan jamaah merupakan tajdid yang belum dijumpai pada pengajian pada umumnya.

Bagaimana dengan fakta yang tidak kasat mata? Kalau kita menyelami software berpikir manusia modern, kita akan menemukan dua pijakan arus utama: rekonstruksi dan dekonstruksi. Dua kata ini kerap disematkan pada Maiyah. Padahal keduanya bukan tanpa risiko. Rekonstruksi yang asal-asalan bisa menjebak kita pada sikap latah dan asal beda. Sedangkan dekonstruksi yang kebablasan justru menghilangkan makna yang hakiki.

Maiyah mengerjakan lebih dari sekadar rekonstruksi dan dekonstruksi. Concern Maiyah adalah manusia: dimensi dan jangkauannya lahir dan batin, jasmani dan rohani, akal dan hati, pikiran dan perasaan, dunia dan akhirat, hamba Allah dan khalifatullah.

Formula rekonstruksi dan dekonstruksi terlalu sempit untuk menjangkau dimensi kesadaran manusia. Apalagi kita sedang berhadapan dengan labelling, kotak, aliran, talbis, hingga pembelahan yang cukup masif. Maiyah tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Di tengah itu semua kita memerlukan tonggak bernama tauhid. Tajdid dan furqon tidak berdiri sendiri. Ia diikat dan terikat oleh tauhid. Lebih dari itu: keseimbangan berpikir, jarak pandang, resolusi pandang, lingkar pandang, sikap berdaulat adalah buah dari pepohonan yang berakar pada tauhid.

Tauhid bukan sebuah kotak di antara kotak-kotak yang lain. Ia adalah lingkaran besar di mana aliran, isme, madzhab berada di dalamnya. Maiyah tidak terkotak atau masuk kotak. Ia adalah lingkaran besar yang apa pun dan siapa pun monggo memasukinya.

Tajdid dan furqon, dengan demikian, dapat dipahami tidak sebagai cara pandang semata. Ia kebutuhan alamiah untuk mengukur daya serap kita melakukan internalisasi nilai-nilai tauhid. Artinya, tajdid dan furqon tidak semata-mata untuk keperluan tajdid dan furqon itu sendiri, karena tanpa diucapkan pun Maiyah adalah tajdid dan furqon.

Sederhananya, tugas menulis tajdid dan furqon seperti ujian semesteran sebelum kita naik tingkat. Kita sedang meneb, melakukan muhasabah, merenung ke dalam diri: apakah akar tauhid yang kita tanam di kebun Maiyah telah berbuah, minimal untuk diri sendiri dan keluarga?

Sedemikian perlukah kita mengukur daya serap nilai-nilai Maiyah? Perlu, bahkan sangat perlu. Maiyah bukan partai politik, ormas, aliran, madzhab dan kita semua tahu itu. Cara merawat Maiyah berbeda dengan merawat partai politik atau ormas.

Kalau partai politik dirawat dengan melanggengkan kekuasaan, Maiyah merawat jalinan paseduluran. Kalau ormas dirawat dengan mengikatkan tali otoritas kepada jamaah atau pengikutnya, Maiyah menampung siapa saja dengan penuh cinta. Maiyah tidak menjunjung kultus pribadi, karena selain pengkultusan adalah kebodohan yang disebabkan rendahnya resolusi pandang, ia dapat dibranding sedemikian rupa untuk meraup keuntungan komoditas yang tinggi.

Concern Maiyah adalah manusia bersama nilai kesadaran yang dikandungnya. Merawat Maiyah berarti merawat akar nilai jalan kenabian, nguri-nguri buah kemaslahatan untuk anak cucu.

Jagalan Jombang, 27 Juni 2022