Memahami Polusi Udara Lewat Konsep Islam tentang Najis, 1

Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng diselenggarakan oleh Komunitas Peduli Udara MobiAir Malang, Rumah Maiyah 16 Januari 2022, Bag. 1

Teman-teman Komunitas Peduli Udara MobiAir Malang menggelar Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng di Rumah Maiyah Kadipiro pada 16 Januari 2022 lalu. Mereka bermaksud menimba ilmu dan penguatan dari Mbah Nun, sekaligus melalui Sinau Bareng ini mereka sharing kepada jamaah tentang pentingnya menjaga kualitas udara yang bersih. Dari kepedulian akan kualitas udara ini, Sinau Bareng malam itu diberi judul “Jangan Ada Polusi Udara Di Antara Kita”.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Pada segmen awal, Mbak Azizah dan Mas Erik Karya memperkenalkan Komunitas Peduli Udara MobiAir ini kepada teman-teman jamaah. Concern utama mereka adalah mengajak sebanyak mungkin masyarakat menyadari pentingnya kualitas udara yang bersih serta menyadari bahaya udara yang terpolusi bagi kesehatan manusia. Dua hal pokok setidaknya disampaikan oleh Mbak Azizah dan Mas Erik, yaitu situasi udara secara umum saat ini yang rentan terpolusi oleh berbagai sebab, dan menurut data, kematian akibat gangguan pernapasan yang disebabkan oleh polusi udara ternyata cukup tinggi.

Di sini, Mas Erik juga memberikan contoh tentang beberapa hal kecil yang baik kiranya bisa dikurangi yang akan memberikan sumbangan bagi pengurangan kadar polusi udara, misalnya, kebiasaan mobil berhenti tetapi tidak dimatikan mesinnya karena mau tetap berada di dalam mobil dengan hawa sejuk AC-nya. Selain situasi secara umum itu, Mas Erik juga memperkenalkan satu alat bernama MobiAir (Mobile Air Quality Monitoring System). Alat yang cukup besar ukurannya ini malam itu juga dibawa di Kadipiro, sehingga teman-teman bisa melihat langsung.

Alat ini layaknya kita general check up yaitu berfungsi mendeteksi kondisi ‘kesehatan’ udara di sekitar kita. Dari situ akan muncul indikator yang menunjukkan apakah saat ini kondisi udara di sekitar kita itu cukup bersih, kurang bersih, atau cukup darurat atau bahaya sehingga diperlukan langkah penanganan. Mas Erik juga menegaskan bahwa alat ini sebenarnya juga diperlukan untuk kebutuhan menciptakan smart city (kota cerdas) di mana salah satu indikatornya adalah bagaimana kondisi udara/iklim di suatu kota.

Kurang lebih tiga puluh menit segmen awal ini, teman-teman Komunitas Peduli Udara MobiAir memperkenalkan diri dan menyampaikan beberapa hal menyangkut pentingnya menjaga kebersihan udara.

Selepas paparan awal, Mbah Nun segera bergabung di tengah-tengah teman MobiAir dan Jamaah. Beliau membuka Sinau Bareng dengan menyampaikan bahwa apa-apa yang kita harapkan tidak akan sambung kepada Allah Swt kecuali dijembatani oleh Syafaat Kanjeng Nabi Muhammad, karena itu mengawali Sinau Bareng ini Mbah Nun mengajak KiaiKanjeng membawakan Shalawat Tarkhim dan Shalawat Ya Imamar Rusli.

Namun sebelum dilantunkan, Mbah Nun menyampaikan sejumlah hal untuk mendasari Sinau Bareng kali ini. Yang pertama, Mbah Nun meminta kesediaan jamaah yang hadir di Rumah Maiyah untuk mau menjadi partisipan yang mendapat tugas menjawab pertanyaan yang diberikan Mbah Nun. Dua orang penggiat Komunitas Peduli Udara MobiAir, dua orang dari Jamaah Maiyah, dan dua orang bebas (boleh dari JM maupun Komunitas MobiAir). Alhamdulillah, enam orang kemudian bersedia maju yang selanjutnya oleh beliau dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas tiga orang (dua laki-laki dan satu orang perempuan).

Kedua, Mbah Nun menguraikan prinsip dasar dalam Sinau Bareng malam itu dengan dimulakan dari menguraikan mengapa beliau ingin mengajak bershalawat terlebih dahulu dengan nomor Ya Imamar Rusli (Wahai imamnya para Rasul/Utusan). Disambungkan dengan topik kesadaran akan udara ini, beliau menyampaikan bahwa resminya utusan Allah adalah para Nabi dan Rasul. Namun utusan tak hanya dalam pengertian resmi itu saja, yaitu Nabi dan Rasul. Dari perspektif yang berbeda, udara, air, tanaman, dan binatang juga bisa dilihat sebagai utusan Allah. Dalam arti, dari sudut kebutuhan manusia, sebagai contoh, udara diutus oleh Allah untuk sampai kepada manusia, dihirup oleh manusia, dan menjadikan manusia bisa hidup dengan baik. Melalui mereka Allah memfasilitasi kebutuhan hidup manusia.

“Kita mencoba membuka kesadaran tentang apa saja yang diutus oleh Allah termasuk makanan, udara, dll tadi,” tegas Mbah Nun menegaskan metodologi belajar dalam Sinau Bareng malam itu.

Ketiga, merespons tema “Jangan Ada Polusi Di Antara Kita” ini, ternyata Mbah Nun menemukan perspektif baru. Beliau menemukan bahwa polusi itu dalam bahasa Arab adalah najis. Dari sinilah soal buat dua kelompok tadi dibuat oleh beliau. “Kalau polusi itu najis, dan atau najis itu polusi, coba Anda eksplorasikan, petakan, dan simulasikan kemungkinan-kemungkinan 3 sampai 5 hal yang terjadi, dan harus bagaimana melihat atau memahaminya?”

Mbah Nun kemudian memaparkan lebih jauh bahwa polusi dalam percakapan selama ini bertitik tekan hanya pada konteks kesehatan, sedangkan najis berkaitan dengan konsep kesucian, kebersihan, Allah berkenan atau tidak, shalat saja atau tidak, sehingga dimensinya tidak hanya kesehatan, tetapi juga hukum, kerelaan, dan seterusnya. “Jadi, ternyata kalau polusi itu najis, berarti ada banyak hal yang bisa ditemukan. Nah, saya minta Anda temukan 3-5 hal di antara najis dan polusi itu,” kata Mbah Nun menegaskan kembali tugas yang harus dikerjakan oleh dua kelompok tadi seraya menegaskan pula bahwa keluasan eksplorasi tema “Jangan Ada Polusi Udara Di Antara Kita” tergantung pada hasil diskusi dan paparan dua kelompok ini.

Eksplorasi Ekosofi Cahaya

Setelah menyimak penjelasan Mbah Nun, dua kelompok partisiapan bersiap mengambil tempat untuk segera berdiskusi. Sementara itu, Mbah Masih meneruskan paparan awal dan dasar dengan membawa kepada detail dimensi ekosofi. Kali ini tentang posisi ruang dan waktu. Menurut Mbah Nun, ruang dan waktu adalah ‘kakak’ kita. Seperti sudah dijelaskan pada kesempatan-kesempatan Sinau Bareng sebelumnya, kakak sulung manusia adalah Nur Muhammad atau Cahaya Terpuji. Setelah Cahaya Terpuji lalu tercipta ruang dan waktu yang di dalamnya terdapat isi yang merupakan pendaran dan padatan-padatan dari cahaya tersebut. Di situlah terbentuk galaksi, tatasurya, bumi, dll. yang semuanya adalah kakak-kakaknya manusia.

Demikianlah ruang dan waktu adalah kakak kita. Sampai kemudian Mbah Nun juga menyinggung tentang Jin dan Malaikat di mana kesadaran tentang kakak-kakak manusia ini menurut Mbah Nun tidak pernah menjadi pertimbangan oleh manusia modern. Berbeda dengan orang Jawa yang misalnya punya konsep sedulur papat lima pancer. Bahwa dalam diri kita terdapat empat sedulur yang selalu bersama kita dengan satu pancernya yaitu Allah Swt.

“Nah, di sinilah nanti kita bicara tentang kebersihan udara sebagai bagian kecil dari komprehensi dan dialektika dengan pemahaman mengenai kakak-kakak kita itu,” kata Mbah Nun menggarisbawahi cara pandang atas topik polusi udara ini.

Me-remind dan menjabarkan lagi ikhwal urutan penciptaan, jamaah diajak mengurut lagi: binatang lebih dulu dicipta dari kita, lalu tumbuhan lebih dulu dari binatang, lalu materi (batu, air, tanah) lebih dulu dari tumbuhan, dan sebelum ada batu dan air ada peristiwa-peristiwa yang asal-usulnya dari Nur Muhammad atau Cahaya Terpuji.

Dari sini, Mbah Nun membawa kepada cahaya, bahwa cahaya ada dua. Pertama, cahaya yang dihasilkan oleh pengapian seperti oncor, sentir, damar ublik, damar strong king, sentolop, dll yang merupakan sistem pengapian. Itu semua adalah cahaya ‘palsu’. Kedua, cahaya yang asli adalah cahaya yang langsung dari Allah di mana Allah bukan memancarkan cahaya tetapi Allah adalah Cahaya itu sendiri seperti dinyatakan dalam surat An-Nur: 35.

Seperti kekhasan Sinau Bareng selama ini, satu hal terpahami dalam kaitannya dengan pelbagai hal lain, Mbah Nun mengalir menuntun olah pikir jamaah. Dari penjelasan tentang cahaya di atas, satu hal lalu digarisbawahi lagi bahwa seharusnya pemakaian tentang dua jenis cahaya tadi menjadi landasan bagi fisika, biologi, dan lainnya, termasuk mengenai udara bersih. Di situ terdapat satu fakta bahwa apa yang kita anggap cahaya selama ini adalah perapian dan itu saja kita tak bisa melihatnya. Yang kita lihat adalah apa yang ditimpa cahaya. Kalau tak ada cahaya, tak bisa dilihat benda-benda itu.

Dari sini menjadi jelas menurut Mbah Nun bahwa makhluk aslinya Allah adalah cahaya. Sehingga, yang terjadi berkaitan dengan kegelapan adalah Allah tidak menciptakan kegelapan. Kegelapan itu tidak ada. “Kegelapan seakan-akan ada ketika Anda menolak cahaya atau Anda menutupi cahaya. Kegelapan itu merupakan akibat dari perilaku manusia menutupi cahaya. Allah menciptakan cahaya, karena Allah sendiri adalah cahaya. Maka, makhluk pertama adalah Cahaya Muhammad (cahaya yang terpuji). Jadi, kita jangan GR bahwa kita sedang bergelimang cahaya, karena sejatinya cahaya itu tak bisa dilihat oleh mata,” urai Mbah Nun.

Satu hal menarik lagi tentang cahaya, Mbah Nun memberikan contoh implementasi cahaya dalam diri manusia. Yaitu, cahaya itu adalah ketika misalnya kita menyukai seseorang dan kita kemudian menikah dengannya, kita bahagia, maka wajah kita bercahaya. Menurut Mbah Nun itu adalah cahaya yang asli yang tampak dari ekspresi sumringah, walaupun tak ada perapian di kepala kita yang membuat wajah kita bercahaya. Itulah cahaya sejati yang bersifat rohaniah, yang menurut Mbah Nun, jika diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari akan mewujud menjadi kebudayaan dan berpuncak pada peradaban.

***

Teman-teman yang hadir maupun menyimak melalui channel YouTube cak nun.com mengikuti olah pemikiran yang di awal Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng malam itu berjalan padat, dan ini beliau nyatakan sendiri bahwa karakter Sinau Bareng adalah eksplorasi atau sinau sejauh-jauhnya dan sinau seluas-luasnya. Dan Mbah Nun memberikan contoh langsung, termasuk melalui tugas yang diberikan kepada dua kelompok tadi.

Beberapa saat sebelum nomor shalawat pembuka dilantunkan, Mbah Nun masih mengajak para jamaah memahami sifat Islam sebagai agama yang kepedulian dan perhatiannya sampai hal-hal kecil seperti kebersihan personal.

Mbah Nun kemudian mempersilakan bapak-bapak KiaiKanjeng memulai. Suara lantunan Mbah Nun terdengar mengumandangkan shalawat Tarkhim Mahmud Al-Khusairi terdengar memenuhi udara Rumah Maiyah malam itu. Usai shalawat Tarkhim segera disambung nomor Ya Imamar Rusli yang musikalnya diaransemen secara khusus oleh KiaiKanjeng sehingga berbeda dengan yang biasa kita dengar. Semua yang hadir khusyuk menyelami kedalaman rohani shalawat kepada Kanjeng Nabi.

Teman-teman dua kelompok masih bersikusi, dan usai dua nomor shalawat ini mereka akan mempresentasikan hasil diskusinya. (Bersambung)