CakNun.com

Mekanisme Praksis dalam Menentukan Langkah yang Kita Sadari

Majelis Masyarakat Maiyah Bangbang Wetan Surabaya edisi Januari 2022
Dok. Bangbang Wetan

Majelis Masyarakat Maiyah Bangbang Wetan menggelar rutinan edisi awal tahun 2022 (30/1) bersama Cak Adil Amrullah, Pak Darmaji dosen ITS dan Pak Kris budayawan Gresik, yang bertempat di Kayoon Heritage, Jl. Embong Kemiri 19-21, Genteng, Surabaya. Pada edisi awal tahun kali ini Majelis Bangbang Wetan mengusung tema berjudul ”Kalibrasi Diri”.

Tema tersebut diusung dengan maksud sebagaimana yang telah disebutkan pada prolog bahwa, “Di BangbangWetan Januari ini kita bisa saling belajar, sinau bareng, dan saling berbagi tentang pengalaman mengkalibrasi diri agar skala kita setidaknya tak melenceng jauh-jauh dari patrap kita sebagai Abdullah. Atau kalaupun kita belum bisa mendekat dengan skala ideal Gusti Allah, minimal kita tidak ikut èkèr lan umêk usrêk dengan kegaduhan yang terjadi di luar sana.”

“Pergilah sayang jangan kau tak bahagia. Agar pengorbananku tak jadi sia-sia. Percuma, di dinding waktu ku bertahan untuk memastikan kau bahagia,” penggalan lirik karya sendiri dari grup akustik Brajjasena yang menemani kita menghangatkan suasana majelis dalam suasana gerimis. Brajjasena membawakan lagu “Lemahkan Dendam” karya sendiri yang ditulis oleh Mas Hari Widodo. Dari penggalan lirik pada reff nomor yang dibawakan itu, Mas Yasin yang bertindak sebagai moderator menemukan keterkaitannya dengan tema. Menurut Mas Yasin, lagu ini menyampaikan pesan tentang perlunya mengkalibrasi kebahagiaan dan menemukan standar kebahagiaan pada setiap hal yang kita alami.

Perlunya Mengkalibrasi Diri

Mas Yasin memantik diskusi tentang kalibrasi diri, bahwa misalnya ketika kita mendapat masalah yang sedemikian ruwet, salah satu langkah penyelesaiannya adalah dengan ngopi sejenak di warung kopi, dan setelah pulang dari sana kita merasa plong. Menurut Mas Yasin bukankah aktivitas ngopi itu satu bentuk mengkalibrasi diri dari permasalahan ruwet yang sedang kita hadapi?

M. Yusril Mahendra, jamaah yang sedang menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Surabaya, merespons tentang Kalibrasi Diri. Yusril menyampaikan berdasarkan pengalaman hidupnya bahwa cara dia mengkalibrasi dirinya dari ruwetnya permasalahan hidup adalah dengan berwirid. Berwirid menurut Yusril menjadi salah satu cara bertawakal kepada Allah setelah sekian usaha memecahkan permasalahan tak kunjung usai. Maka berwirid ditempuh sebagai bentuk tawakal untuk mengembalikan permasalahan itu kepada Allah. Karena masalah itu bentuk ujian hidup yang datangnya dari Allah, maka dikembalikan ke Allah dengan berharap Allah membimbing kita menemukan solusinya.

Tentang Kalibrasi Diri, Mas Hari Widodo selaku Koordinator Simpul Maiyah, yang malam itu menjadi gitaris Brajjasena, mempunyai pandangan unik. Kalibrasi menurut Mas Hari melibatkan banyak faktor. Ada pre kalibrasi dan post kalibrasi. Jadi, sebelum kita mengenali diri kita sendiri untuk dikalibrasi, kita harus tahu terlebih dahulu bahwa sebenarnya posisi diri kita saat ini perlu atau tidak untuk dikalibrasi.

Problemnya, yang mengerti kita perlu atau tidak untuk dikalibrasi adalah justru orang lain. ibaratnya kita sedang ngegame tapi gadget kita sedang ngelag, maka gadget itu perlu kita kalibrasi meskipun gadgetnya sendiri tidak tahu bahwa perlu dikalibrasi.

Cara efektif untuk mengkalibrasi diri menurut Mas Hari adalah dengan mendengarkan masukan, pendapat, dan saran dari teman dekat yang sering bersama kita. Masukan itu kita olah sebagai bahan perenungan untuk mengkalibrasi diri atas sikap dan apa yang kita lakukan akhir-akhir ini. Masukan itu juga kita perlukan dari teman dekat dari hasil kita mengkalibrasi masukan saran dan pendapat teman dekat sebelumnya.

Mas Aminullah yang malam itu turut hadir membersamai kita bersama Cak Dil, Pak Darmaji dan Pak Kris, mempunyai pandangan menarik soal idiom wisata rohani. Menurut Mas Amin, idiom wisata itu kebanyakan digunakan untuk akivitas dolan. Gampangannya, kalau kita misalnya pergi ke makam Sunan Ampel itu disebut aktivitas ibadah atau wisata (dolan). Karena bias idiom wisata rohani itu kebanyakan dari kita yang semula berniat ibadah ketika pergi ke makam Sunan Ampel, menjadi bergeser menjadi wisata. Artinya, menurut Mas Amin, ada keplicuk sedikit ketika kita menggunakan idiom wisata rohani ketika pergi ke makam.

Kekhusyukan niat dan posisi rohani kita ketika di makam akhirnya tergoyangkan oleh kata wisata, bergeser menjadi niat pergi ke makam mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang. Padahal seharusnya ketika kita pergi ke makam bertujuan untuk menata rohani untuk beribadah. Karena, menurut Mas Amin, pesarehan atau makam itu menjadi salah satu tempat mustajabah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka pada bias idiom wisata rohani itu perlunya kalibrasi, menata dan mengatur ulang skala dan nilai niat kita ketika melakukan segala sesuatu.

Dok. Bangbang Wetan

Meningkatkan Keahlian dan Menjaga Kerendahhatian

Pak Darmaji berbagi pandangan tentang kalibrasi dari sudut pandang matematika. Dalam matematika tingkat presisinya sangat tinggi. Satu tambah satu ya dua, tidak bisa dilebihi maupun dikurangi. Ketepatan menjadi kata yang sangat primer dalam dunia matematika. Jika ada lebih atau kurang dinamakan error. Jika error banyak ya menjadi masalah. Maka hal pertama yang harus dilakukan adalah meminimalkan error tersebut—dengan setiap saat harus mengkalibrasi diri.

“Kalibrasi yang terbaik adalah kita menyadari diri sendiri sampai batas mana kemampuan kita: tahu bidang keahlian kita dan tahu bidang mana yang kita tidak bisa,” tutur Pak Darmaji.

Membaca fenomena saat ini tentang matinya kepakaran, Pak Darmaji menyampaikan bahwa fenomena matinya kepakaran itu disebabkan karena kebanyakan manusia tidak bisa mengkalibrasi dirinya sendiri. Sebab, merasa bisa apa saja dan merasa pakar dalam hal apa saja.

Bahwa tidak menutup kemungkinan ada orang yang ahli dalam banyak hal, tetapi menurut Pak Darmaji hal itu tidaklah banyak. Yang harus kita tingkatkan dalam mengkalibrasi diri adalah menjaga kerendahhatian untuk tidak mengaku-ngaku pada bidang yang sebenarnya kita tidak bisa dan tidak ahli dalam hal itu.

“Kalibrasi diri itu mengukur dirinya sendiri, menjaga kerendahhatian bahwa ada orang yang bisa banyak hal, tetapi itu tidak banyak. Yang banyak adalah orang yang mempunyai kepakaran di bidang tertentu dan pada saat yang sama rumongso tidak pakar di bidang yang lain,” jelas Pak Darmaji.

Terkait dengan kalibrasi diri, Pak Darmaji terkesan sejak lama terhadap puisi Mbah Nun berjudul “Jalan Sunyi”. Jalan sunyi menurut Pak Darmaji adalah kesanggupan untuk mengukur diri sendiri, kita telah melakukan sesuatu untuk kebermanfaatan. Nomor Jalan Sunyi yang dibawakan KiaiKanjeng itu enak didengarkan karena syairnya puitis, tetapi ketika pada tahapan implementasi kita sendiri masih gratul-gratul. Yang ingin Pak Darmaji sampaikan adalah ketika melakukan hal yang terbukti baik dan kita seharusnya bisa melakukannya, jika kita tidak bisa seketika itu melakukannya tidak masalah, yang terpenting kita berusaha melakukannya sedikit demi sedikit.

Sebelum membahas kalibrasi, Cak Dil tertarik pada kata kaliber. Cak Dil memberi analogi pertanyaan bahwa antara pedagang ikan kakap dengan ikan teri itu kalibernya lebih tinggi mana? Jika jawaban kaliber yang paling tinggi adalah pedagang ikan kakap, padahal ada pedagang ikan kakap kelas teri. Sementara ada pedagang ikan teri kelas kakap. karena kalau bicara kaliber itu sebenarnya merujuk pada kelas.

Melakukan Kalibrasi dengan Mengenali Medan Perang Kita

Menurut Cak Dil, terlalu banyak hal yang perlu dikalibrasi, sebab saking ruwetnya kondisi kita sekarang ini. Pada kondisi sekarang ini justru sangat dibutuhkan mengkalibrasi diri. Sebab dengan perkembangan zaman dan pandemi, kebanyakan orang mengalami kebingungan untuk mengukur dan menempatkan dirinya sendiri. Untuk itu, yang harus kita lakukan dalam mengatasi kebingungan kita adalah mencoba mengenali medan perang kita. kita sebenarnya berada di medan perang seperti apa? Dan apa yang sebenarnya kita alami? Maka, Cak Dil meminta beberapa jamaah menggambarkan keadaan yang berbeda dari sekarang dengan sebelum pandemi.

Ada salah satu jamaah merespons tentang perbedaan keadaan yang dialaminya sebagai pelajar sekarang dengan sebelum pandemi. Tentang sekolah daring yang berlansung pada masa pandemi ini membuatnya merasa kesulitan untuk belajar dan memahami kesambungan pelajaran yang disampaikan melalui sekolah daring. Sedangkan dulu sebelum pandemi ketika sekolah masih melangsungkan aktivitas bertatap muka dalam belajar mengajar, dirinya merasa mudah memahami pelajaran yang disampaikan oleh pengajar dalam bertatap muka langsung.

Fauzan, asal Jombang, turut merespons tentang perbedaan keadaan yang dialami sekarang dengan sebelum pandemi. Menurut Fauzan, perbedaan mencolok keadaan yang dialaminya sebelum pandemi dengan sekarang adalah soal pertemanan. Kalau sebelum pandemi kita bisa berkumpul bersama teman dalam satu tempat sehingga menjadi dekat. Sedangkan ketika pandemi datang, teman yang semula dekat, dengan berlakunya menjaga jarak dari kerumunan berdampak pada pertemanan yang semula menjadi teman dekat terasa semakin jauh. Salah satu akibat yang dirasakan Fauzan dari menjauhnya tali pertemanan adalah kalau dulu-dulu dia kepengin ngutang enak, sedangkan sekarang susah.

Pak Kris juga ikut merespons tentang perbedaan keadaan sekarang dengan sebelum pandemi. Menurutnya keadaan sekarang tidaklah semerdeka ketika sebelum pandemi dalam melakukan perjalanan. Keadaan sekarang membatasi orang yang akan berpergian, baru bisa berpergian jika sudah memiliki kartu vaksin dan ironisnya menurut Pak Kris malah masih disuruh membuka sebuah aplikasi di gadgetnya untuk mengetahui legalitas status vaksin orang tesebut. Salah satu akibatnya adalah tingginya ketidakpercayaan di antara kita.

“Mengetahui keadaan itu perlu kita ketahui supaya kita kenal medan perang kita. Dan hal itu merupakan suatu cara untuk mengkalibrasi diri. Sebab kalau kita tidak mengenal medan perang kita, kita akan kacau dengan ukuran hidup kita sendiri,” respons Cak Dil.

Dok. Bangbang Wetan

Menemukan Peran Kekhalifahan

Pandemi sendiri menyebabkan banyak perubahan. Sebelum adanya pandemi, media sosial sendiri berpengaruh terhadap perubahan keadaan kita sangat besar. Cak Dil mencontohkan bahwa anak sekarang tidak bisa membaca tulisan yang panjang, lebih suka membaca tulisan yang singkat. Sehingga anak zaman sekarang miskin literasi. Di tengah fenomena inilah kemudian kita mengambil sikap untuk mengkalibrasi diri.

Jadi, melakukan kalibrasi tidak secara tiba-tiba, melainkan diawali dengan mengenali keadaan, medan perang kita. Kita melakukan kalibrasi dengan tujuan di tengah medan perang ini kita mengambil peran apa?

Mengutip apa yang pernah disampaikan Mbah Nun tentang Renaissance yang digaungkan menjadi Abad Pencerahan yang justru menjadi awal mula abad penggelapan. Sebab menurut Cak Dil apa yang disampaikan Mbah Nun konteksnya adalah perang nilai. Tanpa kita sadari, kita sebenarnya berada pada medan peperangan yang besar. Dalam peperangan itu ada pertempuran-pertempuran. Tugas kita bagaimana memilih peran di tengah pertempuran ini.

Apakah memilih menjadi tukang keplok, menjadi korban pertempuran, menjadi komentator saja, atau kita mengambil suatu pilihan. Kalau kita sadar bahwa kita berada pada medan peperangan besar, kita mengambil pilihan peran meskipun yang kita bisa hanya melempar batu. Yang penting kita memilih peran.

“Kalibrasi diri konteksnya adalah keharusan menemukan peran. Kalau dalam bahasa Islam menemukan peran kekhalifahan. Kita menemukan peran kekhalifahan yang jelas, dengan cara mengenali medan peran kita,” tegas Cak Dil.

Perlunya mengenali medan perang supaya kita tidak hidup dalam kebingungan yang pada akhirnya membuat kita ikut-ikutan saja seperti perahu yang mengikut ke mana saja dirinya dihempaskan ombak.

Kalau direfleksi lebih jauh, menurut Cak Dil, berarti banyak anak muda sekarang yang kebingungan dan tidak punya pendirian.

Ada pandangan menarik dari Cak Dil dalam hal mengukur diri yaitu praksis. Menurut Cak Dil praksis adalah resultan pertemuan antara aksi dengan reaksi. Jadi orang itu hidupnya harus dipraksis. Artinya bukan di aksi saja ataupun di reaksi saja. Setiap langkah kita seharusnya praksis, artinya setiap langkah kita harus direnungkan dan mengukur diri.

Dan kita sebagai orang Islam sebenarnya sudah difasilitasi oleh Allah dengan adanya shalat lima waktu. Kita bisa merenungkan diri dalam setiap langkah dalam sehari lima kali. Intinya kita mempunyai mekanisme praksis. Maka sebelum kita melakukan aksi, perlu kita renungkan atau refleksikan terlebih dahulu. Begitu juga sebaliknya, ketika kita pandai berbicara atau berteori tanpa dilakukan, maka hal itu tidak bisa dikatakan praksis.

“Jadi kalibrasi itu adalah mekanisme praksis. Jadi setiap yang kita lakukan harus ada dasar. Dasar itu dari kita sendiri. Masing-masing dari kita sendiri yang menentukan langkah kita adalah atas dasar yang kita sadari,” pungkas Cak Dil.

Majelis Bangbang Wetan edisi awal 2022 ini dipuncaki dengan shalawat ‘indal qiyam yang dipimpin oleh Cak Lutfi.

Surabaya, 31 Januari 2022.

Lainnya

Pak Toto: Saya Tidak Pernah Melawan Ibu

Pak Toto: Saya Tidak Pernah Melawan Ibu

Sebetulnya sudah diingatkan supaya lewat Banjarmangu, tapi karena lebih memilih mengikuti Google Maps, jadilah kami menyasar hingga ke Desa Petuguran, Punggelan, Banjarnegara.