Mbah Nun: Ya Allah Mbok Kasih Kami Jemek Lagi

Ada banyak cerita di balik nama Jemek Supardi. Pantomimer ini semasa hidupnya memang irit bicara. Tetapi geliat hidupnya sehari-hari membersitkan cerita bagi orang lain. Dunia artistik Jemek sesungguhnya bukan berada di panggung: ditatap ribuan pasang mata audiens. Melainkan pada kelucuan, keusilan, kekonyolan, serta kemisteriusannya selama bersua handai tolan. Ruang interaksi Jemek yang merambah sekaligus menembus berbagai sekat, dari seni rupa, teater, sastra, musik, hingga warga biasa menunjukkan betapa Jemek dicintai banyak orang.

Dok Progress

Di balik cerita sepak terjang Jemek yang beraneka rupa itu, Mbah Nun berpendapat pentingnya memaknai kehidupannya. Namun, bukan pemaknaan yang diukur secara baku. Memaknai Jemek menurut Mbah Nun mesti memakai kacamata keindahan. “Tidak ada sedahsyat dia. Jemek itu tidak ada yang membenci atau marah sama dia. Setiap kerumunan yang didatangi Jemek pasti tertawa,” katanya pada Pengetan Patangpuluh Dina Jemek Supardi, Selasa malam (23/08) di Pendhapa Balai Pelestarian Nilai Budaya DIY.

Walau pernah mengundang kemarahan, toh setelahnya Jemek rujuk kembali, dan mengundang ketawa sekali lagi. Mbah Nun mengisahkan peristiwa perseteruan sementara antara Jemek dan Simon HT sesaat keduanya terlibat proses pementasan naskah Geger Wong Ngoyak Macan. Kejadian itu setelah pentas di Surabaya dan tengah menggelar pementasan berikutnya di Malang. Kerengan itu mereda manakala keduanya saling berpapasan di kawasan Kalisari. “Lho, Mek! Lho, Mon!” keduanya saling kaget seperti diceritakan kembali Mbah Nun tadi malam.

Ukuran ilmu pengetahuan, agama, bahkan sudut pandang tertentu akan gagal bila dipakai untuk menilai Jemek. Menurut Mbah Nun, Jemek itu manusia khusus. Maka memaknai Jemek hendaknya memosisikan dia sebagai manusia seutuhnya. “Jemek itu ya hidupnya itu. Jemek itu manusia unik. Ya Allah mbok kasih kami Jemek lagi. Meski nggak persis tapi mirip-mirip dia,” imbuh Mbah Nun.

Kedatangan orang malam tadi membuktikan bahwa Jemek selalu singgah, hadir, dan datang kepada mereka. Eko Winardi yang turut memoderatori acara ikut pula memaknai Jemek sebagai pribadi yang terus menguatkan silaturahmi. Meski, lanjutnya, keusilan Jemek itu ganjil. Sering kali kantong jaket Eko menjadi sasaran jejalan sampah makanan. Entah apa motifnya tapi Eko tak sontak naik pitam. Dia justru merasa disayang Jemek.

Koreografer Bimo Wiwohatmo tak ketinggalan mengutarakan kesan pribadinya mengenai Jemek. Baginya, Jemek adalah seorang pribadi yang menarik sekaligus menyenangkan. Pada tahun 1985 dia, jemek, serta rombongan menyambangi Jakarta naik kereta. Rombongan itu menginap di Wisma Seni Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Menurut Bimo, Jemek itu tak pernah membawa salin, terlebih alat perlawatan mandi. Maka bisa diduga. Saat dia mandi lalu melihat handuk entah milik siapa maka lekas dia sahut. Begitu pula ketika Bimo hendak mencari sarapan bubur di depan TIM. Jemek turut mengekor.

Dok Progress

“Tapi ada satu lagi cerita,” Bimo melanjutkan, “dan ini menjadi anekdot di teman-teman seniman. Ketika kami pulang ke Yogya saya kebelet kencing. Orang di kereta berjejalan. Tempat duduk penuh. Jika beranjak ke toilet maka dipastikan tempat duduk tadi segera dipakai. Saya pun kencing ke dalam botol. Jemek tidur di bawah saya. Singkat cerita, Jemek bangun dan tanya kok tidak ada sing dodol wedang yo. Dia pun tahu ada botol berisi air. Dia pun meminumnya. Sewaktu ditanya gimana rasanya: enak!” Orang pun gergeran.

Bimo menilai keunikan Jemek seperti itu menunjukkan bahwa keseharian Jemek sudah berkesenian.

Pelukis Nasirun punya pendapat serupa. Dirinya merasa kehilangan Jemek. Namun, kenangan-kenangan bersamanya selalu membekas. Suatu ketika Nasirun didatangi Jemek. Dia membawa buah-buahan. Jemek pun mengaku “pindah agama”—pernah menjajal berbagai agama dan kebetulan sedang “beribadah” di Vihara. Dia bilang kalau buah-buahan itu diambilnya dari tempat itu. Entah beneran ataupun bohongan, Nasirun tak kuasa menolak “pemberian” Jemek tersebut.

“Kehidupan [Jemek] benar-benar pantomim. Kadang ada di seni rupa, kadang ada di seni pertunjukan, kadang ketemu di mana pun. Tema yang diberikan Mas Emha ini [Memaknai Jemek Supardi] ini menarik sekali. Memaknai Jemek ini bagaimana,” ungkap Nasirun. Maestro seni lukis ini mengusulkan agar Jemek dimaknai terus-menerus. Misalnya, sewaktu 1000 hari almarhum Jemek, ada pembuatan sebuah karya, entah buku ataupun karya apa pun. Yang jelas, imbuh Nasirun, karya-karya Jemek bisa dipakai sebagai ilustrasi di dalamnya. “Saya kira ada karya [Jemek] yang menarik sekali. Dalam salah satu lukisannya Jemek menggambar dirinya mirip Sekar. Dan ini masih banyak lagi,” ujarnya.

Nasirun mengusulkan “kristalisasi” sebuah karya untuk mengenang Jemek Supardi.

Selain tiga narasumber, teman-teman Jemek di Dipowinatan ikut kebagian sambung rasa. Betapa pun kehidupan Jemek adalah detak dan denyut hiruk-pikuk warga “nDipo”. Pada kampung ini sejarah Musik-Puisi Dinasti terbentuk. Perupa Vincensius Dwimawan mengenang, sewaktu berangkat ke Parangtritis dari rumah kontrakan Mbah Nun di Patangpuluhan, keberangkatan rombongan ke pantai selatan itu sarat akan etos kreatif.

Dok Progress

“Sewaktu sudah di Parangtritis, Jemek kan terlambat. Tahu-tahu dia datang telanjang lari. Artinya, [dia datang] tanpa beban apa-apa. [Jemek] merespons lingkungan dengan kejujuran. Dan cerita unik seperti ini masih banyak, termasuk saat kedapatan job bermain pantomim di UNS,” tuturnya.

Kenangan semacam itu diungkapkan Nevi Budianto. Pak Nevi bilang bahwa dia ditakdirkan Gusti Allah untuk pindah ke nDipo. Rumahnya ada timur gedung Balai Pelestarian Nilai Budaya. Rumah Pak Tertib Suratmo pun juga di sekitarnya. Menurutnya, orang pertama yang mengenalkan jagat teater adalah Jemek Supardi. Pak Nevi diajak untuk berkunjung ke rumah Pak Tertib. Waktu itu tengah berproses di Teater Dipo. “Sewaktu proses di situlah saya akhirnya dekat sama Jemek, bahkan untuk urusan mancing,” katanya. Kegiatan berkesenian Pak Nevi berikutnya pun melekat di kampung nDipo. Penerbit Pabrik Tulisan pun yang perdana menerbitkan M Frustrasi! dan Sajak Jatuh Cinta (1976) bermarkas di rumah Jemek.

Acara Pengetan Patangpuluh Dina Jemek Supardi tadi malam turut pula menampilkan performer seperti Ende Riza, Kinanti Sekar Rahina, Pupuh Romansa, Tias Wening, Ykob Yarame, dan Arista ft Guntur Nur P. Kinanti Sekar, anak Jemek Supardi, meminta izin tak dapat datang karena segera harus ke Jakarta. Melalui tayangan video dia berterima kasih kepada seluruh pihak atas terselenggaranya acara untuk mengenang mendiang bapaknya.

Di samping kesaksian para sahabat Jemek Supardi, pertunjukan pantomim tadi malam membuat decak kagum kebanyakan penonton. Tanpa kata-kata, setiap gerak dan gerik ketubuhan hingga ekspresi mimik pantomimer mencerminkan gugusan makna. Pantomim pertama mewacanakan seseorang dalam mencari Tuhan. Dia menyelam, berlari, dan merengkum berbagai upaya untuk menemukan Tuhan. Di akhir gerak ada satu kata yang dia sebut, yakni “Gusti!”

Sementara itu, pantomim berikutnya dimainkan oleh dua orang perempuan. Kedua perempuan ini sebenarnya saling memproyeksikan. Pemuda perempuan satu merefleksikan masa tua, sedangkan satunya mencerminkan nostalgia masa muda. Jembatan atas adegan keduanya ditemalikan oleh tindakan memasang topi. Di akhir gerakan seseorang bertanya, “Siapa kamu?” Lalu dijawab: “Kamu!” (caknun.com)