Mbah Nun, Semoga Empat Periode Lagi Kapolrinya Polwan

Usai Sinau Bareng di Desa Sima Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang dua hari lalu, hari ini Mbah Nun sudah berada di Surabaya untuk memenuhi undangan Polwan RI yang pagi hingga siang hari ini (30/08/22) menggelar Seminar Nasional bertema “Kekerasan Seksual, Kesetaraan Gender dan Partisipasi Perempuan dalam Pengambilan Keputusan”. Seminar ini diadakan dalam rangka memeringati Hari Jadi Polwan RI ke-74 dan berlangsung di Hotel Novotel Samator Surabaya.

Walaupun diminta berbicara pada sesi puncak pada pukul 13.00 WIB, Mbah Nun diminta untuk hadir dan memberikan makna tersendiri pada saat sesi pembukaan seminar di pagi hari dan berfoto bersama jajaran Polwan dan Polri yang hadir secara offline beserta para narasumber lain.

Pada sesi Diskusi Panel II siang hari tadi Mbah Nun sebagai panelis bersama Ibu Deborah Dewi, seorang grafolog. Sesi ini dipandu oleh moderator Prof. Suparto Wijaya dari Unair Surabaya. Mbah Nun diminta berbicara pada subtema: Nilai-Nilai Sosial sebagai Instrumen Pencegahan Kekerasan Sosial terhadap Perempuan dan Anak”. Sedangkan Ibu Deborah berbicara mengenai “Grafologist sebagai Instrumen Pendukung Penanganan Korban Kekerasan Seksual.”

Sesuai latar belakang seminar ini, yakni melakukan refleksi terhadap aktualisasi peran Polwan sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat dalam perspektif pengarusutamaan kesetaraan gender (kesetaraan antara laki-laki dan perempuan) di lingkungan kepolisian, di awal sekali Mbah Nun menyampaikan pandangan dan harapan yang barangkali tidak terbayangkan oleh kebanyakan kita dengan mengatakan harapan yang sangat bervisi kesetaraan gender, “Semoga empat periode lagi Kapolrinya dari Polwan.” Mbah Nun lebih jauh mengatakan, “Saya ini warganegara atau rakyat biasa yang membutuhkan kebijaksanaan yang tegas dan ketegasan yang bijaksana, dan perempuan memilikinya.”

Kemudian Mbah Nun mengelaborasi lebih jauh dengan menggambarkan potensi dan posisi perempuan menurut khasanah filosofi Jawa yakni sebagai Konco Wingking. Dalam terapannya falsafah tersebut selama ini mungkin dijadikan legitimasi untuk menguasai perempuan oleh laki-laki. Padahal, perempuan atau istri yang disebut sebagai “konco wingking” dalam kebudayaan Jawa ini sejatinya menunjukkan kekuatan perempuan. Sama seperti seseorang yang sedang menggembala. Yang menggembalakan ada di belakang. Persis seperti posisi perempuan yang ada di wingking atau belakang. Tanpa posisi perempuan di posisi ini sulit dibayangkan berjalannya sebuah keluarga.

Meskipun demikian, seandainya perempuan harus berada di depan pun, Mbah Nun juga tidak masalah karena menurut beliau jika berbicara pada konteks sosial politik, perempuan dan laki-laki bukanlah soal jenis kelamin, tetapi lebih pada potensi, posisi, dan kekuatan yang dimiliki, dalam hal ini, oleh perempuan. Karenanya, Mbah Nun kadangkala merasa agak aneh dengan konsep pemberdayaan perempuan atau kesetaraan gender, karena dalam pengalaman beliau, beliau banyak menjumpai perempuan yang jauh lebih berdaya dibanding beliau.

Pandangan beliau mengenai perempuan yang berdaya ini pun beliau sampaikan sebagai berada dalam gelembung besar pandangan beliau bahwa Indonesia adalah bangsa yang tangguh, top, dan hebat, dan dalam banyak contoh perempuan menjadi tulang punggung kehebatan tersebut. Di sini, kadangkala Mbah Nun pun merasa kurang setuju dengan pemberdayaan perempuan, sebab seakan-akan tidak perlu adanya pemberdayaan laki-laki.

Setelah memberikan comparative view tentang kesetaraan gender pemberdayaan perempuan ini, Mbah Nun menyampaikan posisi spesial perempuan dalam relasi-relasi yang ada di dalam kehidupan. Salah satunya, relasi manusia dengan alam. Manusia adalah suami, sedangkan alam adalah istri. Kehidupan manusia akan hancur apabila manusia (suami) memperlakukan alam (istri) dengan seenaknya atau mengeksplotiasinya tanpa kendali. Demikian pula seharusnya posisi pemerintah (suami) terhadap rakyat (istri). Sedangkan menurut Mbah Nun, Tuhan (dalam hal ini berada pada posisi sebagai “suami”) bersikap sangat baik terhadap manusia sebagai makhluk-Nya (berposisi sebagai “istri”). Tuhan tidak memerintahkan atau memberikan kewajiban apa-apa kepada manusia sebelum Dia memberikan rezeki, fasilitas, dan apa-apa yang dibutuhkan manusia.

Itulah sebabnya, Mbah Nun berpesan, “Wong lanang ojo wani-wani karo bojo. Jangan pernah menindas perempuan, kamu akan hancur sendiri. Allah saja mengambil posisi “laki-laki” dan sebelum apa-apa sudah memberikan atau memenuhi fasilitas atau kebutuhan-kebutuhan manusia.”

Berkaitan dengan peran Polwan, Mbah Nun menguraikan konsep pengayoman dengan memperkenalkan konsep kepemimpinan yang diajarkan Allah melalui surat An-Naas, sebagaimana telah disampaikan dalam Sinau-Sinau Bareng, di mana urutan pertama dalam bersikap atau memimpin adalah pengayoman dan kebijaksanaan terhadap rakyat dan masyarakat. Di sini Mbah Nun berpesan agar ketika bertemu dengan masyarakat atau rakyat, para polisi tidak memandang dengan sorot mata mengawasi tetapi mengayomi dan ekspresi kasih sayang kepada mereka.

Demikianlah di antara beberapa nilai dan prinsip mendasar yang disampaikan Mbah Nun sebagai contoh bahwa instrumen pencegahan seksual terhadap perempuan dan anak harus dimulai sejak dalam mindset atau cara pandang di mana cara pandang itu telah disediakan oleh ajaran agama, kenyataan alam, dan khasanah falsafah bangsa sebagaimana telah dipaparkan Mbah Nun.

Acara seminar ini diikuti secara offline oleh sekitar 250 anggota Polwan serta sejumlah undangan dari berbagai organisasi, dan secara online melalui Zoom Meeting juga diikuti oleh anggota Polwan di berbagai Polda di seluruh Indonesia. Ibu Deborah Dewi sebagai pembicara kedua dalam sesi ini memaparkan sumbangan ilmu grafologi (ilmu membaca tulisan tangan) bagi keperluan identifikasi kasus kekerasan seksual atau kasus-kasus kejahatan lain, serta dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi dan bahan analisis terhadap pelaku maupun korban. (caknun.com)