Manajemen Waktu Kreasi dan Rekreasi

Image by Miguel A. Padrinan from Pexels

Produktivitas sangat dibutuhkan oleh manusia yang ingin jatah umurnya bermanfaat selama menjalani hidup di dunia. Karena itu, semua itu juga sangat bergantung pada bentuk cara kita bersyukur terhadap pemberian Allah atas hidup kita.   

Salah satu bentuk rasa syukur kita supaya Allah tidak marah kepada kita adalah mempergunakan jatah waktu hidup kita dengan baik dan benar—supaya bermanfaat. Baik tidaknya dan benar salahnya itu terus kita gali dan temukan pada setiap langkah pengalaman kita. Sampai titik di mana kita menemukan bahwabapa yang kita lakukan itu tidak merugikan orang lain dan diri kita sendiri.

Hal merugikan itu misalnya kalau kita sudah berkomitmen menjalani hidup bersama pasangan, tetapi kita malah mementingkan diri sendiri. Kalau laki-laki misalnya mengambil keputusan hidup bersama perempuan yang dicintainya. Maka dalam proses menjalani komitmen bersama itu yang perlu kita tentukan batas atau porsi jatah waktu untuk bekerja, sendiri, teman, keluarga, dan komunitas yang kita berada di dalamnya. Jangan sampai berat sebelah sehingga berlaku tidak adil terhadap yang lain.

Karena menurut Allah kita adalah sebaik-baiknya makhluk, maka tentu saja yang harus kita lakukan adalah bersikap adil terutama terhadap waktu dan kesempatan yang Allah berikan. Sebab jika kita sedikit saja teledor dan bersikap tidak adil terhadap batas dan porsi jatah waktu sesuai fungsi dan peran kita, maka kita sama saja mengkhianati Allah yang memberi kita kesempatan hidup dalam fungsi dan peran yang kita. Di sisi lain kita juga mengkhianati orang-orang yang membutuhkan kebersamaan saling mengisi peran dan fungsi kita sesuai komitmen hidup yang dibangun di awal dalam kesadaran.

Jadi, perihal manajemen waktu hidup dalam fungsi dan peran kita tidaklah main-main. Salah satu contohnya oleh pasangan saya banyak dikritik karena saya terlalu mementingkan diri sendiri. Menjalani hidup semaunya sendiri. Tidak bisa berlaku adil. Bahwa kalau saya sudah bersedia berkomitmen bersama, artinya kita harus bisa bersikap adil memanajemen waktu di setiap fungsi dan peran kita. Kritik pasangan saya itu lahir pada setiap kejadian pada saat saya lebih fokus dan meluangkan waktu pada pekerjaan dan teman — yang saya lebih meluangkan waktu untuk begadang dan menghabiskan jatah waktu semalam itu untuk nyangkruk bersama teman.

Sehingga waktu istirahat molor dan bangun kesiangan. Bangun kesiangan itu merupakan akibat yang harus saya terima karena saya kurang adil memanajemen waktu. Maka karena saya bangun kesiangan itu, ketika pasangan saya meminta tolong saya misalnya sekadar menemani bertemu teman lamanya jadi tidak terwujud. Jadinya dia berangkat sendiri dengan sedikit jengkel kepada saya yang mengaku sudah komitmen menjalani hidup bersama, tetapi masih menjalani hidup semaunya sendiri.

Sebenarnya dia hanya ingin saya adil dalam memanajemen waktu. Bukan ingin selalu diperhatikan, tetapi sebisanya kita ada ketika dia membutuhkan. Bodohnya saya selama pengalaman hidup adalah baru sadar ketika ditabrakkan dengan kenyataan hidup yang pahit dan menyakitkan.

Saya baru sadar bahwa saya salah karena berlaku tidak adil terhadap pasangan ketika dia marah dan berusaha menutup pintu komunikasi dari saya. Tujuannya karena supaya saya sadar tidak seenaknya sendiri dalam menjalani hidup. Lha wong saya sendiri yang berjanji menemani dia bertemu teman lamanya, lantaran saya begadang semalaman jadinya bangunnya kesiangan sehingga pada waktunya bertemu, saya masih tidur dan sulit dibangunkan.

Maka kemarahan pasangan karena saya tidak bisa menepati janji disebabkan kurang bisa memanajemen waktu untuk bekerja, teman, istirahat dan untuk pasangan itu saya harus menelan risiko dimarahi pasangan. Pengalaman ini menurut saya berharga untuk dijadikan modal menjalani hidup ke depan. Dia baru bisa berdamai ketika saya sadar betul dan mau belajar dari kesalahan saya dalam memanajemen waktu.

Perkara waktu tidaklah remeh. Karena, menurut Mbah Nun, malas itu dosa, sebab kita sudah menyia-nyiakan berkah waktu hidup dari Allah.

Perihal manajemen waktu ini saya menemukan jawabannya dari serial Akik Maiyah: Mozaik Sejarah Padhangmbulan #2. Pada salah satu momen diskusi itu Mbah Nun menerangkan manajemen waktu: kreasi dan rekreasi. Menurut Mbah Nun selama ini orang memahami bahwa kreasi itu bekerja sedangkan rekreasi itu istirahat termasuk tidur di dalamnya.

Sedangkan menurut Mbah Nun, beliau punya rumus tersendiri tentang kreasi dan rekreasi. Kreasi dan rekreasi menurut Mbah Nun bisa berlangsung setiap waktu. Kita bisa melakukan kreasi misalnya menulis dan ketika capek menulis kita pindah ke aktivitas lain misalnya mengaji. Perpindahan aktivitas dari menulis ke mengaji itu namanya rekreasi. Artinya istirahatnya kita dalam capek menulis itu bisa kita lakukan dengan berpindah ke aktivitas mengaji, istirahat dari capek tidak harus dengan leyeh-leyeh dan tidur. Perihal perpindahan kreasi ke rekreasi supaya bisa melakukan kreasi kembali dengan memindahkan aktivitas satu ke aktivitas yang lain.

Jadi, soal kreasi dan rekreasi sebenanrya tidak membutuhkan modal energi dan waktu yang banyak. Tidak seperti halnya misalnya ketika kita seharian bekerja yang menguras banyak energi, akibatnya semalaman kita membutuhkan waktu istirahat tidur untuk memulihkan energi yang terkuras seharian. Kesalahan memanajemen waktu itu yang bisa saja membuat kita jenuh dan malas ketika mengulangi pekerjaan yang sama.

Nah, ketika saya sudah berada pada titik jenuh mendekati malas ketika melakukan pekerjaan yang sama, yang saya nilai menguras energi tersebut, saya berpikir hal itu bukan karena pekerjaannya yang berat, tetapi saya kurang bisa memanajemen waktu dan aktivitas saya ketika saya sudah merasa capek melakukannya.

Sungguh pemaparan Mbah Nun soal manajemen waktu itu lagi-lagi hadir ibarat air yang sedang mengobati kehausan pengalaman hidup saya. Pertanyaan dan problem hidup saya seakan selalu dibarengi kunci jawabannya. Seperti halnya bersamaan dengan kesulitan ada kemudahan. Bersamaan kesulitan pertanyaan pengalaman hidup yang saya jalani, Allah menghadirkan Mbah Nun untuk menjawabnya dengan penjelasan yang memudahkan.

Soal kreasi dan rekreasi beliau jelaskan dengan mudah dan saya pikir kebanyakan dari kita bisa mempraktikkannya, karena tidak membutuhkan ongkos energi dan biaya yang mahal. Karena kreasi tidak harus bekerja untuk mendapatkan value yang banyak dan rekreasi tidak harus pergi ke suatu tempat yang menjanjikan kegembiraan dan ketenangan untuk kita. Kita bisa melakukan kreasi pada pekerjaan sehari-hari dan rekreasi dengan berpindah ke pekerjaan yang lain. Supaya kita tidak termasuk orang yang menghardik waktu dan berdosa karena malas.

Surabaya, 12 Januari 2022.

Populer