Wisdom of Maiyah (160)

Maiyatullah: Warna-Warni Kebersamaan

Secara bahasa, maiyah artinya kebersamaan. Maiyah sebagai sebuah organisme yang kita sama-sama ketahui ini memang tidak keliru menyebut diri sebagai Maiyah. Melalui tulisan ini, saya ingin memaparkan tiga jenis maiyah. Pertama, maiyatun ammah: kebersamaan dalam artian membersamai, menjaga, serta merawat. Maiyah ammah bersifat umum, likaffatil kholqi yang meliputi alam semesta dan seisinya. Pemaknaan alam sederhananya waktu masih di bangku ibtida’iyah, yaitu; al-alamu huwa ma siwalloh (segala sesuatu selain Allah). Kebersamaan ini tertuang dalam surat Al-hadid ayat 4; [وهو معكم اين ما كنتم], “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”

Kedua, maiyatun khossoh yang bisa diartikan sebagai kebersamaan secara khusus. Kebersamaan ini lebih spesifik karena hanya diperuntukkan kepada orang-orang beriman (maal mukminin) sebab iman Allah memberikan porsi lebih dan menempatkannya di posisi maiyatul qurbi (lebih dekat) sebagaimana termaktub fi suratin An-Nahl ayat 128; [ان الله مع الذين اتقوا والذين هم محسنون], “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kabaikan.” Bertaqwa di sini memiliki berbagai pengertian, tetapi arti yang paling mendasar ialah menjauhi segala larangan Allah dan mengerjakan segala apa yang di perintah-Nya. Interaksi ini hanya dimiliki oleh para mukmin.

Ketiga, maiyatun khossotil khossoh: kebersamaan yang bersifat khusus, pilihan, dan terbatas. Tentu saja kebersamaan ini lebih spesifik karena hanya diberikan kepada insan khusus manusia pilihan yang jumlahnya terhitung (terbatas). Kebersamaan ini secara totalitas diberikan hanya kepada para anbiya (para nabi) dan juga secara khusus kepada salah satu khulafaur rosidin, yakni Sayyidina Abu Bakar yang membuat beliau meraih predikat afdolul ashab. Keistimewaan ini beliau peroleh saat membersamai Baginda Rasulullah di dalam Gua Tsur sebagaimana yang tersulam indah dalam surat At-taubah ayat 40; [لا تحزن إن الله معنا], “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.”

“Jadikan dirimu bersama Allah. Allah akan bersamamu.” Maka, karena itu, kita menghimpun diri dalam organisme Maiyah agar proses bersama-Nya bisa tercapai dan terus berlangsung.

Populer