Maiyah dan Perjalanan Kembali kepada-Nya; Risalah Lelono Broto Komunitas Cahaya

Firdaus, Paradiso, Paradise, dan masih banyak lagi. Semua bahasa peradaban manusia punya kosakata itu. Barangkali itu bukti, bahwasanya semua kita ini aslinya sekampung.

Lap Jepang, Mejobo Kudus, 28 April 2017 (Foto: Adin – Dok Progress).

Ingatan kolektif itu bersemayam di suatu tempat dalam labirintine sistem memori kita, yang terhubung melalui triliunan sel dan miliaran sinaptik secara zhahir (dalam ejaan Proto-Melayu jadi lahir, sebagaimana fardhu menjadi perlu, dan zhuhur menjadi lohor), dan demikian pula dengan kembaran bathin-nya yang barangkali dapat dipetakan dengan istilah yang lain, namun sejatinya tidak jauh berbeda.

Manusia sebagai Jagad Alit memang, among many things, tak lebih dari sebuah jaringan elektromagnetik. Demikian pula Jagad Raya, yang relasi energi-materi serta ruang-waktu-nya begitu elusif, mengecoh, dan menggoda batasan akal para hamba dalam pembacaan mereka atas mayapada. Kesimpulan ini telah dicapai secara intuitif oleh para wicaksana pendahulu kita, jauh sebelum piranti observasi secara teknologis yang dikenal dewasa ini, eksis.

Di Firdaus, sebelum terusir ke dunia fana, Ayah dan Ibu kita diberi segalanya, dan semuanya serba first rate. Adi busana-pun tak tanggung-tanggung, dari cahaya. Kilau pendar anwar itulah yang melindungi aurat keduanya, sampai ketika mereka tergelincir melampaui larangan-Nya, maka padamlah cahaya itu. Sehingga nampaklah auratnya, dan mereka mulai memunguti dedaunan surga untuk menutupi secara swadaya, apa yang semula tertutupi secara swayasa berkat anugerah-Nya, berupa cahaya.

Singkat cerita, Ayahanda dan Ibunda kita-pun terusir dari Firdaus. Tanpa parade, tanpa wisuda purnawira, keduanya harus segera meninggalkan Nirwana. Di pintu Nirwana, Sang Adam mengambil sikap sempurna, balik kanan, dan mengiba kepada-Nya, “Duhai Gusti Ingkang Sinuhun Sang Maha Nata, sesungguhnya kami telah memadamkan cahaya kami….”

Sang Maha Nata kokoh tak bergeming. Kehendak-Nya telah ditetapkan. Firman-Nya telah dituliskan. Telah kering tinta-Nya, dan Sang Pena telah diangkat oleh-Nya. Jagad Alit diperintahkan menuju Jagad Raya yang digdaya.

Busana cahaya bertukar menjadi busana kasar. Hidangan Firdaus bertukar menjadi tepung gilingan. Menanamnya di bawah amukan terik Sang Surya mengubah kulit putih menjadi legam, memanen-nya mengubah tumit mulus menjadi pecah berkerak, dan menggilingnya mengubah telapak yang halus menjadi laksana gerinda.

Radiasi Tata Surya dan gelombang elektromagnetik miliaran kartika menembusi sulbinya, sehingga putra-putranya mulai mengalami mutasi genetik, berubah warna kulit, pigmentasi, susunan syaraf, susunan rangka skeletal, sehingga berubah pula wajah serta watak, dan akhirnya, bahasa, raga, dan rasa mereka. Namun ingatan akan Firdaus tetap diabadikan, dan sejak itulah perjalanan kembali kepada-Nya dimulai. Sebagian berhasil kembali, sebagian lagi entah bagaimana nasibnya nanti.

Para utusan-Nya datang dan pergi silih berganti. Sebagian diterima, sebagian lain ditolak. Sebagian hamba bersimpuh di hadapan mereka, berlinang air mata kerinduan dan akhirnya memperoleh kembali Nur mereka sebagai karunia-Nya. Sebagian lagi, malah menghunus pedang dan tombak, meskipun para utusan itu telah menunjukkan lencana Kenabian mereka.

Tiada yang tahu mengapa mereka harus kalap. Padahal, para para utusan itu hanya mengingatkan mereka, bahwa dunia ini hanya mimpi, dan kasunyatan akan segera berlaku, seketika arwah mereka loncat dari rangka raga ini. Belum tuntas warta gembira dan peringatan disampaikan, tiba-tiba saja hujan panah melesat berhamburan, pedang berdenting, menebas dan berkelebat. Aneh.

Yang jelas, utusan Sang Maha Nata yang dikirim terakhir oleh-Nya, Gusti Kanjeng Nabi Muhammad, berpesan bahwa hidup ini hanyalah persinggahan, dan kembali kepada-Nya adalah kepastian. Sebaik-baik taman persinggahan, adalah majelis tempat dimana para hamba berkumpul, untuk mengingat-Nya. Beliau bahkan menyebut majelis-majelis itu sebagai “taman-taman Firdaus”.

Sendhika dhawuh Gusti Kanjeng Nabi, Mugiya Karaharjan ingkang Ageng saking Gusti Sang Maha Nata sak lajengipun Tansah Dipun Paringaken dumateng Panjenangan, kalihan Sedhanten Trah Ageng-ipun Panjenengan. Aamiin.

Dalam pusaka azhimat Nubuwwah itulah Maiyah hadhir, sebagai salah-satu dari taman-taman Firdaus yang telah dinubuatkan oleh Utusan-Nya. Maiyah adalah pesanggrahan tempat singgah, dimana sang kelana nasib, sang kembara masa, dan sang kelana yudha yang ketakutan, dapat duduk dan rehat sejenak, sebelum kembali melanjutkan perjalanan laku prihatin, menuju-Nya.

Maiyah adalah jaringan di antara Jagad Alit yang masih punya intuisi rindu kepada Gusti Sang Maha Nata, tempat dimana ingatan kolektif dalam diri mereka tentang Sang Maha Kinasih lebur dalam lautan air mata kerinduan, yang mengalir menjadi segara Tirta Amarta, dimana para kawulo lelono yang lelah, letih, remuk dan redam, segar kembali dan menemukan dirinya yang utuh.

Maiyah-pun sebuah jaringan. Bukan jaringan sosial semata, tapi jaringan ruhani, di antara para Jagad Alit tadi, dan akhirnya, jaringan Nurani. Nur. Cahaya.

Maiyah adalah jaringan penyelamat Nurani, di saat dimana dunia sedang dijaring dengan jaring laba-laba pemangsa (bukankah mereka menyebutnya “web”?). Versi terkininya bahkan telah maujud sebagai kembaran (yang mengaku) superior dari diri kita. Sementara kita sendiri, di sisi lain justru telah diubah menjadi budak dari alat-alat ciptaan mereka. Versi sipil-nya bernama IoT (Internet of Things), dan versi bukan sipil-nya bernama Network Centric Warfare.

Dengan alat-alat yang berpikir tapi tak bernyawa itu, mereka memata-matai pikiran manusia sedunia, melalui Global Mass Surveillance. Mata-mata itu dalam salah-satu rumpun bahasa Semitik-Abrahamik-nya adalah Jassasah bukan? Lha nggih. Masih berani bilang Gusti Kanjeng Nabi tidak mengabarkan tentang ini?

Penjajahan ini adalah episode epik tingkat raksasa. Betapa tidak? Kalau dulu, hanya wilayah yang diduduki dan hasil bumi yang dijarah. Kini, akal-pun dikuasai, dan korbannya nyaris tak bisa lagi berpikir secara merdeka. Laa Yakaaduuna Yafqohuuna Qoulaa.

Maiyah adalah mengaji zaman.

Oleh karena itu, Maiyah pun bagaikan Kereta Api Terakhir milik Republik, yang dengan gagah berani menerobos blokade Sekutu dan pembonceng kolonial-nya, sekedar untuk menegaskan bahwa piyantun alit mahardhika yang berjejalan lusuh dengan sarung, terompah, kopiah, dan buntalan kain seadanya di atasnya ini menolak untuk dijajah, karena hanya Sang Maha Nata yang Maha Tunggal ingkang sayektos berhak dan layak disembah.

Maiyah adalah pisowanan kudus yang para hadirinnya selalu pulang dengan kesejukan yang hening. Dengan sisa isak haru tertahan, kedamaian dan ketenteraman menyelinap di sela-sela sulbi mereka. Yaa Ayyatuhannafsul Muthma’innah….

Wahai para jiwa yang tenang….

Di ketenangan yang hening, steril dari hiruk-pikuk dunia inilah sang hamba dapat memilah, mana yang maghdhub dan mana yang dhallin, agar tak keliru memasukinya, sekaligus agar dapat memilih jalan sejati, yang hanya melalui jalan inilah maksud kerinduan hati akan dumadhi.

Dan jajar kehormatan Malaikat yang berbaris shaf demi shaf-pun akan serentak berpadu swara: “Aamiin….”