Wisdom of Maiyah (185)

Lumbung Ilmu

Saya bersyukur mengenal Maiyah, mengikuti sinau bareng melalui streaming Youtube, dan membaca tulisan di caknun.com. Saya juga ikut sinau bareng bersama dulur-dulur Maiyah di Batam. Alhamdulillah kita sudah tiga kali melaksanakan Tawassulan. Semoga bisa istikomah.

Selama mengenal Maiyah dan menggali ilmu dari para marja’ saya menemukan keseimbangan dalam beragama, berpikir, dan berperilaku. Sebelum mengenal Maiyah saya merasa bingung, sering mengandalkan sesuatu dari luar diri saya, misalnya pemahaman tentang Al-Qur’an. Katanya, memahami Al Qur’an harus sesuai pendapat Ustadz A, B, C dan seterusnya. Tadabbur membuat saya merasa lebih dekat dengan Al-Qur’an.

Maiyah adalah lumbung ilmu. Bahkan bisa dikatakan Maiyah adalah semesta ilmu. Siapa pun disilakan memetiknya asalkan output-nya menjadikan diri kita lebih baik dan dekat dengan Allah Swt.

Semesta ilmu Maiyah tidak melulu membahas persoalan agama. Semua adalah ilmu. Yang selama ini dianggap bukan ilmu agama kalau ditelusuri asal-usul dan hulu-hilirnya dikandung oleh agama dan kembali kepada Tuhan.

Agama bukan secuil mata pelajaran sebagaimana dikenal di sekolah. Agama bukan objek melainkan cara pandang dan sikap pandang ketika belajar Biologi, Fisika, Matematika dan sebagainya.

Yang tidak kalah penting adalah Maiyah memandu kita bagaimana menjadi diri sendiri, menemukan fadlilah, serta mengoptimalkannya untuk kemanfaatan serta kemaslahatan bersama.