Kado Mars Maiyah

Saat dokter menanyakan ke saya, “Istrinya mau dioperasi kapan Mas, tanggal 17 atau 18?”. Tanpa pikir panjang saya mantap menjawab, “InsyaAllah 17 dok”, sambil mengarahkan pandangan saya ke istri, dan ia pun mengangguk pelan tanda setuju. Agree. Kenapa memilih tanggal 17? Alasannya sederhana. Titenane gampang. 17 merupakan tanggal digelarnya forum rutin pitulasan Mocopat Syafaat, di Kasihan. Hari rayanya Jamaah Maiyah Nusantara. Harapannya, setiap jumpa tanggal 17, kami ingat Mocopat Syafaat, sekaligus ingat momen kelahiran anak. Atau sebaliknya. Sesederhana itu. Dan tanggal 17 Juli 2022 lalu, anak kedua kami tepat berusia 1 tahun.

Mocopat Syafaat 17 Juli 2022. Foto: Adin (Dok. Progress).

Sayang, sudah dua tahun lamanya saya tidak menginjakkan kaki di Tamantirto. Tidak menikmati nasi angkringan sembari ngobrol ringan dengan bapak-bapak KiaiKanjeng. Tidak menyeruput kopi hitam gelas plastik dari penjual kopi keliling. Tidak bercengkrama dan bershalawat bareng dengan rekan jamaah. Tidak bisa membeli buku dan peci untuk menambah koleksi. Dan tentu saja tidak dapat bersalim salaman, memeluk, serta mereguk cairan ilmu dari Mbah Nun secara langsung. Tak mau kecewa, satu-satunya cara untuk ikut Sinau Bareng yakni dengan maiyahan secara virtual. Tak masalah.

Pada forum pitulasan #MSJuli kemarin, KiaiKanjeng menyuguhkan sesuatu yang baru. Mas Imam Fatawi memperkenalkan cum mengajak seluruh jamaah untuk menyanyikan Mars Maiyah. Setelah perjalanan panjang selama kurun 30 tahun (mengacu lahirnya Padhangmbulan), akhirnya Majelis Maiyah mencetuskan Mars Maiyah. Uniknya, baru dengar sekali saja, lagu tersebut langsung nancep di telinga. Enak didengar, asik dinyanyikan. Apalagi dibawakan bersama-sama. Berikut lirik lagunya.

Benderang cahaya Maiyah kita
Memancarlah berkah, Nur Muhammad-Nya
Betapa terang, dan bahagia
Keluarga, dan masyarakatnya
Cerah merdeka serasa pyar pyar pyar pyar pyar/ jos jos jos jos jos
Subhanallah walhamdulillah walailaha ilallah walluahu akbar, wallahu akbar

Sampai hari ini, entah kenapa secara refleks saya masih terus menyanyikan Mars tersebut. Saat menulis, saat megendarai motor, saat nggendhong anak, saat rajang-rajang brambang, dan dalam kondisi apapun, sadar atau tidak sadar. Rasanya enak aja untuk menyanyikannya.

Sebagai orang yang gemar dengan karya tulis sastra, saya cukup yakin jikalau Mbah Nun yang menulis lirik Mars Maiyah. Kenapa? Karena lirik Mars tersebut sangat sastrawi (bernuansa puisi). Kita tahu Mbah Nun amat lihai meramu dan merangkai kata. Di situ paling tidak ada tiga unsur sastra yang menyertainya. Pertama, kata dan frasa yang dipilih sangat pas secara artikulasi dan intonasi. Sehingga nyaman untuk dilafalkan atau dinyanyikan. Seperti frasa “benderang cahaya”, dan “memancarlah berkah”.

Kedua, 4 baris kalimat Mars tersebut memiliki rima yang sama, yakni bunyi akhiran a. A pada ‘kita’, ‘Muhammad-Nya’, ‘bahagia’, dan ‘masyarakatnya’. Yang ketiga, selain intonasi antar kata yang pas, dan berima sama, kata-kata yang dipilih juga mentes. Artinya per kata memiliki bobot makna masing-masing. Seperti kata pyar, yang diulang sampai 5 kali. (Kata pyar ini istilah Jawa. Tidak ada padanan yang persis dalam bahasa Indonesia. Pyar bisa bermaksud segar, plong, terbuka, gembira, dan sejenisnya). Lirik yang puitik dipadu musik KiaiKanjeng yang ciamik, membuat Mars Maiyah terasa epik. Kian sempurna di bagian akhir lagu dilengkapi dengan kalimat thayyibah (mulia).

Pada akhirnya, kita tahu sebuah lagu/mars sarat muatan makna. Bisa bermakna doa, harapan, puji-pujian, hingga luapan rasa syukur. Dan Mars Maiyah merangkum, serta mengajarkan itu. Rasanya lagu Mars Maiyah ini menjadi kado indah untuk ulang tahun anak saya. Ah, tepatnya hadiah bagi kita semua. Mari bernyanyi, bersyukur, bergembira.

Gemolong, 22-7-2022