Jurus Tadabbur

Sirrul Ilmi al-Lathif fi Maiyah

Dengan sikap pandangan hati waspada, sigap siaga serta tegak lurus, guna menyikapi setiap fenomena yang ada di depan atau di sekeliling kita untuk tidak gegabah mengambil tindakan ataupun keputusan. Seperti itulah “Jurus”.

Foto: Hariadi.

Menyederhanakan maksud yang terdapat di dalam harfiyah ataupun kauniyah dengan perlengkapan ilmu pengetahuan yang ada, agar menghasilkan output yang baik benar dan indah, hingga mudah dimengerti oleh khalayak banyak orang, baik awam sampai ilmuwan. Itulah “Tadabbur”.

Lalu kenapa harus menghasilkan output yang “baik benar dan indah”, berulang ulang kali kalimat tersebut disampaikan Mbah Nun saat Sinau Bareng. Memang kalimat itu tampak seperti hal yang sederhana, disebut syariat, tapi terdapat isi makna hakikat, dibilang thoriqoh kok terdapat sifat ma’rifat. Wes mbuh reek once’ono dewe-dewe.

Jika kita menyuguhkan sesuatu kepada orang lain atau siapapun hendaknya tentukan dulu agar suguhan itu memenuhi tiga poin tadi, sebab ketiganya saling berkaitan serta melengkapi. Sangat tidak cocok jika hanya menggunakan baik saja, namun juga dilengkapi dengan benar, keduanya itu tentu disinergikan dengan indah. Sehingga jika tiga mutiara itu kita jadikan pegangan hidup (jimat) insyaAllah dimanapun kita berada dengan siapapun kita bergaul tidak akan menjadi masalah bagi lingkup di sekitarnya.

Sungguh sangat berguna jika dalam keseharian kita menjalankanJurus Tadabbur yang seringkali melenturkan kekakuan hati yang penuh dengan takabur, sombong, congkak, dengki dan masih banyak lagi penyakit hati yang insyaAlah perlahan-lahan sifat buruk akan berubah menjadi baik, sebab Tadabbur sangat membantu melatih perilaku hidup manusia dengan sederhana namun penuh tepat guna.

Tak heran kalau masyarakat Maiyah setiap hari sibuk bertarung dengan dirinya sendiri, sibuk menjinakkan ke-aku-annya bahkan sebagian besar di antara mereka hampir tidak sempat mengurus kesalahan orang lain, karena mereka paham mengalahkan diri sendiri lebih berguna daripada mengalahkan apapun dan siapapun. Mereka menemukan apa itu mengalah, kenapa tak ingin menang di atas kekalahan lain orang, kenapa, mengapa, untuk apa, terus dan terus bertanya. kemauan untuk belajar tentang hidup yang hakiki membuat mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk rajin sinau berbenah diri dengan sungguh sungguh.

Dengan bekal tadabbur itulah mereka benar-benar muthola’ah, sebelum melakukan apapun ia pertimbangkan segala sesuatunya, menimbulkan manfaat atau tidak, Allah berkenan atau tidak. Sekecil apapun itu ia telaah dengan rinci dan hati hati, dari perihal mahdoh sampai muamalah pun mereka tetap waspada.

Sebagaimana Mbah Nun dawuhkan saat Sinau Bareng di Banjarnegara, “Jangan sampai Allah tidak senang dengan apa-apa yang kita lakukan. Jangan terjatuh ke suatu tempat yang bukan shirothol mustaqim atau Shirothun Nubuwwah”.

Di situ terdapat penjelasan informasi menarik, bagaimana menyajikan kebaikan namun membahagiakan manusia, bahkan Tuhan pun turut bahagia.

Lanjut sedikit mengurai tentang lanjutan tulisan kemarin (Galaksi Maiyah Password 287) sebagaimana perihal Galaksi Maiyah telah kami tulis walaupun sebenarnya tidak akan pernah habis untuk menuangkan serta menjaring secara Global luasnya Galaksi Maiyah, mengingat keterbatasan pengetahuan kami yang masih sangat jauh dari jangkauan pusaran energi Galaksi-galaksi yang takkan pernah habis untuk dicatat, namun setidaknya dari yang sedikit itu semoga menjadi gambaran bahwa Maiyah bukan ciptaan manusia, namun Fadhol dari Allah untuk semua manusia yang menggunakan hati dan pikiran secara holistik.

Sinau dari alamat Rumah Maiyah yang berada di Jl. Wates Gg. Barokah No. 287, Kadipiro, Yogyakarta. Di situ sepertinya Allah memberikan sebuah isyaroh (petunjuk atau penghubung) kepada jamaah tentang Syariat, Thoriqoh, Hakikat hingga Ma’rifat. Dalam alamat itu terdapat pengetahuan tentang Batas “Wates” agar kita semua mengerti batas, tahu diri, tidak ngawur dalam segala hal, kalau bahasanya Mbah Nun “waspada” tidak sembrono. Kalau manusia mengerti keterbatasan dirinya, niscaya tidak akan melampaui batas.

InsyaAllah kalau menyadari keterbatasan diri akan segera datang “Barokah” dari-Nya, Barokah itu awet, walaupun sedikit asalkan barokah, terasa nyaman dalam hati, damai dalam keluarga, tenteram sampai “Nyepsep” dalam jiwa raga. InsyaAllah.

Monggo dibaca dengan niat Sinau ngalap barokah dalam Maiyah.

Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat ke-2, Al-Qur’an Surat Al-Anfal ayat ke-8, Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat ke-7.

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ

“Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.”

فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ ۖ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ

“Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).”

Di setiap akhir ayat itu terdapat “Huruf Nun”. Nun yang pertama adalah Nurul iman, Nun yang kedua adalah Nurul ihsan, Nun yang ketiga adalah Nurul Islam. Semoga iman kita selalu dijaga oleh Allah. Hati kita dibersihkan dari kotoran yang membuat kita jauh dari Allah dan Rasulullah. Agar kita semua saling menjaga kerukunan dalam beragama, kita semua tahu bahwa Islam adalah Rahmatan Lil alamiin.

Hanya dengan ketulusan hati, serta mentadabburi, kita bisa melihat segala ciptaan Tuhan tidak ada yang sia-sia, semua penuh makna untuk kita jadikan pegangan hidup, agar lebih jernih menyikapi persoalan apapun saja dengan tetap berlindung kepada Allah serta Gondelan Syafaat Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Laa nabiyya ba’dahu.